
Suara deruan kendaraan yang lalu-lalang membuat suasana snagat ramai, ditambah klakson yang tiada henti melengking membuat ngilu di telinga. Aku duduk di sebuah bangku dengan meja bundar, di depanku ada sebuah kursi yang sedari tadi tak ada nyawanya. Aku seolah hanyalah hiasan di cafe pinggir jalan ini.
Berjam-jam aku menunggu seseorang yang tak tentu apakah ia akan datang atau tidak. Sempat berputus asa dan ingin kembali pulang, namun ku urungkan niat ku itu, bisa saja ketika aku pulang dia malah datang.
Berkali-kali aku menilik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah melewati dua butir angka yang sebelumnya belum tersentuh jarum jam. Mungkin teh yang ada di di depanku ini sudah dingin, yang semula panas karena menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
Kepala ku tak henti menoleh kesana-kemari, mataku memastikan setiap wajah orang yang lewat. Memang agak tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi. Yang di tunggu tak kunjung datang.
Tadi pagi ia mengirimkan pesan bahwa akan menemui ku malam ini di depan cafe ini. Namun ini adalah jam dimana aku harus segera pulang, jika ia datang sejak tadi mungkin aku sudah pulang juga dari tadi, tapi tidak.
Kurasa aku akan pulang. Bahkan lampu jalan pun seolah menertawakan ku. Segera ku bayar uang pesanan, lalu pergi keluar cafe.
Satu hal yang membuatku kecewa malam ini, sudah di tunggu berjam-jam namun ia tak kunjung datang, membiarkanku membeku di luar ruangan dengan udara super dingin seperti ini. Hatiku mencoba untuk ikhlas, mungkin ia terjebak macet, atau memang lupa. Atau dia mengatakan itu hanyalah sebagai bahan candaan. Bodohnya aku.
Kaki ku mulai berjalan menjauh dari area cafe, menyebrang jalan melewati taman mini yang ada di sekitar jalan. Sambil mendekap tas yang ku bawa, udara sangat dingin, aku tidak kuat lagi untuk berada di luar ruangan.
__ADS_1
Biarlah dia mencari ku kala aku sudah pulang, biarlah aku menjadi orang ajaht malam ini, aku membiarkan egoisku meradang.
Sebenarnya apa yang ingin ia katakan, sehingga memberiku syarat ketika akan menemuinya dengan mengharuskan diri untuk membeku terlebih dahulu untuk menunggunya? Sejak kedatangannya kemari hari-hari ku selalu dipenuhi dengan tanda tanya tentang dirinya.
Mengapa ia mencariku?
Mengapa ia menghubungi dan mendatangi rumah orang tuaku?
Mengapa ia melakukan itu?
Atau baru sekarang ia menyadarinya?
Aku memang bodoh.
Aku berhenti di tengah jalan, entah mengapa kaki ku ingin berhenti disini. Ku dingakkan kepala, langit hitam membentang, namun ada butiran cair mulai berjatuhan, tepat di ujung hidungku.
__ADS_1
Sepertinya gerimis.
Jika aku tidak segera pulang, mungkin aku akan akut jika harus diguyur hujan di cuaca dingin seperti ini. Aku pun melanjutkan langkah kaki ku di atas trotoar.
****
"Apakah masih lama?" Tanya pria itu pada seornag supir taksi yang duduk di depannya.
Supir taksi itu hanya mengangkat bahu serta kedua tangannya. Kepalanya sedari tadi mendongak mencari-cari ujung yang tak mungkin tak berujung. Sesekali ia mengelurka kepalanya di sela-sela kaca mobil, bertanya pada pengemudi yang ada di dekatnya.
Rupanya telah terjadi kecelakaan serius di ujung sana, dan tak tau kapan macet ini akan berakhir. Suara klakson juga sedari tadi menggema bersahutan seolah terjadi demo. Dan Inilah rupa sebuah kota sibuk jika terjadi macet di jalan raya.
Sudah satu jam ia duduk di mobil dengan perasaan campur aduk. Rasanya tak mungkin jika harus keluar taksi dan memilih untuk jalan kaki, karena memnag jaraknya masih jauh dan akan membutuhkan banyak waktu.
"Duh Zulfa aku harap kamu mengerti" gerutunya dalam hati.
__ADS_1
Satu per satu rasa bersalah pada gadis bermata Arab itu muncul, semakin bergejolak di hati, gundah tak menentu. Maka batal pertemuannya dengan gadis itu malam ini, yang membuatnya semakin terpuruk dalam kesendirian.