Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Tangisan Langit


__ADS_3

Malam ini begitu dingin, hembusan udara menelisik tubuh. Di luar hujan masih deras, malam ini langit menangis meronta entah minta apa. Kilatan cahaya lensa petir sejak tadi memotret bumi tanpa izin, diikuti suara gelegar yang tak kunjung henti.


Sejak tadi wanita itu mondar-mandir di rumah tamu, balutan kain menutupi sebagian tubuhnya, itu pun tak mempan untuk menghalangi udara dingin menelisik. Ia sedang menunggu seseorang saat ini.


Sejak tadi siang hingga malam seperti ini suaminya tak kunjung pulang, sesekali matanya menilik jendela hanya untuk memastikan apakah suaminya sudah terlihat apakah belum.


Malam semakin menjelma, hujan tak kunjung reda, malah semakin menjadi, sepertinya akan terjadi badai.


Lama ia menunggu, akhirnya ia lelah sendiri, ia menyenderkan tubuhnya di kursi ruang tamu, memejamkan mata, tapi tidak tidur.


Namun, tangannya masih mengelus lembut perutnya yang membuncit, 9 bulan sudah ia mengandung malaikat kecil di dalam rahimnya, beberapa hari lagi ia akan melahirkannya. Tak heran jika rasa tak sabar selalu terbayang di kepala.


Namun, dibalik kebahagiannya itu telah terselubung rasa sakit juga, walaupun sebentar lagi anaknya akan lahir, namun apakah itu akan menjadi pelengkap hidupnya? Tak terasa sebulir bening jatuh dari pelupuk matanya, perlahan ia membuka matanya, ia mulai terisak.


Satu tahun lebih sudah ia jalani pernikahan tak diinginkan ini, rasanya seperti dipenjara seumur hidup. Walau ia sedang mengandung anak suaminya, namun ia sadar suaminya tidak akan pernah mau mengakui anaknya. Seolah selama pernikahannya ini, ia hanya di jadikan status saja.


Memang mereka tidur sekamar seranjang, akan tetapi seolah suaminya hanya menjadikannya hiasan ranjang yang tak berguna.


"Semoga nasib kamu tidak seperti ibu nak" katanya di tengah isakan tangisnya, sambil mengusap lembut perutnya.


Beberapa hari lalu suaminya membawa pulang seorang wanita, entah apa hubungan suaminya dengan wanita itu, yang jelas mereka sangat dekat. Peristiwa itu ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, wanita mana yang tidak sakit hati jika suaminya bersama wanita lain? Bahkan seekor anjing pun akan merasa cemburu jika pemiliknya memiliki hewan peliharan baru.


Tiba tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar, ia menebak itu suaminya. Segeralah ia bangkit, sembari mengahapus air matanya ia berjalan membukakan pintu. Nampak suaminya yang sedikit teler akibat pengaruh alkohol, ia minum lagi.


Awal niat ingin membantu suaminya berjalan, namun lagi-lagi suaminya menepis tangannya, "aku bisa sendiri" katanya sambil berjalan menjauhinya. Setelah menutup pintu ia berjalan menghampiri suaminya yang kini tengah duduk di kuris sambil menyenderkan tubuhnya.


"Mas mau kubuatkan kopi?" Tanya wanita itu.


Suaminya yang mendengar perkataannya itu mengangkat kepalanya, "kenapa baru bilang? Dasar wanita tidak berguna!" Sergahnya yang sukses membuat hati istrinya itu hancur tersayat.


Sudah cukup, cukup sampai disini. Ia sudah tak tahan lagi. Sudah cukup lama ia menderita, selama ini suaminya tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, wajar saja jika ia berontak.


"Mas, kamu kenapa sih nggak pernah anggap aku sebagai istrimu?" Kata wanita itu, matanya mulai berkaca-kaca. Kini suaminya berdiri, ia masih cukup sadar dari pengaruh alkohol.


Suaminya mulai berjalan mendekatinya, wanita itu berjalan mundur, namun dengan cepat tangan lelaki itu mencengkram rahang wanita itu, telapak tangannya yang besar mampu mencakup rahang wanita itu. Saking kasarnya, sampai wanita itu kesakitan, ingin rasanya melepaskan cengkraman itu, namun apalah daya, tangan suaminya lebih kuat dari tangannya.


