
Di kediaman Dirgantara nampak Callista yang mondar-mandir menunggu kabar dari putra sulungnya.Semenjak ia melihat Verlee berlari pergi meninggalkan rumah,ibu dua anak itu terlihat mencemaskan keada'an menantunya.Jonatan duduk lebih tenang daripada Callista yang dari tadi mondar-mandir menunggu putranya datang.Berkali-kali ia menghubungi putranya untuk segera datang menemuinya.
Terlihat mobil lamborghini Huracan memasuki gerbang pertanda orang yang di tunggu-tunggu telah pulang.Callista dan Jonatan bergegas menghampirinya.Axel yang baru turun dari mobilnyapun di rundung berbagai pertanya'an dari kedua orang tuanya.
"Axel,,,mana istrimu?tanya Callista
"Di rumah nana,,,Mom."jawabnya lesu
"Kenapa tidak kau bawa pulang,kenapa malah kau biarkan dia di sana?"
"Saat ini dia sedang marah kepadaku Mom,jika aku menemuinya sekarang,maka sak,,,,,,"ucapnya menggantung hampir keceplosan.Karena ia bisa menebak bagaimana sikap orang tuanya jika sampai tahu Verlee sakit.
"Sak apa Axel?katakan dengan jelas."Desak jonatan penasaran.
Axel menghembuskan nafas kasar lalu melirik expresi kedua orang tuanya yang menunggu jawabanya.
"Verlee deman Mom,,,Dad,,,!"Tap....."ucapnya terpotong karena teriakan dari Callista.
"Apaaaa?lalu kau membiarkan saja saat istrimu sakit,Axel?"
__ADS_1
"Seperti yang ku katakan tadi Mom,saat ini dia sedang marah kepadaku,,,hal ini akan memperparah kondisinya jika aku menemuinya sekarang."tukas Axel menjelaskan
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri Mom,,,Dad."terang Axel
"Rumah tangga?ternyata kau bisa mengakui ini masalah rumah tangga setelah kau tidak mengakui Verlee sebagai istrimu?kau akan menyesal Axel jika sikapmu terus menerus seperti ini,,,Mom dan Daddy kecewa akan sikapmu.
Axel yang semakin pusing karena omelan Callista pun segera masuk ke kamarnya,,,namun di ujung tangga ia melihat adiknya sedang memandangnya.Axelpun menemui adiknya dan menanyakan tentang masalah kemarin.
Tanpa aba-aba Axel menarik tangan Brain dan mendudukanya di sofa.Brain yang sudah bisa menebakpun hanya bisa pasrah.
"Ini semua karenamu,Brain."teriak Axel menatap adiknya sedangkan Brain hanya menunduk tak berani menatap kakaknya yang sedang marah.Sedangkan Jonatan dan Callista yang mendengar teriakan Axelpun bergegas menghampirinya.
"Katakan pada kakak,apakah kau menaruh obat perangsang ke dalam botol minuman yang kakak dan verlle minum?
"Darimana kau mendapatkan ide segila itu?katakan Brain,kenapa kau lakukan itu?"teriak Axel masih emosi.
"Aku kasihan melihat kakak ipar kak,dia sangat kacau ketika kau hanya menganggapnya sebagai adik,,,apakah kau tidak sadar ketika melihatnya akhir-akhir ini mabuk-mabukan karenamu."ucap Brain menegaskan pada kakaknya
"Darimana kau tahu?"tanya Axel kaget ,,,
__ADS_1
"Ckk,,,,aku melihatnya dengan mata kepalaku tanpa kau sadari kak.
Axelpun menjambak rambutnya merasakan kepalanya semakin pusing.Ia melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.
Sedangkan Brain merasakan bulu kuduknya semakin merinding ketika mendapati sorotan tajam dari kedua orang tuanya.
"Aduh,,,habislah riwayatku saat ini."gumamnya dalam hati mencoba kabur namun di tahan jonatan.
"Anak nakal,,,kembali duduk di tempatmu."teriak Jonatan dan Brainpun gagal kabur kembali duduk di sofa yang ia duduki tadi.
"Katakan pada Daddy,,,darimana kau mendapatkan ide gila itu?bahkan kau masih anak di bawah umur yang tak pantas berbuat seperti itu."
"Maaf Dad,Brain mengaku salah,,,Brain mendapatkan ide itu dari uncle Delon."ucap Brain membuat Callista menganga.
"Apaaaaa?jadi Delon yang mengajarimu?
"Bukan Dad,,,!lebih tepatnya aku tidak sengaja mendengar obrolan Mom,,,Dad dan uncle delon tentang masalalu kalian."ucapan Brain bagai sebuah petir yang menyambar Callista dan Delon.Karena anak bungsunya mendengar obrolan tentang masalalunya yang memalukan.
"Sayang,,,masalalu kita terungkap kembali."Bisiknya pada Callista yang masih kaget.
__ADS_1
Karena saking malunya kepada Brain yang mengetahui masalalu mereka berdua yang memalukan,,,kini suami istri itu bergegas meninggalkan brain dan menuju ke dalam kamar mereka.Sedangkan Brain yang melihatnyapun kebingungan.
"Orang-orang di rumah ini aneh semua,,,hanya aku yang normal."Gumamnya dalam hati lalu menyambar kunci motornya sembari bersiul-siul tanpa beban.