BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Bab 60


__ADS_3

"Kenapa kamu gak tidur?" tanya Zack lagi


"Aku gerah Mas,"


Zack memperhatikan seisi kamar itu.


"Mungkin karena cuaca malam ini mendung jadi memang terasa gerah, atau karena aku bersamamu makanya kamu merasa gerah?" jawab Zack


"Bisa jadi," jawab Gita tersenyum mendengarnya


"Yaudah kalau gitu biar aku tidur di kursi aja biar kamu gak kegerahan lagi,"


"Jangan dong, kamu di sini saja," cegah Gita


Zack begitu senang saat mendengar jawaban gadis itu. Ia kemudian memeluknya erat, membuat Gita bisa merasakan betapa Pria itu sangat menyayanginya.


"Terimakasih ya Mas sudah mau menerima aku sebagai istrimu,"


"Kenapa berterima kasih, toh kita berdua saling suka dan bersepakat untuk menikah, jadi jangan merasa berhutang budi padaku. Aku menikahi dirimu bukan karena kasihan karena tidak ada yang mau menikahi mu, tapi aku benar-benar tulus mencintai kamu itulah kenapa aku menikah denganmu," jawab Zacky membuat Gita berkaca-kaca dan merasa terharu dengan mendengarnya.


Sekumpulan kristal bening mulai memenuhi pelupuk mata Gita, gadis itu kemudian memalingkan sengaja memalingkan wajahnya agar Zacky tak melihat kesedihannya.


Zack kemudian menggenggam erat jemarinya, "Sekarang kamu punya aku, jadi kamu bisa berbagi apapun denganku. Berbagi cerita, kesedihan, kebahagiaan, berbagi tempat tidur atau apapun, yang jelas aku akan siap menjadi teman curhat kamu kapanpun, dimanapun juga. Jangan lupa sebagai suami kamu aku juga pasti akan menjaga dan melindungi kamu dari semua orang atau apapun yang berusaha menyakitimu,"


Gita langsung memeluk pria itu begitu ia selesai berbicara.


"Terima kasih Mas,"


"Kembali Kasih," jawab Zack kemudian mengusap air mata gadis itu.


"Sekarang tidurlah," ucap Zacky kemudian membaringkan tubuh gadis itu.


"Tapi...." ucap Gita ragu-ragu


"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksa kamu jika kamu belum siap, sans aja," ucap Zacky seakan tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya


Ia kemudian berbaring di sampingnya, dan memeluknya erat.


"Sekarang tidurlah,"


Gita segera memejamkan matanya setelah pria itu mengecup keningnya.


********


Revan melesatkan mobilnya meninggalkan parkiran mall dengan raut wajah bahagia.


Berbeda dengan Revan, Shiba terlihat begitu cemas, ia mengira jika hantu itu akan berhenti menampakkan dirinya saat mereka meninggalkan mall. Namun prediksinya salah, makhluk itu terus mengikutinya bahkan semakin menggila. Ia sangat terkejut saat melihat wajah sang Hantu yang tiba-tiba muncul di kaca mobil.


Shiba berteriak histeris saat melihatnya hingga membuat Revan penasaran dan menghentikan mobilnya.


"Ada apa sih?" tanyanya penasaran


"Ada hantu!" seru Shiba menunjuk kearah kaca mobil


"Ah yang benar saja, mana mungkin ada hantu, aku yakin itu pasti hanya halusinasi kamu saja!" sahut Revan


Shiba menggelengkan kepalanya, ia tak mengira jika hantu itu bergelantungan diatas mobil dan terus mengikutinya. Ia terus menutupi wajahnya selama perjalanan, agar tak melihat sosok hantu dihadapannya itu.


Merasa diabaikan oleh Shiba membuat makhluk itu menempelkan wajahnya ke kaca mobil, ia menyeringai menatap lekat ke arahnya hingga membuat gadis itu kehabisan nafas dan tak bisa bergerak.


Siapapun tolong aku, jika terus begini aku bisa mati ketakutan??


Hantu wanita itu tidak hanya menggedor-gedor pintu mobil tapi ia beralih memukul-mukul kaca mobil berharap kali ini Shiba mau membukakan pintu untuknya.


Saat melihat wajah pucat Shiba yang semakin ketakutan, Revan justru mengira ia tegang karena ini adalah kencan pertamanya, dan ia berusaha mencairkan suasana dan menghiburnya.


Sepanjang perjalanan pria itu terus berkelakar mencoba membuat Shiba tertawa.


