
"Bi Asih, titip Kaila ya" Senja menyerahkan uang sebanyak 15 juta didalam amplop, Sebagai istri Aby Senja memang mengelolah dana bulanan dari Aby yang jumlahnya lumayan banyak, ditambah lagi uang jajan yang tak pernah telat dikirim Aby kerekeningnya, Bahkan setelah menikah Baruna juga masih memberinya jajan setiap bulan.
"Non, ini banyak sekali, gak perlu seperti ini saya ikhlas kok menjaga Kaila" Bi Asih kembali mendorong Amplop dari Senja, meski jumlahnya setara dengan 3 bulan gajinya namun Bi Asih keberatan memakainya, selama ini keluarga Baruna dan Aby sudah terlalu baik padanya, jika hanya diminta menjaga Kaila selama beberapa hari sampai Aby pulang ke kota kedua orang tuanya itu bukan masalah.
"Tapi Bi aku ikhlas, tolong terima ya aku tidak akan tenang diperjalanan jika bi Asih menolaknya" Senja sedikit memaksa dengan memasukkan Amplop itu kedalam saku daster Bi Asih.
"Baiklah Non" Bi Asih bingung harus bersikap bahagia atau sedih, Ia tentu bahagia dapat rejeki nomplok namun ia sedih melihat Senja sudah siap dengan koper kecilnya, ia tahu Aby sangat mencintai istrinya itu ia menempatkan keselamatan Senja diatas segala galanya, Aby tak mungkin membiarkan Senja pulang sendiri, Sesuatu pasti sudah terjadi dalam rumah tangga mereka, meski Senja tak berkata apa apa padanya.
Senja diantarkan pak Ahmad ke Bandara, ia akan pulang ke kotanya dan akan transit terlebih dahulu di Bandara Sultan Hasanuddin sebelum akhirnya tiba di Bandara Sangiani Bandera.
.
.
.
Rini berjalan mondar mandir gelisah didalam ruangannya, tak lupa ponselnya terus menempel ditelinga kanannya, menghubungi Aby yang tak pernah menjawab panggilannya.
Mungkin Aby ada jadwal operasi, tapi Rini tak berputus asa ia terus mencoba, Aby harus mencegah senja yang ingin pulang seorang diri. Rini juga sudah menyiapkan kata umpatan untuk putranya itu, Rini mengenal Senja dengan Baik anak itu tidak keras kepala apalagi keras hati. Jika Aby tidak melakukan Kesalahan mana mungkin Senja memutùskan pulang tanpa sepengetahuan Aby, itu yang dikatakan Bi Asih Saat Ia menelpon Bi Asih, jika Senja sudah berangkat ke Bandara tanpa bisa ia cegah.
Rini juga sudah menghubungi Risya namun sayangnya sahabat putranya itu tengah berlibur bersama keluarganya di Lombok.
Rini tak mau sampai Baruna tahu masalah ini atau Aby akan berada dalam masalah besar.
Sementara itu Pesawat Senja sudah tiba di Makassar, jadwal penerbangan selanjutnya adalah 2 jam Lagi, Senja menunggu diruang tunggu sambil membuka ponselnya yang masih mode pesawat ia sengaja karena tak ingin menerima pesan apapun.
Senja melihat beberapa koleksi foto didalam galerynya, setelah membuka slide demi slide foto Kaila kini tiba beberapa potret yang ia jepret di Panti Asuhan, Dada Senja tiba tiba terasa sesak.
Ia tidak melupakannya!
Pria itu tak pernah pergi dalam ingatan Senja seharipun!
'Kak Nata' Gumam Senja dalam hati, Senja menzoom gambar Nata yang Asyik bermain bersama Anak anak panti lainnya. Senja berharap dimanapun Nata berada ia selalu diberi kesehatan dan usia yang panjang.
Air mata Senja menetes begitu saja, ia juga tak tahu mengapa rasanya begitu perih kali ini, pria yang dikenalnya tidak lama itu nyatanya mampu memiliki tempat tersendiri dihati Senja namun tidak sampai pada tempat dimana Senja meletakkan nama Aby. Aby masih segalanya meski Senja tengah marah pada suaminya itu.
Senja mendongak menatap langit langit Bandara untuk menghentikan air matanya. Dan tidak sengaja ia membuka potret yang berasal dari Emailnya, Sebuah sekolah terapung dengan kumpulan anak anak berseragam kumal.
"Oh....aku tahu ini" Seorang wanita muda yang mungkin seusia Senja mencuri pandang kearah layar ponsel Senja dipangkuannya.
Senja baru sadar jika ternyata ada seseorang disampingnya.
"Eh..maaf" Wanita muda itu meminta maaf saat Senja menatapnya sambil tersenyum simpul. mata Senja masih memerah.
"Ah tidak apa apa, aku hanya teringat seseorang"
"Suaminya ya mbak?" tebak wanita sok kenal itu.
Senja hanya memgangguk penuh dusta dan rasa bersalah, bisa bisanya ia menangisi seorang pria selain suaminya.
__ADS_1
"Ini" Senja melihat kembali layar ponselnya, ia sempat menyimak perkataan wanita tadi jika ia tahu tempat yang ia maksud.
"Anda tahu tempat ini? Bukankah berada di sulawesi bagian tengah?"
"Ah bukan! Itu masih area selatan, Aku baru kesana minggu lalu untuk memberikan vaksin kepada anak anak disana" Wanita itu sebelumnya memperkenalkan dirinya sebagai seorang petugas medis disalah satu pusat kesehatan masyarakat.
