
Dokter dan perawat berjalan cepat menuju ruangan mona di rawat.Brain sangat senang melihat sahabatnya mulai membuka matanya.Sayup-sayup moana memandang ruangan yang serba putih.
"Aku di mana?kenapa semua serba putih?"
"Mona,,,syukurlah kau sudah siuman."ucap brain tersenyum dan monapun menoleh ke arah suara.
"Brain,"pangggil mona dengan mata yang mendadak bergenang air mata namun mampu ia tahan agar tidak menetes."
"Selamat siang,,,!syukurlah pasien sudah siuman.Biar saya periksa dulu ya."ucap dokter tersenyum ramah dan monapun mengangguk.
"Istirahat yang cukup,makan yang bergizi,dan jangan terlalu kecapean ya."
"Baik dok terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi,semangat,,semoga cepat sembuh."ucap dokter menyemangati
Setelah kepergian dokter dan perawat,,,kini tinggalah brain dan mona saja.Rasa canggung tiba-tiba muncul pada keduanya.Brain bingung untuk membuka suaranya.
"Ehmmmmm,,,bagaimana keada'anmu mon?apa ada yang sakit."
Mona menggeleng lalu memandang brain dan tersenyum .
"Mona,,,maafkan aku."
"Sejak kapan kamu bilang aku kamu?biasanya juga lo gua,"ucap moana mengalihkan pembahasan karena bisa menebak arah percakapan brain.
"Mon,,,please aku serius,,,!maafkan aku yang telah menodaimu.Aku benar-benar tidak mengingat tentang malam itu,mon.
"Tak apa,brain,,,!itu juga salahku,,,lupakanlah."
"Bagaimana bisa kamu menyuruhku melupakanya mon?aku bukan pria brengsek yang lari dari tanggung jawab.Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku,mon.
"Tanggung jawab seperti apa yang kau maksud,brain?kita masih pelajar tamatan SMP dan akan menuju SMA.Katakan tanggung jawab seperti apa yang bisa kau lakukan?
"Kita akan menikah."
"Enggak brain,,,!umur kita baru saja menginjak tujuh belas tahun.Sudahlah lupakan,,,fokuslah pada masa depan.
"Tapi bagaimana jika kau hamil?bahkan kau,,,,,"ucap brain hampir keceplosan.
"Aku kenapa brain?
"Tidak,,,tidak jadi,,,!pokoknya aku harus tetap bertanggung jawab.Entah kapanpun itu kita harus menikah jika umur kita cukup,mon."
"Baiklah brain,,,terserah kau saja,,,!asal kau harus fokus skolah biar suxes.Nanti kamu nikahin anak orang tanggunganya besar loh."
"Tenang saja,,,aku sudah dapat modal dari kakaku.Aku akan mendirikan kafe untuk awal usahaku."
"Wah,,,semangat brain,semoga kamu suxes.Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu."ucap moana tersenyum menyembunyikan luka di hatinya.Begitupun brain membalas senyuman moana padahal hatinya dalam keada'an gundah gulana.
"Aku akan selalu semangat,,,,asal kamu juga harus semangat sembuh.Kau harus melihat kesuxesanku,mon."
"Baiklah,,,aku pasti semangat."
"Mon,,,"ucap brain sambil menggenggam tangan mona.
__ADS_1
"Mulai saat ini,,,aku berjanji di hadapanmu.Aku akan berhenti menjadi pria playboy.Aku hanya akan fokus pada satu gadis yaitu kamu."ucap brain bersungguh-sungguh sedangkan mona tak tahan untuk tidak menangis bahagia.
"Sebenarnya aku sakit apa sih brain?"
"Siapa bilang kamu sakit?kamu kan gadis yang kuat dan jarang sakit."ucap brain menutup-nutupi penyakit mona.
"Kok aku merasa ada yang kamu tutupin."
"Perasa'anmu saja,,,!kamu hanya demam biasa kok."
"Syukurlah kalau hanya demam."
"Tok,,,tok,,,tok."
Brain membukakan pintu dan ternyata ada kakaknya dan iparnya di luar.
"Selamat siang mona,,,,bagaimana kondisimu dek?apa sudah enakan?"
"Siang kak Verlee,,kak Axel,,,!aku sudah baikan kok"
"Syukurlah,,,!oh ya,,,ini kakak bawakan buah dan bubur buat kamu.Dan ini makanan buat kamu brain,,,kata kakakmu kamu belum makan sama sekali."ucap Verlee kawatir
"Nanti saja kak,,,aku mau bantu mona makan buburnya dulu.''
"Gak usah brain,,,kamu makan saja makananmu,,,aku bisa makan sendiri kok."
