
*Wuuushh!!!
Keduanya langsung melompat ke samping saat para Wewe Gombel itu melepaskan selendang kearahnya.
"Sepertinya yang dibilang si Gilang bener, semoga aja dia cepat kembali dan membereskan para Wewe Gombel itu,"
"Kenapa bukan kamu saja, bukankah kau juga bisa mengalahkan mereka," jawab Barra
"Yo gak mampu aku... kalau cuma berdua Bar, kita butuh orang ke tiga biar rame," jawab Rangga
"Noh orang ke tiga sudah datang!" tunjuk Barra
Arya masih yang baru bangun langsung menguap melihat fenomena alam di depannya.
"Wah tahu aja kalau ada barang baru, dasar Wewe Gombel!" cibirnya kemudian melemparkan beras kuning kearahnya
Seketika para Wewe Gombel itu menghilang.
"Wah keren, hanya dengan segenggam beras kau mampu mengalahkan mereka," ucap Barra
"Gak gitu juga sih Om, sebenarnya mereka pergi bukan karena beras kuning aja, tapi karena sebentar lagi matahari terbit," Arya kemudian menunjuk kearah Fajar yang mulai muncul di sebelah timur
"Semua orang pada kemana ya kenapa jadi sepi, biasanya pagi-pagi gini mereka sudah sibuk melakukan aktivitas. Apalagi ini adalah hari Selasa Kliwon pasti akan banyak penduduk dari tetangga sebelah yang akan datang ke sini untuk memakai jasa mereka," ucap Arya
"Mereka dari tadi menghilang, aku saja gak lihat kapan mereka menghilang," jawab Barra
"Jadi kejadian ini terulang lagi," Arya kemudian segera naik ke atas motornya.
"Mau kemana kamu Ar?" tanya Barra
"Menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan," jawab Arya
"Kalau gitu aku ikut," jawab Barra
"Me too," Rangga segera duduk di belakang Barra dan memeluknya erat.
"Jangan peluk gue ah, jijik tahu!" cibir Barra membuat Rangga tertawa
Gilang menghela nafas panjang setibanya di sebuah desa berkabut.
Bagaimana tidak?. Kedatangannya langsung disambut kabut yang seketika menebal turun dari atas.
Meskipun hari sudah mulai siang namun kabut semakin banyak turun membuat pandangan mata terbatas karena terhalang oleh kabut.
Gilang tersenyum kecut menatap pemandangan di depannya.
Ia kemudian duduk sambil bersiul riang.
Hawa dingin yang tiba-tiba muncul membuat pria itu semakin keras bersiul. Seakan ia tengah beradu kekuatan dengan sesuatu yang tak terlihat.
Seketika angin berhembus kencang menghempas sebagian kabut membuat penampakan desa yang mulai terlihat. Seulas senyum terpancar di wajah Gilang.
Gilang melihat beberapa orang warga desa santet yang terperangkap dalam sebuah altar persembahan.
__ADS_1
"Wah pertarungan antara dukun sudah di mulai ni, tapi kenapa cara licik begini," Gilang tampak memperhatikan seorang lelaki yang bersila sambil komat-kamit membaca mantera.
"Ternyata dia biang keroknya!" seru Gilang
Ia kemudian mengambil segelas kopi hitam dari baki sesaji dan meneguknya hingga habis.
"Ah nikmat mana lagi yang engkau dustakan," ucap Gilang kemudian menghampiri para dukun warga desa santet.
"Sebenarnya ada dendam apa diantara kalian hingga berakhir seperti ini??"
Gilang kemudian memegang lengan salah seorang warga desa Santet untuk melihat apa yang terjadi padanya di masa lalu.
Sebelum ia melihat apa yang terjadi sebuah kilatan cahaya melesat kearahnya.
Gilang langsung mengepalkan tangannya dan menghantamnya hingga terdengar suara ledakan keras.
*Duar!!!
Sang Dukun segera membuka matanya dan melepaskan tinjunya kearah Gilang .
Pria itu hanya memutar lengannya membuat tubuh sang dukun terpelanting keras menghantam altar persembahan.
Beberapa orang warga segera keluar dari rumahnya saat mendengar suara ledakan tersebut.
"Apa yang terjadi Aki?" tanya mereka mendekati sang dukun
"Rupanya para dukun santet itu memanggil leluhurnya, dan sekarang aku berusaha melawan iblis itu," jawab Sang Dukun
"Dia tidak terlalu sakti, tapi bagaimana bisa ia menangkap para dukun santet yang kekuatannya bahkan lebih mumpuni darinya?"
