BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Bab 58


__ADS_3

Tidak mungkin, bagaimana bisa ia tidak terasa saat rambutnya dipotong??


Shiba semakin penasaran dengan gadis disampingnya yang tetap diam tanpa bergeming meskipun pemuda itu memotong rambutnya. 


Namun Yang lebih membuatnya lebih terkejut adalah anak SMA itu.


Ia memperhatikan seragam yang digunakan pemuda itu.


 Kenapa wanita itu tak berekspresi apapun saat melihatnya?. Meskipun ia begitu dingin setidaknya ia tidak akan membelakangi pemuda itu. Sepertinya ada yang janggal?.


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak gadis itu hingga membuatnya semakin diselimuti rasa takut.


Mengetahui Shiba sedang memikirkannya, membuat lelaki itu menyeringai kearahnya.


Kedua bola Matanya kembali membulat saat melihat atribut sekolah pemuda itu.


Keringat dingin mulai membasahi keningnya saat membaca nama sekolah pemuda itu.


Suasana menjadi semakin mencekam saat Lelaki itu memasukan rambut wanita itu kedalam mulutnya.


Tidak mungkin….


Gadis itu berjalan mundur menjauhi pemuda itu.


Pemuda itu kembali menyeringai menatap Shiba yang ketakutan.


Ia bahkan menawarkan sejumput  rambut itu kepada Luna, namun Luna langsung menolaknya.


"Tidakk!!" serunya membuat perempuan di depannya terkejut mendengarnya


Wanita itu  menoleh ke arah Shiba yang terlihat ketakutan. Meskipun ia juga takut namun Shiba berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Ia kemudian berjalan  mendekatinya.  Gadis itu memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Shiba.


"Sepertinya kamu sedang ketakutan??" tanya gadis itu


Shiba mengangguk, menatap lekat gadis itu. Entah kenapa ia bisa merasakan jika wanita itupun merasakan hal yang sama dengannya meskipun ia berusaha menyembunyikannya. Setidaknya keberadaan wanita itu sedikit mengurangi rasa takutnya karena ia tidak sendirian.


"Apa kau melihat ada orang lain disini??" tanya wanita itu lagi 


Lagi-lagi Shiba menganggukkan kepalanya, ia kemudian  menunjuk kearah anak SMA itu membuat wanita itu seketika memucat.


Wanita itu berusaha menyembunyikan ketakutannya dan kembali bertanya padanya.


"Kau terlihat beberapa kali bicara sendiri, apa kau sedang berbicara dengannya?" 

__ADS_1


"Benar, apa kau tidak melihatnya?" jawab Shiba balik bertanya


Wanita itu semakin ketakutan mendengar jawaban Luna. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya dan langsung bergegas meninggalkan tempat itu ketika pintu lift terbuka.


*Ting!!


"Ah dasar gak sopan!" gerutu Shiba saat melihat wanita itu berlari meninggalkannya


Tiba-tiba suasana menjadi hening, Shiba mencoba menyimpulkan kenapa wanita itu langsung pergi meninggalkannya setelah mendengar jawabannya.


Tidak mungkin dia???


Ia kemudian memperhatikan dengan seksama lelaki itu. Gadis itu langsung menunduk untuk memastikan apa  kaki pemuda itu menyentuh tanah atau tidak.


Keringat dingin seketika mengucur deras dari keningnya saat melihat sosok pemuda itu memang tak menginjakkan kakinya ke lantai.


Ia segera menyandarkan tubuhnya ke dinding Lift agar tidak pingsan.


Ia mengusap bulu kuduknya yang berdiri, Ia memberanikan diri menatap pemuda itu. Ia terkejut bukan main saat membaca nama sekolah pemuda itu.


Benar, sekolah itu… bukankah sekolah itu adalah sekolah yang mengalami kebakaran hebat setahun yang lalu. Semua siswa dan staff pengajarnya tidak ada yang selamat.


Jadi benar, dia memang bukan manusia. Pantas saja wajahnya seperti hasil karya seni, ia begitu sempurna sebagai seorang pria. Kini aku tahu kenapa wanita itu buru-buru pergi meninggalkan aku. Bukannya dia tidak sopan, tapi ia lari karena ketakutan.


Luna terus menyalahkan dirinya dan menyesali kebodohannya.


