BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Bab 51


__ADS_3

"Sebuah pedang sakti akan mengetahui siapa pemiliknya meskipun sudah meninggal," ucap Gilang


Pemuda itu terkejut saat melihat Gilang berhasil mengendalikan pedang miliknya.


"Bagaimana mungkin kau bisa mengendalikannya??" pemuda itu kemudian berjalan mundur menghindari Gilang


"Kau tidak boleh mundur sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap sang dukun


Melihat pemuda itu mundur, ia langsung menancapkan puluhan jarum santet ke sebuah boneka, hingga pemuda itu mengerang kesakitan.


"Jika pemuda itu bisa mendapatkan pedang ku, apa dia adalah cucuku??"


*Arrghhh!!!


Lelaki itu mengerang kesakitan saat sang dukun kembali untuk mengendalikannya.


Mendengar suara raungan keras pemuda itu membuat tubuh Gilang seketika bersinar mengeluarkan cahaya.


"Ada apa denganku, kenapa tubuhku menjadi seperti ini?"


Gilang tak mengerti kenapa tiba-tiba tubuhnya seperti terisi kekuatan yang membuatnya Seketika melesat ke udara.


Bagaimana bisa ajian ini bisa muncul tanpa aku sadari,


Seketika matanya memerah menatap nyalang kearah sang dukun.


Tiba-tiba Angin berhembus kencang dan menumbangkan semua benda yang ada di tempat itu. Semua orang langsung berlari menyelamatkan diri dari terjangan angin ****** beliung yang mulai menyapu seisi kampung itu.


Melihat Gilang, sang dukun merasa ketakutan, dan segera mengambil keris pusakanya.


"Bunuh dia!" seru sang dukun dengan suara baritonnya


Pemuda itu langsung melesat menyerang Gilang, tapi entah kenapa ia seketika pemuda itu langsung jatuh lunglai dihadapannya.


*Grepp!!


Gilang langsung menangkap tubuh Pemuda itu dan membaringkannya di altar persembahan.


Ia kemudian berjalan menghampiri sang dukun yang kini menatapnya dengan keris di tangannya.


Gilang segera mengayunkan pedangnya dan menghunuskan kepada sang dukun hingga ia tewas seketika.


"Wah keren banget," ucap Rangga menghampiri Gilang


"Siapa pemuda itu, kenapa ia bisa memiliki pedang pusaka milikmu?. Apa dia anaknya Sora?" tanya Rangga


"Entahlah aku tidak tahu karena aku terlalu sibuk bertapa dan meninggalkan Anakku setelah istriku meninggal," ucap Gilang


"Wah bapak durhaka lo Lang!" ucap Rangga menggelengkan kepalanya


"Tapi kan gue udah nitip mereka sama lo, awas aja lo gak jagain mereka waktu itu!"

__ADS_1


"Gue jagain kok, swear!" sahut Rangga


Pemuda itu perlahan membuka matanya, Gilang segera menghampiriny.


"Siapa namamu?" tanya Gilang


"Mahendra," jawabnya singkat


"Darimana kau mendapatkan pedang milikku?" tanya Gilang lagi


Pemuda itu kemudian menceritakan bagaimana ia mendapatkan pedang itu. Gilang mendengarkan cerita Mahendra dengan seksama.


"Lalu dimana ibumu sekarang nak?" tanya Gilang


"Ibuku sudah tiada," jawabnya gusar


Sora, maafkan ayahmu nak


Gilang terlihat mengusap air matanya dan kemudian memberikan pedang miliknya kepada Mahendra.


"Jaga pedang ini dan gunakan untuk menolong orang saja," ucap Gilang


Ia kemudian mencabut semua jarum santet yang ada di tubuh pemuda itu.


"Sekarang kamu sudah bebas dari pengaruh iblis itu, kau bisa menjadi dirimu sendiri mulai detik ini," ucap Gilang menepuk-nepuk pundak pemuda itu


Ia kemudian menghampiri Ki Garwo dan teman-temannya.


"Terima kasih Mas Gilang," jawab Ki Garwa


Setelah berpamitan, Gilang kemudian mengajak Barra dan Rangga meninggal tempat itu.


Melihat Gilang akan pergi Mahendra langsung mengejarnya.


"Kakek!" seru pemuda itu membuat Gilang langsung menghentikan langkahnya


Ia kemudian menoleh kebelakang dan menatap lekat pria muda didepannya.


"Bolehkah aku ikut bersama mu?" tanyanya dengan wajah berkaca-kaca


Gilang tersenyum kemudian memeluknya erat.