Gilang tak habis pikir jika dukun dihadapannya adalah seorang jelata yang tidak memiliki kekuatan sesakti Ki Garwa, jika benar demikian maka siapa yang membantunya??
*Buugghhh!!
Seketika Gilang terpental saat sebuah tendangan menghantamnya hingga ia tersungkur ke tanah.
Gilang segera bangun dan melesat terbang dan menyeimbangkan tubuhnya.
"Siapa dia sepertinya dia bukan dari bangsa makhluk gaib?"
Pemuda itu menatap nyalang kearah Gilang dan kembali menyerangnya dengan beringas.
Gerakannya yang begitu cepat membuat Gilang sedikit kewalahan menangkis setiap serangannya.
*Buughh!
Gilang kembali tersungkur di tanah saat sebuah tendangan melesat kearahnya.
"Usia memang tidak bisa dibohongi, sebaiknya Om istirahat saja, biar aku yang akan menghadapinya," ucap Arya kemudian mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri.
"Siapa dia?" tanya Gilang
"Dia sama sepertiku, seorang keturunan dari seorang manusia dengan makhluk gaib," jawab Arya
__ADS_1
"Pantas saja ia bisa mengalahkan aku ternyata dia bukan dari bangsa manusia. Sayang sekali kekuatannya dimanfaatkan oleh orang jahat, padahal aku melihat energi positif dalam dirinya begitu dominan daripada energi negatifnya,"
"Itu karena ia dikendalikan oleh santet Om," jawab Arya menunjuk kearah lengan pemuda itu
"Ternyata dia meniru yang dilakukan oleh ayahmu, dan ia sengaja menyalahgunakan ilmu itu untuk menyesatkan pemuda itu, kasian sekali,"
Arya segera melesat saat pemuda itu berusaha menyerangnya.
Gilang terus mengamati pertarungan kedua pemuda itu dengan seksama.
"Menurut mu siapa yang akan menang Lang?" tanya Rangga menghampiri mereka
"Hanya yang terkuat yang akan menang," jawab Gilang
"Semua orang juga tahu kalau itu, maksud gue lo pegang Arya apa pemuda itu?" tanya Rangga lagi
"Tentu saja pemuda itu, hanya saja aku akan menghentikan pertarungan itu bila itu terjadi,"
Benar saja Gilang segera melompat saat melihat pemuda itu menghantam Arya hingga pemuda itu meluncur dengan cepat ke arah Gilang.
Ia segera menangkap tubuhnya dan melemparkannya kepada Rangga.
"Tangkap Ran!" Gilang kemudian kembali menghampiri pemuda itu
"Sebaiknya kau minggir lelaki tua, atau aku akan menghancurkan tubuhmu berkeping-keping hingga kau tak bisa melihat dunia lagi!" ancam pemuda itu
"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan," jawab Gilang dengan santai
"Baiklah kalau kau memang ingin mati!" lelaki itu kemudian mengeluarkan senjatanya dari balik bajunya.
"Bagaimana kau bisa memiliki pedangku?" tanya Gilang penasaran
"Ini adalah pedang leluhur ku jadi jangan pernah mengaku-ngaku sebagai pemilik pedang ini!"
Karena kesal pemuda itu langsung menggerakkan pedangnya untuk menyerang Gilang.
Hanya dengan menggerakkan jarinya pedang itu seketika lepas dari tangan pemuda itu dan berpindah ke tangan Gilang.
"Sebuah pedang sakti akan mengetahui siapa pemiliknya meskipun sudah meninggal," ucap Gilang
"Bagaimana mungkin kau bisa mengendalikannya??" pemuda itu kemudian berjalan mundur menghindari Gilang
Melihat pemuda itu mundur Sang Dukun langsung menancapkan jarum santet ke sebuah boneka, hingga pemuda itu mengerang kesakitan.
"Jika pemuda itu bisa mendapatkan pedang ku, apa dia adalah cucuku??"
*Arrghhh!!!.
Mendengar suara raungan keras pemuda itu membuat tubuh Gilang seketika bersinar mengeluarkan cahaya, matanya memerah menatap nyalang kearah sang dukun.
Angin berhembus kencang menumbangkan semua benda yang ada di tempat itu, membuat semua orang langsung berlari menyelamatkan diri dari terjangan angin ****** beliung yang mulai menyapu seisi kampung itu.
Gilang segera mengayunkan pedangnya dan menghunuskannya kepada sang dukun hingga ia tewas seketika.
__ADS_1