"Gak mon,,,sini aku suapin,,,buka mulutmu Aaaaaa,,,,
Brain menyuapi mona dengan sangat telaten.Sesekali ia mengelap sudut bibir mona yang belepotan.Axel dan Verlee yang melihat perubahan adiknyapun memberi kode.
"Kenyang aku."
"Lhah,,,kok gak di habiskan sih buburnya dek?gak enak ya?"tanya verlee pura-pura kecewa
"Enak bnget kok kak,,,tapi aku kenyang."
"Biar aku yang habisin..."ucap brain menghabiskan bubur bekas mona.Monapun melebarkan matanya melihat brain begitu lahapnya.
"Brain itu kan sisaku,,,kamu gak jijik?"
"Mamangnya kenapa kalau sisamu?aku gak jijik kok,,,malah lebih enak."ucapan brain membuat wajah mona blushing.
"Aku juga mau dong sayang sisamu,"timpal Axel menyindir brain.
"iiiich gak kreativ ikut-ikutan."
"Biarin."ucap Axel meledek adiknya yang mulai ceria kembali.Axel bersyukur Brain bisa kembali usil.
"Huh,,,resek."timpal brain membuat mona tersenyum.
"Sayang kau sudah sadar?"teriak mita yang baru saja masuk ruangan dan mendapati putrinya telah sadar.
"Ayah,,,bunda,,,!maafkan mona membuat ayah dan bunda cemas.
"Tidak sayang,,,yang terpenting kau sudah sadar kami pun lega."ucap delon kepada putrinya.
__ADS_1
________
Mona saat ini sudah pulang ke rumah.Gadis itu menangis minta pulang ketika ia mengetahui fakta bahwa ia sakit kanker.
Bahkan ia menolak saat orang tuanya menyarankan rahim moana di angkat.
Gadis itu menangisi dirinya di dalam kamarnya.
Sedangkan mita yang tak tegapun berdiri dari duduknya hendak menghampiri
"Mona",Namun di larang Delon.
"Ting ,,,tung."bertepatan suara bel berbunyi,delonpun membuka pintu dan ternyata ada brain di luar.
"Selamat Siang ayah,,,apa mona ada?"
Wajah delon kembali cemas saat brain menanyakan tentang mona.Brain yang menangkap keanehan suasana pun jadi bingung.
"Masuklah brain,,,mona ada di kamarnya,,,lebih tepatnya mengurung diri di kamar."
"Mengurung diri?"
"Ya,,,karena dia sudah tau tentang penyakitnya dan saat ini dia bersedih mengurung diri di kamar."
"Brain akan coba untuk membujuk mona yah."
"Ya,,,barang kali setelah mendengar suara kamu dia mau buka pintu."
"Tok,,,tok,,,tok,,,,Mona ini aku brain!buka pintunya dong,,,kangen nih.
"Tok, ,tok,,tok,,,,tega banget aku di kacangin,,,garing nih.
"Cekrek,"bunyi suara pintu di buka,,,mita dan delon yang mendengarnyapun lega.Mita dan Delon membiarkan saja Brain masuk ke kamar mona.
"Aduh,,,aduh si jelek nangis,,,cup,,,cup tambah jelek kalau nangis."
"Brain,,,hik,,,hik."
Brainpun memeluk mona,menenangkannya.Entah kenapa melihat mona menangis seperti ada sesuatu yang tajam menembus jantungnya.Tapi ia ingat kata kakaknya.Ia harus terlihat kuat untuk menguatkan mona.Di pandangnya wajah mona,,,di usapnya air mata mona.
"Kenapa?jangan menangis,,,katakan semua yang mengganjal di hatimu."
"Brain,,,apakah aku akan mati?"
"Deg,,,"lagi-lagi seperti ada sesuatu yang tajam menusuk hati brain.
"Kenapa bilang begitu?kalau kamu mati siapa dong temen aku yang resek?kamu akan sehat mona,,,asal kamu nurut kata-kata orang tua.
"Gak brain,,,!aku gak mau mengangkat rahim aku.Aku masih ingin menjadi wanita normal terlepas kelakuanku yang urakan.Kalau rahimku di angkat aku gak bisa punya anak kelak brain."
"Fikirkan kesehatanmu dulu,,,aku gak masalah jika kamu gak bisa hamil kelak.Aku yang akan menikahimu kelak,,kita masih bisa bahagia tanpa anak.
"Bagaimana kalau benihmu sedang berkembang di rahimku setelah malam itu?tidak mungkin aku membunuhnya."
"Deg,,,"brain tersentak baru terfikirkan."
__ADS_1