BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 24


__ADS_3

"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Arya penasaran


"Aku takut pulang sendirian?" jawab Gita


"Kenapa takut, kau tidak perlu takut mulai sekarang. Sebagai istri Pangeran Gondoruwo, tidak akan ada makhluk gaib yang berani menyentuh mu," jawab Arya


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Gita


"Tanda di tanganmu sudah membuktikan kalau kamu adalah permaisuri Pangeran kegelapan," jawab Arya enteng


Gita kemudian melihat pergelangan tangannya, wanita itu baru menyadari jika ada tanda bunga di pergelangan tangannya.


"Jika semua lelembut tak berani mendekati ku, tapi bagaimana Erwin bisa menyerang ku, dan semalam juga ada makhluk halus yang menyerang ku, berarti tidak semua lelembut takut dengan Barra bukan?" jawab Gita balik bertanya kepadanya


"Itu karena yang menyerang mu bukan makhluk gaib, tapi manusia," jawab Arya membuat Gita semakin ketakutan dan menggandeng lengan pemuda itu erat


Arya langsung menepis lengan Gita dan memintanya menjauh darinya.


"Jangan pernah menyentuh ku, ini adalah area terlarang!" seru Arya kembali berjalan menyusuri jalanan yang mulai gelap


"Kau pasti sangat jijik padaku makanya tak mengijinkan aku menyentuh lenganmu," ucap Gita sedikit kesal saat mendapati penolakan Arya


"Jangan suudzon dulu, aku melarang mu menyentuh ku karena aku tidak mau menakuti mu," jawab Arya kemudian menunjukkan lengannya yang dipenuhi jarum santet hingga telapak tangannya


Tentu saja Gita langsung merinding saat melihat lengan Arya.


"Kenapa lenganmu harus dipasang jarum seperti itu, apa kamu pasang susuk ya biar ganteng atau biar sakti?" tanya Gita mengernyitkan keningnya


"Serah lo mau ngomong apa, yang jelas pantangan bagi gue itu cuma satu, gak boleh di sentuh sama lawan jenis," jawab Arya


"Emang kenapa?"


"Takut mereka pada jatuh cinta sama gue," bisik Arya membuat Gita langsung menjauh darinya


Lelaki itu terkekeh melihat ekspresi Gita yang langsung memasang wajah jutek.


"Gak usah jutek-jutek gitu, sans aja kalau sama aku," ucap Asep kemudian segera menghentikan langkahnya


"Akhirnya sampe juga," ucapnya kemudian mempersilakan Gita masuk ke rumahnya


"Perasaan rumah ku sama Erwin itu jauh deh, kenapa jadi cepet banget sampe, jadi berasa deket," ucap Gita tak percaya ia sudah tiba di rumahnya


"Jauh dimata dekat di hati eeaaaa," goda Arya


"Dih apaan sih!" cibir Gita

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok, sorry just joke," jawab Arya kemudian pamit pulang


Gita terus mengamati pemuda itu yang berjalan perlahan namun cepat sekali menghilang dari pandangannya.


"Sebenarnya di manusia atau demit, cepat sekali jalannya," ucap Gita kemudian segera masuk ke dalam rumahnya.


************


Pagi harinya Suryati sengaja mengajak Gita ke pondok pesantren untuk menghadiri acara maulid nabi.


"Aku gak mau ikut ah bu, males!" tolak Gita


"Ish, gak boleh gitu, gimana kamu mau cepat dapat jodoh kalau gak pernah membaur dengan orang-orang. Walaupun kau tidak suka mendengarkan acara tausiahnya, setidaknya kamu kan bisa bantu-bantu di sana. Itung-itung sebagai balas budi karena Kyai Sodiq sudah sering menyelamatkan dirimu," ucap Suryati


"Iya deh iya!" Gita segera melemparkan selimutnya dan bergegas menuju ke kamar mandi


Selesai mandi ia segera berganti pakaian dan memoleskan bedak tipis ke wajahnya, ia juga tak lupa memulas bibirnya dengan lip tint agar tidak terlihat pucat.


"Cantiknya istriku, memangnya kamu kamu kemana?"


