BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 34


__ADS_3

Sebuah cahaya melesat menghantam tubuh Arya saat Gilang melepaskan semua jarum santet yang ada di tangan pemuda itu.


*Arrrrgghhh!!


Seketika Arya mengerang keras. Suara erangan pemuda itu membuat burung-burung berterbangan meninggalkan sarangnya, dan binatang-binatang lainya segera berlari meninggalkan tempat itu. Angin berhembus semilir membelai wajah tampan pemuda dengan mata emasnya.


Sepasang mata emas bersinar, membuat Arya terlihat berbeda.


Rangga dan Zacky tampak tercengang melihat perubahan Arya.


"Biasa aja kali lihatnya?" ucap Arya


"Mana bisa, kamu begitu menggoda Arya," jawab Rangga


"Menggoda apanya Om?" tanya Arya


"Jangan Geer Ya, bukan gue yang tergoda sama lo. Tapi para lelembut yang tergoda dengan aroma mu," jawab Rangga


Benar saja seketika puluhan lelembut bermunculan di tempat itu. Mereka berjalan mendekati Arya


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Arya bingung


"Kerena mereka menginginkan tubuhmu, mereka yang ingin hidup abadi pasti akan mengincar dirimu, jadi bersiaplah untuk menjadi idola para lelembut!" seru Rangga kemudian tertawa terbahak-bahak


"Astoge, kirain idola para wanita eh malah idolanya para penghuni alam baka, ngeri amat om. Inimah namanya om menjebak gue, bukanya menolong Gita malah makin panjang urusannya," keluh Arya


"Benar juga kata Arya, kalau begitu sebaiknya kembalikan wujud Arya seperti semula," imbuh Zacky


"Nah ini dia satu-satunya cara menyelamatkan Gita dengan mudah tanpa harus beradu tenaga, jadi ikuti aja semua saran gue," jawab Gilang


"Dengarin tuh kalau ada sesepuh ngomong," imbuh Rangga


"Ok deh Om,"


Saat para lelembut itu mendekat kearah Arya, Gilang meminta Barra, Rangga, dan Zacky segera pergi untuk menyelamatkan Gita.


Ia sengaja memancing para lelembut itu menuju ke Ranu Kumbolo.


Benar saja, aroma wangi Arya membuat sang dukun meninggalkan Gita di sebuah bukit.


"Tolong!!" seru Gita berusaha meminta tolong


Gilang segera keluar dari tubuh Arya dan membantu pemuda itu menghabisi satu persatu makhluk gaib yang berusaha memangsanya.


"Gunakan kekuatan mu Arya!" seru Gilang


Arya kemudian melesat terbang dan menghantam tinjunya ke tanah hingga membuat tempat itu seketika terguncang dan semua lelembut terhempas dan sebagian musnah kemudian menghilang.


Namun bukannya para demit itu berkurang malah semakin banyak mengerubungi Arya.


Gilang langsung melompat dan membawa pemuda itu melesat terbang menuju Ranu Kumbolo.


Ia sengaja melepaskan tubuh Arya tepat diatas danau itu untuk memancing para lelembut termasuk sang dukun menangkapnya di danau yang dianggap suci dan keramat itu.

__ADS_1


*Wuuushhh!!


Saat semua lelembut melesat kearah danau, Gilang segera melepaskan jarum-jarum santet kearah mereka hingga berjatuhan kedalam danau.


Arya sengaja menumbalkan dirinya untuk memancing para lelembut itu agar semuanya masuk kedalam danau.


Saat semuanya sudah mengerubungi Arya, Gilang menggunakan kekuatannya dan melesat ke angkasa.


Saat merasa seluruh kekuatannya sudah terkumpul ia segera melesat ke bawah untuk menyelamatkan Arya.


Tepat sebelum pemuda itu menyentuh air danau Gilang kembali melepaskan jarum-jarum santet kearah pemuda itu.