"Jika ingin kesana anda hanya perlu naik taxi ke Daerah Xx lalu selanjutnya di daerah pelelangan ikan akan banyak kapal Nelayan yang berasal dari pulau itu, satu satunya transportasi untuk kesana hanya kapal nelayan"
Entah mengapa penjelasan wanita dihadapan Senja begitu masuk kedalam akal fikirannya bahkan merasuk kedalam relung hatinya yang terdalam.
Ia akan melakukan hal gila jika berfikir seperti itu!
Atau mungkin hal itu bisa memberikan pelajaran untuk Aby yang sudah mengabaikan keinginannya.
Namun Senja memang benar benar sudah gila, fikirannya mencegahnya dengan berbagai cara.
Baruna dan Rini akan khawatir karena kondisinya yang tengah mengandung.
Akan banyak orang yang kerepotan mencarinya.
Senja tak pernah berontak sebelumnya, ini yang pertama kalinya.
Dan kini disinilah Senja membawa Raganya yang seakan tidak sinkron dengan isi kepalanya.
Hari yang mulai gelap membuat Senja tak punya pilihan. Ia sudah memantapkan hati meski fikirannya masih berkecamuk.
Tak ada perahu besar, hanya sebuah sampan kayu dengan mesin diujungnya.
Yah, Senja juga berbicara seperti itu di Daerah tenggara.
"Iye mau" Jawab Senja ia lalu melangkahkan kakinya dan koper kecilnya keatas sampan.
Senja berdarah jawa begitupun dengan Baruna dan Rini, hanya saja ia lahir dan besar di Pulau yang terkenal dengan tambang Nikelnya itu.
Sepanjang perjalanan Senja hanya bisa melihat kegelapan yang seakan menyelimuti semua permukaan Bumi, hanya sebuah lentera minyak tanah yang menyinari sekitar sampan, bahkan bulan pun masih malu memberikan cahayanya.
Senja kembali menoleh kebelakang mengamati titik titik cahaya yang semakin mengecil menandakan jika ia sudah semakin Jauh meninggalkam pusat keramaian.
Menyesal? Senja pun tak tahu, ia juga bingung dengan dirinya Sendiri, Apa sebenarnya yang ia cari sampai mendatangi pulau itu.
Mengajar?
Tidak! Senja sama sekali tak membawa surat rekomendasi dari kampusnya.
Wanita hamil yang masih berusia 19 tahun itu masih bergelut dengan fikirannya ketika Sampan yang ia tumpangi sudah bersandar pada hamparan pasir. Hati Senja berdesir Aneh ketika kakinya menapak di pulau tanpa Cahaya itu. Yah Senja bisa melihat tak ada aliran listrik disini. Entah Senja merasa seseorang seperti tengah menunggunya disini.
Anak anak kah?
"Mbak ini mau Kemana sebenarnya?" Tanya bapak sang pemilik Sampan.
__ADS_1
Senja sempat terdiam, sebelum akhirnya menjawab.
"Apa ada rumah yang bisa saya tempati?" Tanyanya sambil menyerahkan uang sebanyak 200 ribu.
"Eh ini banyak Sekali"
"Tidak Apa pak, tidak usah dikembalikan" ucap Senja saat melihat bapak pemilik sampan menyodorkan kembali uang yang diberikan Senja.
"Terima kasih kalau begitu"
"Mbak bisa tinggal di Rumah kepala Sekolah, semua orang baru yang datang biasanya tinggal disana" ujar sang bapak.
Mereka lalu berjalan melewati jejeran Nyiur yang seakan menyatu dengan kegelapan, persis seperti yang dilihat Senja dalam potretnya. Hingga akhirnya Senja tiba disebuah rumah panggung Sederhana beratapkan Daun kelapa yang dianyam.
Bapak itu Naik duluan keatas rumah sementara Senja menunggu dibawah dengan bingung.
Sepi, sunyi, hanya terdengar hewan hewan malam yang saling bersahutan, itu yang dirasakan Senja namun anehnya ia sama sekali tak takut.
Tak lama suara beberapa telapak kaki terdengar menuruni anak tangga.
"Ini buk orangnya" Bapak pemilik Sampan memperkenalkan Senja.
Wanita bertubuh pendek dan gemuk itu mengamati Senja dengan sebuah senter yang menempel dikepalanya.
"Senja Anindita?"
Senja yang menutup mata menghindari silau dari cahaya Senter dihadapannya kemudian tercengang.
Senja Anindita? Ia mengulang nama yang disebut wanita paruh baya dihadapannya. Yang merupakan namanya Sendiri.
Bagaimana bisa ada yang mengenalnya di Pulau terpencil ini?.
.
.
.
"Brengsek!!!!" Aby memukul tembok dengan kepalang tangannya begitu kembali ke Apartemennya.
Nama Senja tercatat jika ia terbang menuju Makassar, namun hanya sebatas itu, Senja tak menyelesaikan penerbangannya. Senja tertinggal oleh pesawatnya saat tengah transit.
Dengan tangan bergetar Aby kembali meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Melakukan panggilan ke nomor ponsel Senja yang tidak pernah aktif sejak tadi.
Aby kemudian membanting ponselnya diatas kasur lalu duduk ditepi ranjang dengan kedua tangan menopang kepalanya.
Aby menangis, " Senja dimana kamu" Ujarnya Pilu, Aby sadar hal yang membuat istrinya itu pergi setelah membaca pesan Laras dan menghubungkannya dengan pertanyaan Senja mengenai Rumah di Bogor.
"Tidak Senja, itu bukan mas, aku tidak mungkin melakukan hal yang akan kembali melukaimu" Racau Aby.
__ADS_1
Dengan entengnya Laras meminta maaf sudah salah paham terhadap Aby, ia fikir Aby yang mengirimkan Sertifikat rumah atas namanya beserta alamat rumah tersebut. Namun ternyata itu adalah Mantan suaminya yang berencana merujuknya.