BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 49


__ADS_3

*Ciiittt!!!


Garra berusaha mengerem mobilnya saat melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.


Ia mencoba menggunakan kekuatannya untuk membangunkan sopir truk yang mengantuk. Namun sayangnya meskipun sang sopir sudah terbangun, ia tetap tidak bisa menghentikan laju kendaraannya yang begitu cepat.


*Braakkkk!!!


*Pranngg!!


Serpihan kaca mobil berterbangan kearah Barra, ia berusaha menghentikan laju benda itu dengan kekuatannya, "Sial aku lupa jika jadi manusia aku tidak memiliki kekuatan lagi!"


Barra memekik keras saat serpihan kaca menancap di tubuhnya.


"Baru kali ini aku merasakan begitu rasanya sakit tertusuk benda tajam. Kenapa tiba-tiba gelap??. Apa ini rasanya sakaratul maut, kenapa tubuhku terasa begitu sakit!" ucap Barra mencoba bertahan


Melihat Barra yang terluka parah membuat Garra segera menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan pria itu.


"Belum saatnya kamu mati," ucap Garra segera mendorong tubuh Barra hingga ia melesat keluar dari dalam mobil.


Barra segera membuka matanya dengan nafas terengah-engah.


"Kok udah bangun aja Bar, waktunya masih lama loh," ucap Rangga


"Memangnya jam berapa sekarang?" tanya Barra


"Baru juga jam setengah lima pagi," jawab Rangga


"Jadi gagal dong Om jadi manusia, padahal syaratnya gampang banget," ucap Arya


"Tidak semudah itu Ferguso, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kyai Hasan dulu, bahwa manusia dan makhluk gaib tidak akan pernah bersatu karena manusia tak bisa menjadi makhluk gaib begitupun sebaliknya, sekarang aku nyerah aja. Sekali lagi aku tegaskan untuk merelakan Gita untuk Zacky, kalau memang dia jodohku pasti dia akan menjadi istri ku tapi jika bukan ya berarti Dia milik orang lain,"


"Aku titipkan dia... lanjutkan perjuangan ku untuknya... bahagiakan dia, kau sayangi dia ... seperti ku menyayanginya...." terdengar suara Gilang bersenandung menghibur Barra


"Thanks Lang, atas hiburannya, untuk sawerannya minta Rangga aja ya, gue lagi bokek," ucap Barra


"Dih Sue," cibir Rangga


"Syukurlah kalau kamu sadar, sekarang sebaiknya kita pulang," ucap Gilang


"Sebaiknya tunggu pagi saja Mas Gilang, nanggung sandekala, pamali," ucap Ki Garwa


"Benar juga Sandekala pagi lebih mengerikan daripada Sandekala sore," jawab Rangga


Mereka kemudian memilih untuk berbincang-bincang sambil menunggu pagi, sedangkan Arya memilih tidur di kamarnya.


Tiba-tiba terdengar sura jeritan warga meminta tolong membuat Ki Garwa segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Beberapa rumah warga tampak terbakar membuat penghuninya keluar meminta pertolongan warga lain untuk memadamkannya.


Karena warga penduduk hanya sedikit maka api pun sulit di padamkan.


"Biar aku bantu memadamkannya," ucap Gilang

__ADS_1


Ia kemudian menggerakkan tangannya dan seketika air keluar dari dalam tanah mengucur deras ke perumahan warga yang terbakar.


Melihat kemampuan Gilang membuat semua penduduk desa itu tertegun melihatnya.


"Wah kau begitu sakti, bisakah kami berguru padamu," ucap seorang warga diikuti oleh anak dan istrinya


"Kalau kalian ingin hidup normal dan tidak di kucilkan oleh warg desa lainnya, maka kalian harus meninggalkan profesi kalian sebagai ahli tenun. Gunakan keahlian kalian hanya untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan bukan untuk membunuh atau menyakiti orang lain, itulah salah satu cara kalian belajar hidup normal agar diterima oleh masyarakat Indonesia," ucap Gilang


"Tapi sepertinya tidak ada seorangpun yang menerima kami dan anak cucu kami, kau lihat kan tadi. Itu bukan kali pertama kami mendapatkan teror seperti itu, kami sering mendapatkan hal yang lebih parah dari ini beberapa kali. Kami tahu itu adalah cara mereka untuk menghabisi kami. Kamu bisa lihat sekarang jumlah penduduk kampung Santet tinggal 20 kepala keluarga padahal sebelumnya kami ada sekitar dua ratus lebih kepala keluarga. Satu persatu mereka mati karena rumahnya terbakar," tutur salah seorang warga


Baru saja Gilang akan membuka mulutnya tiba-tiba puluhan bola-bola api melesat menyerang mereka.


Mereka langsung menghindar untuk menyelamatkan diri.


