BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 47


__ADS_3

Malam itu Arya bersama Barra, Gilang, dan Rangga bergegas menuju ke desa kelahiran Arya.


"Kita mau naik apa Ran?" tanya Gilang


"Naik motor aja yuk, sekalian tes drive motor baru gue," ucap Rangga


"Emang lo dapat motor darimana Ran?" tanya Barra


"Alhamdulillah dapat hadiah dari malaikat maut karena berkelakuan baik saat setelah mati," jawab Rangga


"Buset, kok gue gak Ran?" tanya Gilang


"Tergantung amal perbuatan Lang, mungkin dosa lo masih banyak kali," jawab Rangga sambil terkekeh


"Sue Lo,"


"Mending kita jalan sekarang yok, takut kemalaman bahaya banyak hantu janda kembang disana," tukas Arya


"Asyik dong," jawab Gilang


"Cobain aja Om kalau asyik," jawab Arya segera naik keatas motornya


"Kuy Lang cobain," sahut Rangga


"Pastilah, kapan lagi bisa lihat janda kembang ea kan,"


"Gas naik bro!" seru Rangga


Barra segera duduk berboncengan dengan Arya, sedangkan Gilang berboncengan dengan Rangga.


"Let's go baby!" seru Rangga melesatkan motornya menembus kegelapan malam.


Suasana sepi dan mencekam terlihat saat mereka memasuki sebuah desa yang hanya di huni oleh beberapa kepala keluarga saja.


Gilang merasa heran kenapa kampung kelahiran Arya terlihat begitu sepi, seperti desa mati.


"Wah sepi sekali kaya hati," ucap Rangga setibanya di desa itu


"Benar, kenapa desanya sepi sekali?" Gilang tampak melihat-lihat keadaan desa itu.


Arya menceritakan sedikit tentang desanya. Desa Kalimati adalah sebuah desa santet yang diisolasi oleh desa-desa lain di sekitarnya.


Wajar saja jika desa itu sepi, karena sebagian penduduknya memilih pindah ke desa lain yang lebih ramai. Hanya Keluarga dukun saja yang masih menetap di desa mati itu. Semua penduduk memenuhi kebutuhan makan mereka dengan bertani dan ada juga yang mendapatkan bahan makanan dari para pelanggan mereka yang membayar jasa santet mereka dengan makanan.


Jalan di kampung sengaja di tutup agar penduduk desa tak bisa keluar dari kampung karena dianggap membahayakan warga desa sekitar.


Perlakuan diskriminasi sudah biasa mereka terima, namun jangan salah, semua akses masuk akan segera di buka setiap hari selasa Kliwon.


Dimana desa mati itu akan berubah menjadi ramai karena banyaknya para pengunjung yang melakukan ritual di hari keramat tersebut.

__ADS_1


Bahkan karena ramainya desa tersebut membuat penduduk kampung sebelah sampai membuka lapak dagangan mereka untuk mencari rezeki di sana.


"Emang manusia suka gitu giliran urusan duit aja mereka mau datang kesini, doain aja biar gue jadi Lurah di mari biar ku buat desa ini jadi ramai," ucap Gilang


"Emangnya bisa hantu jadi Lurah?" ujar Barra


"Bisa Bar, tenang aja aku janji akan membuat kampung ini jadi kampung wisata Hantu," jawab Gilang


"Jir, gue mau lah jadi penunggunya!" celetuk Rangga


"Jangan Ran, lo lebih cocok jadi kuncen!" seru Barra membuat semua tertawa mendengarnya


"Sue lo, tahu aja kalau aku mantan Kuncen,"


Saat mereka memasuki gerbang pedesaan, tiba-tiba puluhan bunga bermekaran membuat desa itu terlihat begitu indah dan asri.


Aroma wangi tampak menyeruak di seluruh desa membuat semua penghuni desa itu seketika keluar dari rumah mereka.


"Ada apa ini, kenapa kampung kita berubah jadi terang benderang dan juga wangi," ucap seorang penduduk


"Sepertinya kita kedatangan tamu spesial," sahut penduduk lainnya menyambut kedatangan Arya dan teman-temannya.


"Bukankah kau Arya, putra Ki Garwa?"


"Benar Aki," jawab Arya ramah


"Kalian bertiga bukan manusia tapi berani menginjakkan kaki di kampung santet ini, apa kalian tidak takut pada kami?" tanya lelaki itu menghampiri Barra dan kedua temannya.


