BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 35


__ADS_3

Barra berlari mengejar Gita yang begitu marah padanya karena menganggap ia sudah berdusta.


Kenapa harus memintaku menjadi istrinya jika kamu akhirnya akan meninggalkan aku saat aku mulai mencintaimu, kenapa kau tidak membiarkan ku mati saja saat itu. Atau tidak bisakah kau membantuku tanpa harus menikahi aku jika akhirnya akan seperti ini??


Gita terus berlari sambil mengusap air matanya yang membasahi wajahnya.


Tiba-tiba hujan deras turun mengguyur wilayah itu, tentu saja hal itu membuat Gita mempercepat langkahnya. Karena hujan jalanan menjadi licin, Gita pun tergelincir saat hendak menuruni Bukit. Beruntung ada Barra yang langsung menolongnya.


Ia kemudian menggendong Gadis itu menuju posko pendakian.


"Apa kakimu sakit?" tanya Barra


"Pergi saja gak usah sok peduli denganku jika akhirnya kamu hanya phpin perasaan aku saja!" jawab gadis itu segera memalingkan wajahnya


"Maafkan aku Git, tapi aku tak bisa membiarkan mu terluka," jawab Barra kemudian membuka sepatu yang dipakai gadis itu.


"Kakimu bengkak," Barra segera menempelkan telapak tangannya dan ajaib, kaki Gita yang memar dan bengkak tiba-tiba langsung sembuh tanpa bekas


"Sekarang coba jalan!" titah pria itu


Gita kemudian segera berdiri dan mencoba melangkahkan kakinya perlahan.


"Gimana apa masih sakit?" tanya Barra lagi


Gita langsung menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah kalau begitu," Barra kemudian mengambil sepatu Gita dan memainkannya


"Sepatunya licin, sebaiknya aku lepas saja. Aku takut tergelincir lagi jika memakainya," ucap Gita kemudian melepaskan sepatunya


"Tapi nanti kalau kamu tidak pakai alas kakimu bisa saja terluka. Di hutan ini banyak sekali benda-benda tajam, kerikil, atau binatang kecil berbisa yang bisa melukai kakimu, jadi kalau tidak keberatan aku bisa mencarikan alas kaki yang bisa membuatmu nyaman dan tidak akan tergelincir," tutur Barra begitu mengkhawatirkannya


"Gak usah pedulikan aku, jika kamu terus seperti ini justru akan membuat ku semakin sulit melupakan mu," jawab Gita


"Tapi aku memang khawatir denganmu dan aku tidak bisa mengabaikan dirimu,"


Ia kemudian menghilang dari hadapan Gita.


"Barra, jangan pergi aku cuma canda doang kok, sayang jangan tinggalin gue!" seru Gita begitu sedih saat mengira Barra pergi meninggalkannya karena ucapannya


"Maafin gue, meskipun aku sebel karena kamu mau kita berpisah tapi jujur saja saat ini aku masih tetap bersamamu, aku masih ingin memandang wajahmu untuk melepaskan rindu yang begitu menyiksa ku selama ini," ucap Gita gusar


Ia begitu menyesali ucapannya dan terus menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Gita langsung menoleh kebelakang saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Barra," ucap Gita langsung memeluk erat pria itu


"Jangan menyalahkan dirimu, aku tahu apa yang kamu rasakan," ucap Barra kemudian mengusap air mata Gita.


"Sekarang kita jalanin aja semuanya seperti air mengalir, aku tak bisa menjanjikan apapun padamu, kecuali aku akan selalu menjaga dan melindungi mu selama aku masih mampu menjangkau mu," jawab Barra mengusap lembut wajah Gita


"Hujannya sudah reda, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini sebelum malam," ucap Barra kemudian memakaikan sandal gunung kepada gadis itu.


"Aku yakin dengan sendal ini kamu tidak akan tergelincir lagi," imbuhnya


"Thanks Bar, btw kamu dapat darimana sandal ini?" tanya Gita


"Aku ngambil di pos pendakian atas," jawab Barra


"Berarti sandal curian dong?" ucap Gita membelakakan matanya


"Gak juga, kan pos itu kosong, sepertinya punya pendaki yang tertinggal," jawab Barra


"Mudah-mudahan gitu, kalau gitu ayo kita jalan!" sahut Gita kemudian menggandeng lengan Barra