Sekarang dia sudah tahu siapa diriku?, ini semakin menarik,


Mengetahui Luna sudah mengetahui jati dirinya, kemudian pemuda berjalan mendekatinya. Ia sengaja berdiri tepat di depannya dan mencondongkan wajahnya kepada gadis itu hingga membuat Luna langsung memejamkan matanya.


"Jangan pernah ikut campur urusan ku jika kau masih ingin tetap hidup," ancam lelaki itu membuat Shiba hampir pingsan dibuatnya


 Gadis itu mencoba menguatkan dirinya dan bertekad melarikan diri. Ia segera mendorong tubuh lelaki itu dan berlari menuju pintu lift.


Matanya berbinar-binar saat melihat lift berhenti, ia merasa jika pintu lift segera terbuka. Namun semuanya tak seperti dugaannya, meskipun lift berhenti pintunya tak kunjung terbuka.


Ia segera menekan tombol untuk membuka pintu saat lift saat berhenti. Namun entah kenapa pintu lift itu tak kunjung terbuka meskipun Shiba sudah berkali-kali menekan tombol untuk membukanya.


"Ah sial!!" seru Shiba


Ia tidak putus asa dan terus mencobanya, namun tetap saja pintu tak terbuka dan Lift kembali naik keatas.


Ia benar-benar putus asa,  ia begitu gusar karena terperangkap di lift itu bersama seorang hantu pria tampan itu.

__ADS_1


"Hahahaha!" terdengar suara tawa lelaki itu saat melihat ekspresi wajah putus asa Shiba


Suara tawanya begitu keras dan terdengar horor hingga membuat gadis itu langsung menutup telinganya rapat-rapat.


Lelaki itu begitu bahagia saat melihat begitu panik dan ketakutan. Ia kembali mendekati Luna dan tersenyum padanya. Pemuda itu kembali mencondongkan wajahnya hingga keduanya begitu dekat.


"Wangi sekali," ucapnya saat mengendus aroma tubuh gadis itu.


"Balung wangi, sepertinya aku sudah tidak tahan lagi untuk memakan mu," ucap Pemuda itu menatap nyalang kearah Shina


Entah kenapa tatapan mata sang hantu seperti sebuah sihir yang membuat gadis itu btidak bisa berkutik.


Shiba merasakan sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi dingin. Ia langsung berjalan mundur saat hantu itu terus mendekat ke arahnya.


Makin lama suhu ruangan itu semakin dingin seperti gudang penyimpanan es. Shiba seketika merasa tak asing dengan situasi itu. Ia menatap tanda merah di tangannya.


Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati, 


Rasa dingin membuat Sh hampir mati membeku di tempat itu. Ia tidak bisa kabur dari tempat itu. Ia hanya bisa menghindari pemuda itu untuk mengulur waktu. 


Gadis itu berharap ada seseorang yang akan datang menolongnya.


Ia merasakan kakinya benar-benar lemas dan tak bisa digerakkan lagi. Shiba semakin terpojok dan tak bisa berkutik lagi.


Pemuda itu menyeringai dan meletakkan tangannya di sebelah Shiba.


"Kau benar-benar menggairahkan balung wangi," ucap sang hantu


Luna hanya bisa pasrah, ia tidak bisa lari  apalagi menghindar dari sang Hantu yang sudah siap memangsanya. 


Hantu itu mengusap wajah pucat Shiba, dan menikmati ketakutannya


"Entah kenapa aku semakin bahagia saat melihat wajah takutmu itu," 


Shiba langsung memalingkan wajahnya saat pemuda itu hendak menciumnya. Ia berusaha menghindari sang hantu. Merasa dipermainkan oleh Luna membuat pemuda itu meradang dan segera mencekiknya.


Luna merasa dadanya begitu sesak dan kehabisan nafas karena hantu itu mencekiknya dengan kencang.


Ia berusaha melepaskan ,,,diri dari cengkraman hantu itu yang akan membunuhnya. Namun sekuat apapun Shiba, ia tetap tak bisa mengalahkannya.


Tiba-tiba Lift berhenti, dan lampu di ruangan itu seketika pecah.


Entah darimana datangnya tiba-tiba kunang-kunang bermunculan di tempat itu seakan hendak memberitahukan kedatangan seseorang.

__ADS_1


"Jangan pernah menyentuh milikku jika kau tidak ingin menjadi abu di tangan ku!" ancam Barra menyeringai menatap sang hantu 


__ADS_2