Namun usahanya sia-sia karen Gadus itu tetap diam membisu, dengan raut wajahnya yang datar. Ia bahkan tidak tertawa sedikitpun mendengar leluconnya.

__ADS_1


"Jangan tegang, santai saja," ucap Revan mencoba mencairkan suasana


Gagal menghibur gadis itu dengan kelakarnya, Ia kemudian mencoba menyanyikan sebuah lagu romantis untuk membuatnya terpesona dengannya.


Suara merdu Revan bahkan tak mampu mengusir rasa takutnya. Shiba berusaha membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam hati. Ia begitu berharap hantu itu segera menghilang dari hadapannya.


Namun lagi-lagi usahanya sia-sia hantu itu tetap bergelantungan di mobil sambil memukul-mukul kaca mobil semakin membuat gadis itu tak berdaya dan berharap di pingsan saja.


Ia mencoba mengalihkan perhatiannya, dengan menjawab semua pertanyaan Revan. Namun saat menatap pria itu ia justru merasakan punggungnya mulai terasa dingin.


Ia membelalakkan netranya saat melihat sebuah kartu pegawai tergantung di dada lelaki itu.


Zaskia Adya, apa itu nama hantu wanita itu?


Luna menatap seksama kartu pegawai itu, dengan tubuh gemetaran ia memberanikan diri menatap hantu wanita itu untuk memastikan jika ia benar-benar wanita yang ada di kartu pegawai itu.


Benar dia adalah wanita itu.


Sebenarnya apa yang ia inginkan hingga terus mengikuti ku,


Ia kemudian menanyakan kepada Revan tentang wanita itu yang ada di Id card tersebut.


"Apa kau mengenal Zaskia?" tanyanya hati-hati


Revan yang masih asyik bernyanyi mendadak menghentikan mobilnnya setelah mendengar pertanyaan gadis itu. Lelaki itu sangat terkejut dan ekspresi wajah ketakutan terpancar jelas di wajahnya.


Bagaimana dia mengenalnya, apa dia teman kerjanya. Ah tidak mungkin Zaskia tidak memiliki teman, aku yakin bukan dia yang dimaksud Shiba.


Revan mencoba menggunakan logikanya.


"Sepertinya nama itu begitu familiar, tapi maaf Aku tidak mengenalnya," jawabnya singkat dan kembali melajukan mobilnya


Tidak puas dengan jawabannya membuat Shiba kembali bertanya padanya. Kali ini ia bahkan mendeskripsikan penampilan wanita dan ciri-ciri fisik wanita itu dengan begitu lugas.


Revan yang sangat terkejut mendengar penuturan Shiba, tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya hingga menabrak pembatas jalan.


*Brakkk!!


Terdengar Suara bising klakson mobil di belakangnya yang meminta agar Revan segera menepikan mobilnya agar tidak menghalangi kendaraan lain yang hendak melintas.


Mereka terus menggerutu dan mengeluarkan sumpah serapahnya saat Revan mengacuhkan mereka.


"Oi minggir, dasar ******!!" maki seorang pengemudi


Revan tidak memperdulikannya dan justru menanyakan kepada Shiba dimana ia mengenal Zaskia Adya.


"Dimana kau mengenal Zaskia?" tanyanya begitu penasaran


"Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku melihatnya," jawab gadis itu membuat Revan semakin penasaran


Pemuda itu menggenggam erat jemari Revan dan kembali bertanya dimana ia melihat Zaskia Adya.


Gadis itu terdiam sesaat, ia menyadari jika dirinya memiliki kemampuan istimewa yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Apa yang terjadi denganku, kenapa aku jadi seperti ini, apa yang harus aku lakukan. Apa ia akan percaya dengan ucapanku.


Luna kemudian mengumpulkan keberaniannya dan menceritakan dengan jujur semua yang dialaminya. Ia menjelaskan dengan rinci ciri-ciri wanita itu dan dimana ia bertemu dengan Zaskia.


"Aku melihatnya saat kita hendak meninggalkan parkiran mall, dia terus menggedor-gedor pintu mobil dan meminta masuk," Sejenak ia menghentikan ceritanya saat melihat ekspresi wajah ketakutan Revan


"Apa dia masih mengikuti kita??" tanyanya sambil menoleh ke kiri dan kanannya


Shiba mengangguk dan menunjuk kearah kaca mobil.


"Dia masih bergelantungan di sana!" tunjuknya membuat Revan tiba-tiba berubah menjadi geram.


Bagaimana tidak, lelaki itu mengira jika Gadis itu hanya mengada-ada. Sifatnya yang ramah seketika langsung berubah marah-marah.