Ki Garwa langsung mengerahkan kemampuannya untuk menepis semua serangan bola api tersebut. Warga lainpun ikut membantunya membuat perang tak terhindarkan.


"Aku yakin ini bukan ulah manusia biasa," ucap Gilang


"Maksudnya??"


"Ada seorang yang memiliki kekuatan supranatural yang mumpuni sengaja menyerang kampung ini dengan tujuan tertentu?" jawab Gilang


"Lo tahu darimana bro?" tanya Barra


"Hanya filling saja, kau tahu kan aku bisa meramal, jadi abaikan saja bila tidak benar," jawab Gilang


Ia kemudian melesat pergi meninggalkan kampung itu.


"Ada urusan bentar nanti balik lagi!" seru Gilang langsung menghilang


"Jangan bilang dia beneran mau jadi Lurah di mari makanya dia nyari modal dulu di kampung sebelah," ucap Rangga


"Maksudnya dia mau jadi garong lag?" tanya Barra mengernyitkan keningnya


"Maybe Yes, Maybe No!"


"Gaje loh Ran, awas lo kena pasal pencemaran nama baik," sahut Barra


"Gak bakalan polisi berani nangkep gue Bar, bisa aku bikin gak bisa jalan mereka nanti," jawab Rangga


"Wah ngancam,"


"Hehehe, namanya juga dukun Bar, apapun masalahnya santet solusinya eaaa!"


"Ngomong-ngomong kok tiba-tiba jadi sepi, pada kemana sih orang-orang, bukannya tadi lagi perang ya?" Rangga terkejut saat melihat semua orang tiba-tiba menghilang


Suasana kampung mendadak sepi, hanya desiran angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka.


Rangga yang menangkap ada sesuatu yang janggal di desa itu berusaha tenang.


Benar saja tidak lama beberapa wanita muda turun dari atas langit bak bidadari.


"Wah ada bidadari!" seru Rangga membelakakan matanya

__ADS_1


"Mereka bukan bidadari Ran, tapi Wewe Gombel!" seru Barra langsung menarik pundak Rangga


"Yes, emang kenapa kalau mereka Wewe Gombel?" jawab Rangga


"Mereka bukan Wewe Gombel biasa tapi mereka sengaja datang untuk menyingkirkan kita dari desa ini," seru Barra


"Masa iya sih?" tanya Rangga tak percaya


"Kamu ingat Janda kembang yang dikatakan oleh Arya??" tanya Barra lagi


"Iya,"


"Mereka lah janda kembang yang dimaksud, Janda Kembang ( jutaan demit kemben abang)!" ucap Barra


"Tapi gak ada jutaan Bar, hanya ratusan. Btw kenapa sekarang banyak wanita pakai kebaya merah sih, apa karena kebaya merah lagi viral ya, ck, ck, ck!"


*Wuuushh!!!


Keduanya langsung melompat ke samping saat para Wewe Gombel itu melepaskan selendang kearahnya.


"Sepertinya yang dibilang si Gilang bener, semoga aja dia cepat kembali dan membereskan para Wewe Gombel itu,"


"Kenapa bukan kamu saja, bukankah kau juga bisa mengalahkan mereka," jawab Barra


"Yo gak mampu aku... kalau cuma berdua Bar, kita butuh orang ke tiga biar rame," jawab Rangga


"Noh orang ke tiga sudah datang!" tunjuk Barra


Arya masih yang baru bangun langsung menguap melihat fenomena alam di depannya.


"Wah tahu aja kalau ada barang baru, dasar Wewe Gombel!" cibirnya kemudian melemparkan beras kuning kearahnya


Seketika para Wewe Gombel itu menghilang.


"Wah keren, hanya dengan segenggam beras kau mampu mengalahkan mereka," ucap Barra


"Gak gitu juga sih Om, sebenarnya mereka pergi bukan karena beras kuning aja, tapi karena sebentar lagi matahari terbit," Arya kemudian menunjuk kearah Fajar yang mulai muncul di sebelah timur


"Semua orang pada kemana ya kenapa jadi sepi, biasanya pagi-pagi gini mereka sudah sibuk melakukan aktivitas. Apalagi ini adalah hari Selasa Kliwon pasti akan banyak penduduk dari tetangga sebelah yang akan datang ke sini untuk memakai jasa mereka," ucap Arya


"Mereka dari tadi menghilang, aku saja gak lihat kapan mereka menghilang," jawab Barra


"Jadi kejadian ini terulang lagi," Arya kemudian segera naik ke atas motornya.


"Mau kemana kamu Ar?" tanya Barra


"Menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan," jawab Arya


"Kalau gitu aku ikut," jawab Barra


"Me too," Rangga segera duduk di belakang Barra dan memeluknya erat.


"Jangan peluk gue ah, jijik tahu!" cibir Barra membuat Rangga tertawa

__ADS_1


__ADS_2