Merasa aroma wangi Arya membuat para lelembut itu meninggalkan pemuda itu. Namun sayangnya mereka tak bisa pergi begitu saja setelah berada di kawasan danau suci itu.


Bak seperti medan magnet danau itu tiba-tiba menarik Semua makhluk gaib yang berada diatasnya hingga mereka tersedot kedalamnya dan menghilang memasuki danau suci tersebut.


Arya menarik nafas panjang saat mengetahui para makhluk gaib itu telah menghilang di danau termasuk sang dukun.


"Wah tidak ku sangka rencana Om begitu keren, bagaimana om bisa tahu kalau danau ini bisa menghisap kekuatan jahat?" tanya Arya


"Ranu Kumbolo adalah danau suci tempat dimana para bidadari dari kayangan mandi, konon disini juga dipercaya sebagai tempat peristirahatan para Dewa Itulah kenapa para dukun tidak bisa menggunakan kekuatan mereka, begitupun dengan makhluk gaib karena seketika kekuatan mereka akan hilang saat tiba di tempat ini. Hanya orang-orang suci yang bisa menggunakan kekuatannya di wilayah ini," terang Gilang


"Tidak ku sangka kau tahu banyak tentang daerah ini, aku yakin semasa hidup kau adalah seorang dukun sakti mandraguna yang tak terkalahkan,"


"Jangan terlalu memuji. Sekarang kau juga harus kembali menjadi Arya lagi," Gilang kemudian mengembalikan jarum-jarum santet yang ia lepaskan dari lengan Arya.


"Sekarang aku tahu kenapa, ayahku memasang jarum-jarum ini di tanganku. Jujur dulu aku selalu kesal dan sempat mencoba melepaskan jarum-jarum ini, tapi setelah kejadian ini aku tahu betapa sayangnya ayahku padaku, meskipun dia bukan ayah kandungku," ucap Arya menerawang


"Makanya kalau dia masih hidup temui dia kalau perlu traktir makanan yang enak-enak mumpung masih hidup, karena kalau sudah mati mana bisa," jawab Gilang


"Hadeeh, sakno," jawab Gilang kemudian memberikan beberapa daun kering padanya


"Buat apa daun kering ini om, kalau mau ngasih itu duit om atau jimat juga boleh biar nanti aku jual, bukan daun kering kek gini!" seru Arya


"Dasar anak jaman sekarang, emang kamu gak tahu kalau daun kering pemberian hantu itu bisa jadi duit?" sahut Gilang


"Masa sih?"


"Gak usah nanya?" Gilang kemudian bergegas menyusul Barra dan yang lainnya


"Kalau di film-film itu bukan jadi duit Om, hanya akan mendatangkan hoki. Yaudah simpen aja kali aja beneran dapat hoki kan mayan buat traktir babeh,"


Arya kemudian menyusul Gilang yang sudah menghilang menemui Barra


"Tolong, pada kemana sih orang-orang!" seru Gita


Ia berusaha melepaskan ikatan tangannya dan mencoba turun dari peti mati itu.


Namun ia langsung mengurungkan niatnya saat mengetahui peti itu berada diatas pohon.


"Ya Allah gimana ini, kalau gue turun tetep aja gue bakalan jatuh, huaaaa Barra help me!!" serunya sambil terisak


Angin kencang membuat pohon bergoyang hingga peti mati yang tempat Gita bergeser dan hampir jatuh.

__ADS_1


"Huaa, toloong!!!"


Gita berteriak keras saat peti itu meluncur jatuh dari pohon.