"Arya," mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar menghampiri mereka.


"Ayah," Arya langsung memeluk erat lelaki itu


"Kenapa kamu kembali lagi ke sini?" tanya pria itu mengernyit


"Selain kangen aku juga ingin memperkenalkan teman-teman baruku pada ayah, kebetulan salah satu dari mereka ingin meminta bantuan ayah," jawab Arya


Melihat ketiga teman putranya Garwa langsung menggelengkan kepalanya.


"Padahal aku sengaja memasukkan kamu ke pesantren supaya kamu bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya, tapi buah emang jatuhnya tak jauh dari pohonnya. Bukannya berteman dengan manusia kamu, eh malah temenan sama hantu Le, angel pancen angel!" seru Ki Garwa


"Sans aja Aki, biarpun kami demit kami gak suka usil kok Aki. Lagian Arya sebenarnya udah normal kok tapi cuma dikit soalnya dia masih suka mainan santet jadi banyakan gak normalnya," jawab Gilang


"Tunggu, sepertinya aku mengenalmu?" ucap Ki Garwa


"Sudah pastilah, siapa coba yang gak kenal sama Gilang Ken Arok?" jawab Gilang menyombongkan diri


"Bukan kamu Ki sanak, tapi Ki Rangga, apa benar kamu Aki Rangga dukun yang sangat terkenal itu?" tanya Ki Garwa


Seketika Gilang langsung menghilang tanpa jejak karena malu.

__ADS_1


Sedangkan Rangga dan Barra tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ki Garwa.


"Benar Aki, aku Rangga,"


"Senang bisa bertemu denganmu Aki, ternyata kamu masih terlalu muda saat meninggal, sayang sekali keturunan mu tidak ada yang mewarisi keahlian mu?" jawab Ki Garwa


"Emang kalau orang baik itu umurnya pendek Aki,"


"Jangan bilang kalau aku ini jahat makanya panjang umur?" celetuk Ki Garwa


"Bukan gitu Aki, canda aja jan baper ya," sahut Rangga


"Kalau begitu mari silakan masuk,"


Ki Garwa kemudian membawa mereka menuju ke rumahnya.


Ia kemudian mempersilakan mereka duduk dan tidak lupa memberikan jamuan makan malam untuk mereka.


"Silakan dinikmati Gusti Pangeran Gondoruwo, maaf saya hanya punya camilan kemenyan panggang doang, sama bunga darah ayam cemani, silakan dimakan. Aku yakin anda pasti rindu dengan sajian khas ini," ucap Ki Garwa memberikan baki sesaji kepada Barra


Ia juga memberikan dua gelas kopi hitam dan rokok lisong untuk Rangga dan Gilang.


"Tahu aja kalau gue lagi pengin banget ngerokok, udah hampir satu tahun ini tak ada seorangpun yang memberikan sesaji di makam ku," ucap Rangga


Sebenarnya Gilang yang suka banget sama kopi ini, sayangnya rasa malu membuatnya tak bisa mencicipi minuman favoritnya.


*Sluuurrrppp!!..


"Ahhh, nikmat mana lagi yang kau dustakan," ucap Gilang menyeruput kopinya


"Dih belum juga ditawari sudah minum duluan!' cibir Rangga


"Udah kok, di dalam hati," jawab Gilang


Ki Garwa kemudian menanyakan maksud kedatangan mereka di desa santet itu.


Barra kemudian menceritakan tentang keinginannya untuk menjadi manusia seperti Arya.


Ki Garwa sejenak terdiam mendengar ucapan Barra. Ia kemudian mengingat sesosok makhluk gaib yang menginginkan hal serupa dengan Barra.


Ia kemudian memberikan sebuah pakaian kepada Barra sebagai jawaban atas permintaannya.


"Apa maksudnya Aki?" tanya Barra


"Pakailah pakaian itu dulu, jika kau kuat memakainya sampai terbit fajar maka kau bisa menjadi manusia seutuhnya, tapi jika tidak bisa maka aku tak bisa membantumu,"


To be continued


Jangan lupa kasih like, komen, love dan gift/vote kalau punya ya.

__ADS_1


Terimakasih yang selalu like dan komen lope-lope pokoke 💋


__ADS_2