
"Benar benar Sial" Gerutu Laras sambil mempersiapkan dirinya gegas ke Rumah sakit. Hari ini ia ada jadwal Kuretase yang yang harus ia lakukan dan siangnya ia akan ke kampus untuk mengurus sesuatu.
Niat hati hanya ingin minum sedikit untuk menenangkan fikiran karena melihat kiss mark di leher Senja namun ia malah mabuk, padahal dulu ia peminum yang sangat ulung sebelum bertemu Aby, semalam adalah yang pertama Kali Laras mabuk setelah hampir 10 tahun tidak mencicipinya.
Mungkin pengaruh lelah tubuh dan pikiran sehingga Laras langsung Ambruk, mana ia tak tahu siapa yang membawanya pulang semalam.
"Anda sudah baikan Dok?"Laras menoleh dan mendapati seorang pria berbicara kepadanya. Yah itu ditujukan untuknya karena tak ada orang lain di lift ini selain mereka berdua.
"Kau berbicara padaku?" Laras menunjuk dadanya sambil mengamati wajah tampan pria muda dihadapannya. Ia merasa tak asing dengan paras itu.
"Sepertinya Dokter baik baik saja, maaf saya hendak keluar" Ujar Nata menjawab sendiri pertanyaannya. Namun saat kakinya melangkah semakin menjauh ia mendengar deru langkah mengejarnya dari belakang.
Nata memang ada jadwal pemeriksaan di Poly bedah umum hari ini.
"Tunggu! Kau Bartender Midnight club? "Samar samar Laras bisa mengingat wajah tampan yang menuangkannya beberapa gelas Bir tadi tadi malam.
Laras mengajak Nata berbincang sebentar di pojok koridor, ia ingin mencari tahu bagaimana dirinya semalam bisa pulang dalam keadaan selamat dan tak kurang satu apapun, Ia bahkan mendapati dirinya terbangun di atas tempat tidurnya dengan diselimuti bedcover.
__ADS_1
Tak ada yang disembunyikan Nata dengan kejadian semalam ia menceritakan jika ia menghubungi Aby karena pernah melihat mereka berpelukan dan kebetulan Nata mengenal Aby. Satu hal yang tak dikatakan Nata adalah prihal ia mengenal Senja dan juga Kaila.
setelah mendapat penjelasan Dari Nata, Laras merasa berada diatas angin, ia yakin Aby belum benar benar melupakan hubungan mereka terbukti pria itu masih peduli dan Laras Yakin Senja tak tahu akan hal tersebut.
.
.
.
"Keputusan kali ini tak bisa dibatalkan lagi, apa kau tahu sangat sulit untuk mendapatkan jadwal operasi dengan ku" Aku Aby, yah ia memang tak pernah gagal dalam Operasinya sehingga namanya lumayan dipertimbangkan dalam dunia bedah, Aby bahkan melakukan operasi usus buntu pertamanya saat ia masih ditahun pertama sebagai Residen.
"Aku senang mendengarnya, sepertinya hubunganmu dengannya semakin membaik" Tebak Aby sembari tertawa kecil.
Nata menggeleng" Justru sebaliknya, gadis itu lebih memilih suaminya, ia bahkan memutuskan hubungan pertemanan kami"
Aby yang tadi bersiap menuliskan sebuah resep diatas secarik kertas kembali mendongak sambil mendorong kacamatanya dengan telunjuk, ia fikir hubungan keduanya sudah sampai tahap saling menyukai nyatanya pria yang duduk dihadapannya ini tengah jatuh cinta sendiri.
__ADS_1
"Apa dokter sedang mengasihaniku?"Tanya Nata, ia tersenyum smirk.
"Apa kau akan melepasnya?" Entah mengapa Aby penasaran dengan kehidupan pribadi pasiennya yang satu ini.
"Apa aku terlihat mudah menyerah dokter?"
"Kurasa tidak".
"Aku masih akan menunggunya, namun aku tak berfikir untuk menghancurkan kebahagiaan wanita yang aku cintai, aku akan mendukung setiap keputusannya"
"Meski pada akhirnya ia tak memilihmu?"
Nata mengangguk mantap.
"Kata orang puncak tertinggi dari mencintai adalah ikhlas, tapi itu adalah tindakan pengecut, ikhlas artinya tak melakukan apa apa. Bagiku puncak tertinggi mencintai adalah menunggu dan aku akan melakukannya"
"Menunggu dia beecerai"
__ADS_1
"Menunggu Suaminya lebih memilih selingkuhannya dari pada istri sahnya" Sebuah senyum smirk tersungging di wajah Nata.
Kata kata terakhir Nata sampai membuat Aby tak bisa mengatupkan rahangnya. Iagi lagi saat berhadapan dengan Nata ia teringat Senja. Untungnya ia sudah memilih pilihan yang tepat, yakni meninggalkan Laras dan memilih istri Sahnya.