"Kamu mau tau kenapa aku nggak pernah anggap kamu sebagai istri?" Katanya, cengkramannya semakin kuat, "kamu kan yang minta ibuku buat aku nikahin kamu? Sampai aku diancam tidak di beri harta warisan!" Lanjutnya dengan penuh amarah.

__ADS_1


Sejurus kemudian, lelaki itu mendorong tubuh istrinya sembari melepaskan cengkramannya, hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai.


Belum sempat bangkit, ia merasakan perutnya keram, sakit mulai menjalar. Namun, ia berusaha berdiri.


"Wallahi Mas aku nggak pernah berbuat seperti itu" kata wanita itu meyakinkan. Namun entah terbuat dari apa hati suaminya sehingga begitu sukar untuk percaya pada istrinya sendiri.


"Aku nggak akan pernah percaya padamu" jeda tiga detik, "oh atau anak yang ada di kandunganmu ini bukan anakku? Ngaku kamu!" Sergahnya dengan nada keras.


Wanita itu tidak percaya jika suaminya seperti itu, berkali-kali ia mencoba meyakinkan suaminya namun tidak berhasil.


Di malam yang gelap ini, hujan masih mengguyur.


Malam itu juga wanita itu diusir oleh suaminya sendiri, lebih baik ia pergi dari pada hidup bagai di neraka bersama lelaki itu. Maka ia pergi meninggalkan rumahnya, di tengah guyuran hujan ia berjalan sambil menangis.


Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap suaminya akan mengubah keputusannya dan menjemputnya untuk kembali, namun itu tidak terjadi, dan tidak akan pernah terjadi.


Ia terus berjalan, tubuhnya sudah basah kuyup terkena hujan, Isak tangis diiringi suara guntur melengkapi siksa batinnya.


Tiba-tiba ia merasakan sakit di perutnya, kontraksi terjadi, ia menduga bahwa anaknya akan lahir malam ini. Kakinya yang telanjang berjalan gontai menyusuri jalan, tak ada seorang pun yang lewat, karena cuaca seperti ini.


Ia masih berusaha berjalan, menahan rasa sakit, hati juga jiwa. Ia harus segera mencari tempat teduh.


Guntur masih bergeming, kilatan petir masih menghiasi langit, hujan seolah semakin deras. Tiba-tiba muncul rasa ingin mengenjan, ia memperbaiki posisinya.


"Ya Allah Ya Tuhanku.. tolong selamatkan anak hamba" pinta wanita itu pada Tuhannya di tengah erangannya.


Wanita itu terus berusaha mengenjan, diiringi suara gelegar petir yang sejak tadi menyambar bumi.


Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis malaikat kecil tergeletak di bawah kaki ibunya, sedangkan ibunya masih mengatur nafas, bayi itu lahir bersamaan dengan suara petir, di tengah hujan yang lebat. Wanita itu akhirnya mengambil anaknya, kemudian ia melepas kerudungnya, kemudian di balutkan kain kerudung itu di tubuh anaknya, berusaha menenangkan anaknya yang masih menangis, walau sakit masih terasa, itu akan terbayarkan dengan kehadiran malaikat kecil yang berada di pelukannya sekarang.


"Semoga kau selalu dalam perlindungannya anakku" kata wanita itu sambil mengusap lembut pipi anaknya. Malam itu seorang malaikat lahir dari rahim seorang wanita yang sering di zolimi oleh suaminya sendiri, semoga kelak anaknya tidak bernasib sama seperti ibunya.


****


 


"Eh Pak, tidak ada yang kurang kan? Semuanya lengkap? Mumpung masih tidak jauh dari pasar!"

__ADS_1


"Insyallah tidak Bu, nanti jika misalnya ada yang kurang biar bapak yang berangkat beli lagi"


Sepasang suami istri itu pergi pulang naik becak setelah membeli bahan-bahan untuk membuat bakso di pasar. Belanjaannya cukup banyak, hingga depan belakang pun penuh.


