BARRA CINTA DUA DUNIA

BARRA CINTA DUA DUNIA
Chapter 48


__ADS_3

Barra terlihat ragu-ragu saat hendak mengenakan pakaian yang diberikan oleh Ki Garwa.


Dengan dukungan dari kedua sahabatnya yaitu Gilang dan Rangga, akhirnya Barra memakai pakaian itu meskipun dengan sedikit was-was.


Entah kenapa ia merasa jika, ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dengannya.


Seketika ia merasa mengantuk saat memakai pakaian itu dan setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi dengannya.


Suara bising alarm membuat Barra segera membuka matanya.


"Berisik sekali," ucapnya kemudian mematikan jam beker di sampingnya


Saat ia kembali menarik selimutnya, seorang lelaki bertubuh tegap menghampirinya.


"Hari ini ada rapat dengan komisaris PT Reksa Tbk, anda harus segera? bersiap-siap jika tidak ingin terlambat," ucap pria itu menunjukkan list kegiatan yang harus dijalankan olehnya.


Barra hanya menganga mendengarnya. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi. Ia kemudian bangun dan menatap sekelilingnya. Ia menatap fotonya dirinya yang tergantung di dinding kamarnya begitu gagah.


Ia merasa asing dengan lingkungan itu hingga keluar kamar untuk melihat yang lainnya.


Sebuah rumah besar yang mewah dilengkapi furniture klasik membuat rumah itu semakin elegan.


"Dimana ini, apa aku sudah menjadi manusia seperti ucapan Ki Garwa," Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyum simpul di wajahnya


"Kamu sudah bangun sayang, jangan lupa hari ini mamah akan mempertemukan kamu dengan anak temen mamah. Aku harap kali ini kamu bisa meluangkan waktu mu untuk menemuinya,"


Barra mengangguk kemudian segera menuju ke meja makan. Aneka hidangan sudah tersedia di meja, rasa lapar membuatnya langsung duduk dan menyantap sarapan paginya dengan begitu lahap.


"Kau pasti sangat kelaparan setelah bekerja keras semalam, makan yang banyak agar kamu selalu sehat," ucap wanita itu kemudian menemaninya sarapan.


Selesai sarapan dan berganti pakaian, Barra di temani oleh assisten pribadinya menemui rekan kerjanya.


Seorang pria dengan wajah tampan dengan tubuh atletis menyambutnya dengan hangat.


Mereka kemudian membicarakan tentang kerjasama kedua perusahaan, meskipun Barra baru pertama kali bertemu dengan pria itu entah Kenapa ia seakan tahu segalanya hingga kesepakatan antara keduanya pun di tandai dengan penandatanganan kontrak kerjasama kedua perusahaan.

__ADS_1


Selesai menyelesaikan urusannya Barra kembali ke kantornya. Di sana sang Ibu sudah menunggunya.


Wanita itu kemudian memintanya untuk ikut dengannya, ia ingin memperkenalkannya dengan seorang wanita anak sahabatnya.


Setibanya di restoran seorang wanita paruh baya dan gadis cantik berwajah oriental tersipu menyambutnya.


"Perkenalkan saya Delia Paramitha, putri dari Brandon Adiwijaya pemilik Brawijaya Corporation,"


Barra menyambut uluran tangan gadis itu, "Barra," ucapnya singkat


Melihat kedu anak-anaknya mulai berbincang kedua orang tua mereka langsung meninggalkannya guna memberikan mereka kesempatan keduanya untuk mengenal satu sama lain.


Sementara itu ponsel Barra terus berdering membuatnya Dinda mengijinkannya untuk membuka ponselnya.


"Angkat saja, takutnya itu telpon penting dari rekan bisnis mu!" tukas Dinda


Barra kemudian melihat siapa yang menghubunginya.


"Gita, kenapa dia terus menghubungiku??"


"Halo Git kenapa?" tanya Barra


"Apa kamu terluka??"


Gita tak menjawab, hanya terdengar suara isak tangisnya membuat Barra langsung bergegas pergi meninggalkan Dinda tanpa memperdulikan panggilan wanita itu.