Sekelebat bayangan melesat menangkap tubuhnya dan membawanya turun ke bawah


"Barra!" seru gadis itu langsung memeluknya


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya begitu khawatir


"Tentu saja aku akan baik-baik saja jika ada kamu di samping ku,"


"Eaaaa, mulai bucin nie!" goda Rangga


"Syukurlah, sekarang ayo kita segera pulang sebelum matahari terbenam,"


"Aku tidak mau pulang ke rumah, aku mau bersamamu. Bukankah kita sudah menjadi suami istri lalu kenapa kita harus berpisah?" ucap Gita menatapnya tajam


"Aku pikir obat rindu itu adalah bertemu denganmu, tapi aku salah Bar. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu yang paling aku takutkan. Ternyata obat rindu itu adalah kita hidup bersama, dengan begitu kita tidak akan terpisah lagi selamanya kecuali maut memisahkan kita," tutur Gita sambil memegang erat jemari Barra


"Kamu benar Git, tapi bukankah dari awal pernikahan kita hanya untuk membalaskan dendam mu kepada Erwin?. Jadi kalau dendam mu sudah terbalaskan maka pernikahan kita juga akan berakhir," jawab Barra


"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu, lagi pula kamu sudah janji akan selalu menjaga dan melindungi ku lalu bagaimana kau akan melindungi ku kalau kita sudah bukan suami istri lagi?" tanya Gita


"Meskipun aku sudah tak menjadi suamimu lagi aku akan tetap menjaga dan melindungi mu Gita jadi jangan khawatir, aku pastikan akan selalu berada di sisimu tanpa kau tahu," jawab Barra


"Jadi kau sudah terbiasa melindungi dan menjaga semua wanita yang bukan istrimu gitu!" seru Gita merasa kesal karena


"Cie ada yang baper?" celetuk Gilang menghampiri mereka


"Jangan salah sangka, meskipun aku hantu tapi aku bukan tipe orang yang suka tebar pesona. Aku hanya akan menjaga dan melindungi wanita yang aku cintai saja, tidak termasuk yang lain," jawab Barra


"That's right baby, bisa di garansi kalau Barra adalah lelaki setia, buktinya dia hanya mau menikah lagi jika sudah mantan istrinya sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama suami barunya, atau meninggal dunia," jawab Rangga


"Aku ingin melepaskan mu dariku karena aku sangat mencintaimu dan aku ingin melihatmu hidup bahagia Gita. Selama ini kamu selalu mendambakan mendapatkan seorang lelaki yang mau menikahi mu bukan jadi kau bisa mewujudkan impianmu itu jika berpisah denganku. Dunia kita berbeda jadi tidak mungkin kita bisa hidup bersama, karena akan ada yang menderita jika aku memaksa dirimu hidup bersama ku yaitu keluarga mu yang akan kehilangan dirimu. Aku tidak mau menjadi pria egois, bukankah cinta tak harus memiliki??" terang Barra


"Benar, tapi kenapa kamu memaksaku menjadi istriku jika akhirnya kamu akan meninggalkan aku, kamu benar-benar jahat Barra!" seru Gita begitu emosional dan lari meninggalkan Barra


"Benar-benar percintaan yang menguras air mata, aku benar-benar tersentuh," ucap Gilang kemudian memeluk Rangga


"Sudah tiga kali kita mengulang adegan seperti ini Bro, jadi ambil saja hikmahnya," jawab Rangga


"Gak berani Ran, aku takut di labrak bokapnya, lagipula bahaya main ambil anak orang mending kalau cuma urusan sama polisi kita gak bakal ketangkep karena sudah almarhum, nah gimana kalau yang datang nemuin kita kyai, hancur lebur tubuh kita nanti!" sahut Gilang


"Bener juga sih, terus gimana dong Lang?"


"Yang bener kita bantu Gita melupakan Barra?"


"Caranya??" tanya Rangga


"Dih pakai nanya lagi, pakai pelet lah, emang apalagi yang kita bisa lakukan untuk membuat Gita melupakan Barra?" sahut Gilang


"Ada om," sahut Arya

__ADS_1


"Apa??" tanya Rangga dan Gilang bersamaan


"Kepo, Rahasia dong," jawab Arya segera mengajak Zacky mengejar Gita.


__ADS_2