"Kamu masih muda dan masih banyak yang harus kamu lakukan di dunia ini. Dunia ini masih membutuhkan pria kuat seperti dirimu, jadilah penerus keluarga kita dan jaga nama baik ayah dan ibumu," ucap Gilang menasihatinya


"Kita baru saja bertemu tapi kau sudah akan meninggalkan aku, sepertinya ini tak adil. Dulu aku sangat mengidolakan dirimu, karena ibu selalu menceritakan kalau kau adalah pria paling baik di dunia ini. Aku begitu merindukan sosok seperti dirimu untuk membimbing ku, tapi aku sadar kau sudah tiada, dab itulah kenapa aku selalu rajin mendatangi makammu dan belajar banyak tentang semua ilmu Kanuragan yang kau miliki dengan harapan aku bisa menjadi seperti dirimu kelak. Tapi setelah aku bertemu denganmu kau malam pergi meninggalkan aku," terang Mahendra


"Jangan sedih cucuku, karena kita masih bisa berjumpa lagi lain waktu. Kalau kau merindukan aku maka sebut namaku 3 kali maka aku akan datang menemui mu," jawab Gilang


"Kaya lagu aja lang sebut namaku tiga kali, bento, bento, bento...asyik!" sahut Rangga


"Iya dong kan aku masih satu seperguruan dengan si Bento," jawab Gilang

__ADS_1


"Masa iya sih, gak percaya gue,"


"Beneran, bedanya gue maling duit untuk dibagikan kepada rakyat, nah kalau dia maling duit rakyat!" sahut Gilang membuat semua orang tertawa


"Wah grr banget Om," sahut Arya


"Kamu tahu gak bedanya kamu sama kipas angin?" tanya Rangga


"Gak tuh," sahut Gilang


"Kalau kipas angin selalu menyejukkan tubuhku, kalau kamu selalu bikin gondok hatiku eaaa!"


"Sue Lo!" cibir Gilang membuat semua orang tertawa


"Kalau begitu Kakek pulang dulu ya Le, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa sering-sering kirimi mbahmu ini makanan saat malam selasa Kliwon atau jumat kliwon, ok!" seru Gilang


"Baik kakek, tapi kalau boleh tahu apa kesukaan kakek,"


"Gampang, kamu tinggal sediakan saja secangkir kopi hitam dengan sebuah rokok, ayam panggang, nasi liwet es kelapa muda, spagetti kalau ada jangan lupa kejunya yang banyak," terang Gilang


"Itumah bukan kesukaan Lang, tapi Maruk!" cibir Barra


"Yoi,"


"Namanya juga usaha, elah...pada julit amat. Padahal kalau gue dapat kaya gitu juga pasti ku bagi kalian," sahut Gilang


"Sans Lang, gitu aja baper,"


"Yaudah kuy kita balik!" seru Barra segera naik keatas motornya


Hanya membutuhkan waktu setengah jam mereka sudah tiba di pondok pesantren Darussalam.


Pagi itu Barra sengaja menemui Kyai Sodiq untuk meminta bantuannya.


Ia kemudian menyampaikan keinginannya kepada pria paruh baya tersebut.


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Ternyata kamu adalah jin yang baik hingga ingin memutuskan semua hubungan mu dengan Gita. Kalau begitu aku pasti akan membantumu untuk bercerai secara resmi dengan Gita. Tentunya aku juga akan membantu dia agar bisa melupakan dirimu seperti yang kau inginkan," ucap Kyai Sodiq


"Terima kasih Kyai, aku harap bisa secepatnya. Karena aku tidak mau Gita terus diteror oleh makhluk astral yang ingin mencelakainya,"


"Baiklah, nanti malam aku pasti akan mempertemukan kalian. Jadi persiapkan semuanya dengan baik," jawab Kyai Sodiq


"Baik Kyai, terimakasih banyak. Ngomong-ngomong apa saja yang harus saya bawa untuk ritual itu, maklum selama ini aku tidak pernah melakukan perceraian seperti ini," jawab Barra


"Kamu tidak perlu membawa apapun, cukup bawa diri saja itu sudah cukup," jawab Kyai Sodiq


"Alhamdulillah, kalau gitu sampai ketemu nanti malam Kyai," Jawab Barra kemudian meninggalkan tempat itu.


Semoga setelah ini kamu bisa hidup bahagia Gita, aku harap para demit itupun tidak akan mengganggu mu lagi setelah kita bercerai nanti. Aku harap kau juga bisa hidup bahagia dengan lelaki yang kau cinta seperti impian mu selama ini


Barra terus menatap Gita yang sedang belajar mengaji bersama dengan Zacky.

__ADS_1


__ADS_2