Barra segera melesatkan mobilnya untuk menemui Gita.


Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar bisa menemui Gita tepat waktu.


*Ciit!!


Setibanya di rumah Gita, ia segera bergegas memasuki rumah tersebut.


Ia langsung menghentikan langkahnya dan berdiri termangu saat melihat seorang pria menyematkan cincin pernikahan di jari manis wanita itu.

__ADS_1


Karena tak terima melihat Gita menikah dengan pria lain, ia segera menghampiri wanita itu dan membawanya pergi.


"Kau tidak boleh melakukan ini padaku, kau adalah milikku dab tidak seorangpun boleh memiliki mu," ucap Barra kemudian melepaskan cincin di jari manis Gita dan melemparnya.


"Ini semua salahmu Barra, kau terlalu sibuk hingga sering mengabaikan aku. Jadi jangan salahkan aku jika orang lain merebut ku darimu, percuma saja kau mengkhawatirkan aku jika kau tidak pernah mengetahui apa yang aku rasakan," jawab Gita


"Maafkan aku Git, kau tahu kan kenapa aku seperti ini. Aku bahkan rela melakukan apapun demi mendapatkan dirimu, tapi aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa kehilangan dirimu, kau adalah wanita terakhir dalam hidupku dan aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu," Barra kemudian menarik lengan wanita itu namun Gita tak bergeming


"Sudah terlambat Bar, aku sudah menjadi istri orang lain," ucap Gita melepaskan lengan Barra


Entah kenapa Barra merasakan sakit yang begitu dahsyat hingga membuat tubuhnya serasa teriris-iris.


*Buugghhh!!


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah membuat darah segar mengalir dari bibirnya.


Melihat suaminya memukuli Barra membuat Gita langsung melerainya.


"Hentikan!" seru Gita menarik lengan suaminya


"Aku harus memberi pelajaran kepada pria sombong itu!" seru suami Gita


"Cukup, Barra sudah cukup terluka dengan semua ini jadi tolong jangan menambah penderitaannya," Gita kemudian menghubungi Assisten Barra agar menjemputnya.


Tidak lama assisten Barra datang dan membawanya pergi.


"Sudahlah Tuan jangan terlalu bersedih, bukankah lebih baik kalian berpisah. Toh orang tua anda tidak pernah merestui hubungan Anda dengan Gita, jika kau tetap memaksakan hubungan kalian, Gita yang akan tertekan. Meskipun kalian saling mencintai tapi Gita akan menghadapi kebengisan kedua orang tua Anda yang tak pernah menyukainya. Apa anda ingin melihat wanita yang anda cintai menderita??"


Seketika Barra terbelalak mendengar ucapan pria itu.


"Siapa kamu, kenapa kau tahu banyak tentang aku dan Gita?" tanya Barra


"Aku adalah Garra assisten pribadi anda. Aku tahu kau datang ke dunia ini untuk menjadi manusia. Menjadi manusia tidak semudah yang kau bayangkan, kau harus siap menerima rasa sakit yang belum pernah kau rasakan saat kau berada di alam gaib, kau juga tidak bisa berbuat seenaknya karena kau tidak punya ke kekuatan seperti di negeri kegelapan. Bahkan kau tidak bisa memiliki sesuatu yang sebenarnya adalah milikmu karena keadaan, jadi saranku jadilah diri kamu sendiri dan jangan pernah mengingkari takdir mu, karena apapun yang kau terima itu adalah yang terbaik untukmu. Jodoh, mati dan rezeki sudah di tentukan jadi jangan bersedih hanya karena kamu gagal memiliki wanita yang kau cintai, karena itu berarti ada wanita lain yang lebih baik darinya yang Tuhan siapkan untuk dirimu. Jangan pernah menyesali perbuatanmu karena meskipun kau menjadi manusia jika Gita bukan jodohmu maka kalian tidak akan pernah bersatu," ucap Garra menasihatinya


Tiba-tiba mobil yang di kemudikan oleh Garra di tabrak oleh truk dari arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Braakkkk!!


"Apa ini rasanya sakaratul maut, kenapa tubuhku terasa begitu sakit!"


__ADS_2