Sepasang suami istri penjual bakso di desanya, hari ini mereka belanja keperluan bahan bakso yang akan mereka buat. Mereka belanja di pasar terdekat, yaitu di desa tetangga karena penjual bahan lebih lengkap disana.


Becak yang mereka tumpangi melewati sebuah tempat pembuangan sampah, tak jauh dari sana berdiri sebuah pondok beratap daun kelapa.


Saat melewati pondok itu mereka mendengar suara tangisan bayi, sontak istri tukang penjual bakso itu pun menyuruh menghentikan becaknya.


"Ada suara bayi pak" kata wanita itu. Pada suaminya. Suaminya yang juga mendengar pun mendongakkan kepalanya, mencari-cari sumber suara tangisan bayi itu, kemudian ia turun dari becak. Diikuti istrinya dan juga tukang becak.


"Kok ada perempuan itu siapa pak?" Tanya istrinya.


"Coba kita cek disana pak" kata tukang becak pada lelaki berpeci hitam itu. Lelaki penjual bakso pun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh tukang becak tersebut.


Tukang becak dan istri dari penjual bakso itu mencoba membangunkan perempuan yang tak sadarkan diri. Sedangkan lelaki berpeci itu melihat seorang bayi yang sedang menangis di samping perempuan yang pingsan itu.


"Loh buk.. ada bayi!" Kata lelaki berpeci itu sambil mengambil bayi itu. Sontak istrinya dan tukang becak itu terkejut.


"Masyallah pak.. jangan-jangan ini ibunya" kata istri lelaki berpeci itu. Wanita itu berusaha untuk membangunkan perempuan yang tak sadarkan diri tersebut, namun beberapa kali ia mengguncang tubuh perempuan itu, hasilnya tetap sama, matanya masih tertutup rapat.


Lalu ditempelkannya dua jari wanita itu ke pangkal leher perempuan itu, denyut nadinya sudah tidak ada, kemudian di dekatkannya jarinya ke hidung perempuan itu, nafasnya sudah tidak ada.


"Innallillahi wainnaillaihi Raji'un" seru wanita itu.


Perempuan itu sudah meninggal kala setelah melahirkan anaknya. Tanpa basa-basi lelaki berpeci itu memanggil warga setempat untuk dimintai tolong, kemudian datanglah beberapa warga.


Salah satu dari mereka memanggil Pak RT, salah satu dari mereka lagi memanggil ambulans, namun bayi itu masih berada di gendongan lelaki berpeci itu.


Beberapa saat kemudian ambulans datang, sepasang suami istri penjual bakso itu pergi ke rumah Pak RT bersama bayi itu pula. Sampai disana mereka membicarakan sesuatu, dianaa cukup ramai karena warga setempat yang mendengar kehebohan itu turut hadir.


"Jadi bagaimana ini? Siapa yang akan merawat bayi itu?" Tanya Pak RT pada semua orang yang ada di sekitarnya. Sepasang suami istri itu saling bertatap mata, mencoba membantu menemukan jalan keluar.


"taruh di panti asuhan saja pak, toh kita nggak tau siapa orang tuanya" kata seorang warga yang ikut serta berunding. beberapa orang mengangguk menyetujui rencananya, namun peryataannya itu di tepis oleh lelaki berpeci itu.


"Sebelumnya maaf pak RT, sebenarnya saya dan istri saya sudah memutuskan untuk merawat anak ini" peryataan lelaki berpeci itu seketika mengejutkan semua orang yang ada di sana. memang sepasang suami istri itu bukan berasal dari desa tersebut, mereka tinggal di desa tetangga.

__ADS_1


"Apa anda yakin atas keputusan anda pak?" tanya Pak RT pada lelaki berpeci itu.


"Saya yakin pak, saya sudah berunding dengan istri saya bahwa akan merawat bayi ini sampai ia dewasa, dan kami akan menganggapnya seperti anak sendiri" kata lelaki berpeci tiu dengan bijaknya. peryataannya itu disambut baik oleh warga setempat juga Pak RT.


__ADS_2