Ia menatap tajam hantu wanita dan memakinya. Melihat Revan memarahinya membuat hantu wanita terus menjeratnya.

__ADS_1


Revan yang mulai ketakutan segera keluar dari mobil dan pergi menuju toko di seberang jalan.


Shiba menatap kepergian Revan dengan tatapan datar. Gadis itu begitu terkejut saat melihat sosok Barra duduk dan tersenyum manis padanya di kaca spion mobil.


Ia segera menoleh ke belakang untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.


Barra segera melambaikan tangannya kearah gadis itu dan menyapanya.


"Halo sayang," ucapnya begitu ramah, iapun tersenyum simpul padanya membuat Shiba segera membalikkan badannya dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Bagaimana ia bisa muncul di sini??


Sementara itu, Revan menceritakan tentang dirinya yang dikejar-kejar oleh seorang hantu penasaran kepada pemilik toko.


Pemilik toko yang juga seorang dukun langsung menanggapi cerita Revan. Ia kemudian menawarkan berbagai produk pengusir hantu padanya dan Revan langsung membelinya tanpa berpikir panjang.


"Apa kau bisa mengusir hantu juga?"


Pria itu tersenyum simpul dan menyembunyikan kekuatannya. Ia berpura-pura lemah dan tak bisa mengusir hantu karena sedang menjalani ritual khusus. Ia sengaja berkata seperti itu untuk membuat Revan semakin penasaran.


Ia tahu benar jika lelaki itu akan melakukan apapun untuk mengusir hantu itu. Sang dukun memanfaatkan situasi itu untuk menguras uangnya. Ia kemudian menyarankan Revan untuk membeli sebuah santet yang dapat mengusir hantu.


"Ini adalah santet terbaru untuk mengusir hantu, jika kau membakarnya di bawah mobil mu maka hantu itu akan langsung mati terbakar menjadi debu," terang Sang Dukun


"Berapa harganya?" tanya Revan


"Dua puluh juta rupiah,"


Pria itu berpikir sejenak, saat tahu harga santet itu sangat mahal.


"Jika kau ingin selamat maka jangan memikirkan harganya, ingat nyawamu lebih berharga dari dua puluh juta," ujar sang penyihir memberikan mesin EDC (Electronic Data Capture) kepadanya


Mendengar ucapan sang dukun membuat Revan dengan senang hati mengeluarkan kartu Debitnya dan segera memberikannya kepada pria itu.


"Aku sangat penakut jadi aku tidak berani memasang santet itu sendiri, bagaimana kalau kau membantuku memasangnya," ucap Revan


Dukun itu setuju dan menemani Revan kembali ke mobilnya.


"Wah bagaimana bisa, ia masih sempat berbelanja di saat genting seperti ini," ujar Shiba tidak habis pikir saat melihat Revan yang membawa banyak belanjaan


Setibanya di sana, Dukun itu terus memperhatikan Shiba dengan seksama. Ia kemudian mendekati gadis itu dan memintanya membuka kaca mobilnya.


"Sepertinya sesosok hantu tampan sedang berusaha menjeratmu, sebaiknya kau harus hati-hati," ucap sang dukun kemudian menoleh ke arah Barra


"Bagaimana kau bisa tahu??" tanya Shiba terkejut


"Sebagai seorang paranormal tentu saja bisa melihatnya," jawab pria itu menyombongkan diri


Cih, dasar dukun sialan!!


"Apa kau sudah mengusir hantu wanita itu?" tanya Shiba


"Tentu saja, kau lihat sendiri kan dia sudah tidak ada lagi di sini," jawab sang dukun


"Kalau begitu maukah kamu menolongku untuk mengusir hantu yang terus mengikuti ku," cetus Shiba


"Tentu saja, tapi dengan satu syarat," jawab Pria itu menyeringai


"Katakan saja apa syaratnya,"


Pria itu kemudian membisikkan sesuatu kepada Shiba yang membuat gadis itu begitu terkejut mendengarnya.


"Tidur denganmu??" ucap Shiba menaikkan alisnya


"Tentu saja, Hanya tidur denganku bukankah itu tidak sulit?" ucap sang dukun menatap tajam ke arah gadis itu


Shiba mulai gamang, bagaimanapun juga ia sebenarnya tidak mau bertindak terlalu jauh hanya untuk mengusir hantu usil yang mengikutinya.


Tiba-tiba angin berhembus semilir menerpa wajah gadis itu.

__ADS_1


"Jauhi lelaki itu," ujar Barra memperingatkannya


__ADS_2