Tiba-tiba Gita segera menoleh ke belakang saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Barra!!" ia begitu terkejut saat melihat sosok pria yang begitu ia rindukan muncul dihadapannya


"Bagaimana kamu bisa hidup lagi?" tanya Gita


"Meringankan hukuman mu, jadi ucapan pemuda itu benar??" ucap Gita segera melepaskan Barra


"Memangnya kenapa kamu di hukum, dan siapa yang menghukum mu?" tanya Gita


"Itu tidak penting, yang jelas sekarang aku berusaha untuk menyelesaikan hukuman ku agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Kau tahu aku sangat merindukanmu," ucap Barra kembali memeluknya


"Aku juga merindukan mu," ucap Gita membuat Barra tersentak kaget dan melepaskan pelukannya


"Apa aku tidak salah dengar?" ucapnya menatap lekat wajah wanita cantik didepannya


"Tentu saja tidak, aku memang benar-benar merindukan mu, maafkan aku jika selama ini aku bersikap jahat padamu. Aku begitu takut saat melihat mu menghilang dari pandangan ku, aku kira kita tidak akan bertemu lagi selamanya, tapi hari ini aku bahagia karena bisa bertemu denganmu lagi" ucap Gita


Melihat kesedihan Gita membuat Barra langsung mengecup bibir wanita itu untuk memenangkannya.


Meskipun hanya sebuah kecupan singkat namun kecupan itu mampu membuat gadis merasakan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Melihat Gita yang begitu menikmati ciumannya membuat Barra semakin memperdalam ciumannya hingga membawa gadis itu terbang ke nirwana.


Walaupun ia hanya sebuah ciuman singkat namun itu sudah mampu mengobati kerinduan Gita padanya.

__ADS_1


"Maaf sayang aku harus pergi," ucap Barra kemudian menghilang dari hadapan Gita.


Wanita itu terus memegangi bibirnya yang masih basah, "Kenapa aku begitu senang setelah bertemu dengannya, apa aku sudah gila. Kenapa aku begitu senang setelah berciuman dengan makhluk halus, astaghfirullah Gita, sadar... meskipun dia adalah suamimu, tapi pernikahan kalian hanya pernikahan kontrak untuk membalas dendam kepada Erwin, pernikahan kalian akan segera berakhir saat Barra mendapatkan apa yang diinginkannya darimu," ucap Gita berusaha mengingatkan janji pernikahannya dengan Barra


Ia berusaha menahan perasaannya yang mulai menyukai makhluk itu.


"Kamu kenapa melamun Git?" tanya Suryati mengagetkan gadis itu


"Ah tidak, aku hanya memastikan riasan ku tak belepotan," jawab Gita


"Udah cantik kok nak, yaudah ayo cepat berangkat," ajak Suryati segera bergegas keluar dari kamar Gita.


Setibanya di pondok pesantren, puluhan jamaah sudah duduk rapi di depan masjid Agung Darussalam.


Suryati segera mengajak Gita menuju ke rumah Kyai Sodiq untuk memberikan kudapan yang dibawanya.


"Maaf Nyai, hanya jajanan pasar, semoga acaranya lancar ya," ucap Suryati


"Aamiin, terimakasih Sur, semoga rezeki mu juga makin lancar ya," jawab Nyai Halimah


"Aamiin, oh ya maaf kali ini saya gak bisa bantu-bantu di dapur, biar Gita aja yang wakilin. Saya mau fokus dengerin tausiyah aja Nyai,"


"Iya Sur, silakan,"


"Idih, Ibu nyari enak aja!" cibir Gita


"Sekali-kali Git, sekalian lo belajar jadi mantunya Nyai Halimah," jawab Suryati meninggalkan putrinya di kediaman Kyai Sodiq


Meskipun sedikit canggung, namun Gita berusaha menyesuaikan diri dengan Nyai Halimah dan santriwati yang bertugas menyiapkan makanan untuk acara maulid.


"Ada yang bisa saya bantu Nyai?" tanya Gita


"Tolong antarkan kue-kue ini ke meja paling depan," jawab Nyai Halimah


Gita mengangguk dan membawa baki berisi jajanan itu ke depan Masjid bersama santriwati lainnya.


Saat ia melewati asrama putra, ia melihat Arya sedang berbicara sendiri di depan kamarnya.


"Dasar aneh, kenapa makhluk sepertinya bisa ada di pondok pesantren ini?" celetuk Gita


Karena terlalu fokus memperhatikan Arya membuat ia tergelincir saat menuruni anak anak tangga.


"Huaaa!!"


Saat gadis itu hilang keseimbangan tiba-tiba, sesosok pemuda langsung menariknya kedalam pelukannya.

__ADS_1


Gita tak berkedip menatap lelaki di hadapannya yang menangkap satu persatu jajanan pasar yang berjatuhan karena kecerobohannya.


"Jangan memandangi ku terlalu lama, awas nanti jatuh cinta!" seru Arya kemudian melepaskan wanita itu


__ADS_2