"Kuy!" seru Barra tersenyum menatap wajah wanita di sampingnya


"Udah rujuk nih ceritanya?" sambung Rangga


"Kan kita belum cerai jadi ngapain rujuk," sahut Barra


"Terus kelanjutannya gimana?" tanya Gilang lagi


"Entahlah, biarkan saja hubungan kami mengalir seperti air, jika kami memang harus berpisah maka aku akan menerimanya dengan lapang dada, namun sebaliknya jika dia memang jodoh ku maka aku akan menjaganya hingga akhir usiaku,"


"Wah mantap, kamu emang pecinta sejati Bar, selalu saja ada romansa penuh air mata dalam setiap perjalanan asmaramu. Namun entah kenapa itu tak pernah membuat mu jera dan selalu menjadi pecinta sejati yang dikagumi banyak wanita," tutur Gilang


"Maunya sih pernikahan ku kali ini menjadi pernikahan terakhirku, tapi aku tidak bisa menggaransinya karena Tuhan Maha berkehendak dan siapa yang mampu merubah takdirnya," jawab Barra


"Tenang saja Om, aku akan membantumu," jawab Arya


"Maksudnya??" tanya Barra mengernyitkan keningnya


"Aku akan membantumu melupakan Gita," jawab Arya


"Caranya??" tanya Barra lagi

__ADS_1


Arya kemudian melepaskan kain kafan yang terikat di lengannya. Pemuda itu kemudian mengikatkan kain itu ke lengan Barra.


"Dia adalah ibuku, aku yakin jika Om bertemu dengannya katakan saja jika kau adalah temanku, aku yakin kamu akan menyukainya jika bertemu dengannya," ucap Arya


"Kayaknya aku pernah mendengar kata-kata seperti ini, tapu dimana ya?" ucap Rangga menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal


"Disebuah film Ran," jawab Gilang


"Iya kayaknya, tapi lupa judulnya," jawab Rangga


"Kucek-kucek ngutang Hei!!"


"Ah iya, bener!" sahut Rangga


"Btw, ehemm, kalian jangan bikin seseorang jelous dong?" ucap Arya


"Siapa sih yang jelous?" tanya Rangga


Arya segera menunjuk kearah Zacky.


"Yang bener nih?" tanya Gilang


Arya langsung menghampiri lelaki itu dan membisikkan sesuatu kepadanya. Seperti tahu apa yang akan dikatakan Arya.


"Sabar aja Zack, aku yakin kalau jodoh gak akan kemana. Kalau masalah Barra itu sih soal gampang, aku bisa menggaransi padamu kalau semua ucapan ku di jamin benar dan dapat dipercaya!" seru Gilang


"Dan aku bisa membuat Gita menyukaimu," bisik Rangga


"Kalian??" tanya Zacky gak habis pikir jika kedua lelaki itu akan membantunya menaklukan hati Gita.


Sementara itu Barra dan Gita yang berjalan lebih dulu, terlihat semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Kedung saling menggenggam erat jemari masing-masing dan agar bisa saling menguatkan.


Barra merasa jika ia harus melakukan sesuatu sebelum meninggalkan wanita itu. Baginya ia ingin memberikan sesuatu yang spesial kepada Gita dan tak pernah terlupakan oleh gadis itu seumur itu.


Ia kemudian menghentikan langkahnya dan mengajak gadis itu berteduh di posko pendakian yang terakhir.


"Ini adalah posko pendakian terakhir dimana setelah ini kita akan keluar dari kaki gunung. Dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu, agar kamu bisa mengetahui bagaimana perasaan ku padamu selama ini" ucap Barra


"Meskipun selama ini aku menikahi mu karena ingin menolong mu balas dendam kepada Erwin, tapi sebenarnya aku sudah jatuh hati padamu saat pertama kali melihat mu di tempat wisata. Entah kenapa aku bisa begitu menyukai mu saat itu, hingga aku begitu ingin melindungi mu dari semua mahluk gaib dan orang jahat yang ingin membunuhmu. Dan kenapa aku bersikeras menikahi mu, karena hanya itu alasan terkuat bagiku agar aku bisa melindungi mu. Karena di duniaku, kami tidak bisa sembarangan menolong manusia jika tidak memiliki hubungan dengan manusia tersebut, semoga kamu mengerti," ucap Barra menatap lekat wanita itu


"Iya aku tahu, dan aku sangat mengerti kenapa kamu melakukan semua itu," jawab Gita kemudian mengecup pipi suaminya


Merasakan kecupan singkat dari wanita itu membuat Barra langsung mendaratkan bibirnya ke bibir tipis wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2