
"Apakah aku boleh ikut bersama kalian?"
Pertanyaannya itu mengejutkanku dan Abiel. Aku dan Abiel saling bertatapan, kedua mata kami bertemu seolah mencari jawaban. Sebenarnya aku juga tak tau apakah aku harus menolaknya atau bagaimana. Ku tundukkan kepala, tandanya aku tak ingin ikut campur atas jawabannya.
"Ah.. boleh saja" kudengar Abiel menjawab. Aku tau apa arti jawabannya itu, antara iya dan tidak. Mungkin ia tak tau apa yang ia katakan, jika ia menolak, maka sama saja ia menyakiti hati Reynard yang baru saja menjadi teman kami.
"Mulai besok kau boleh pergi dengan kami" katanya dengan ekspresi setengah senang mungkin. "Benarkan Zulfa?" Lanjutnya bertanya padaku sambil menatap ku dengan tatapan yang sulit di tebak.
Dengan ragu aku menganggukkan kepala. Ah aku tak tau apa yang terjadi.
Seharian keluar rumah membuatku sangat kelelahan, kaki ku begitu pegal dan kaku. Sepatu boot wanita ini sama sekali bukan sahabatku, namun apalah daya, cuaca dingin seperti ini jika menggunakan sepatu biasa mungkin akan membuat basah celana bagian bawah.
Melewati jalanan yang agak becek karena cairan hujan es tadi membuat jalanan licin. Sangat susah berjalan bagiku. Ku lihat Abiel berjalan dengan santai, leluasa. Begitu juga dengan Reynard, mungkin mereka orang negara ini asli yang sering merasakan salju. Tapi tidak denganku, bagiku jalan yang licin ini seolah aku sedang menggunakan sepatu roda. Aku berusaha sekuat tenaga supaya aku tetap tegak berjalan menahan licinnya jalan.
Menjelang malam, kami bertiga berpisah di jalan Avenue Victoria. Beberapa puluh meter lagi aku akan sampai di apartemen. Rasanya kaki ku sudah akan patah karena lelah berjalan.
__ADS_1
Aku berjalan di bibir jalan. Langit sudah mulai redup, sudah sejak tadi matahari menenggelamkan dirinya, lampu-lampu jalan sudah menghiasi. Jalanan Mai ramai kendaraan. Lalu lintas di kota ini sangat teratur, namun juga terkadang ada kecelakaan kecil. Mungkin sebagian orang yang lebih mementingkan egonya dari pada keselamatan.
Jadi ingat pembicaraan tadi. Rencana besok akan pergi ke Place de La Concorde, bersama Abiel dan.... Reynard. Ya kami bertiga. Mungkin agak kurang nyaman bagiku, tapi.. ah sudahlah.
Aku membuka pintu kabin apartemen, melangkah masuk ke dalam. Sejak aku memberitahu Nyonya Bill bahwa aku akan sering pulang malam, dia yang mendengarnya langsung memberiku kunci pintu apartemen, agar aku bisa masuk jika tak ada orang di rumah.
Ku lihat ruang Selasar masih sepi, mataku melirik ke arah dapur, disana juga tak ada jejak. Mungkin Tuan dan Nyonya Bill belum pulang, tapi Vani apakah masih kuliah di jam seperti ini. Aku berjalan masuk kamar.
Setelah menutup pintu, aku melepas sepatu, mantel, kaus kaki yang sejak tadi pagi melekat di tubuhku. Punggungku rasanya pegal sekali, ku lihat kaki ku juga agak bengkak. Beberapa hari ini aku berjalan cukup jauh, untuk mencapai tempat tujuan.
Mungkin mandi air hangat akan membantu meredakan pegal, segera ku langkah kan kaki menuju kamar mandi. Sepertinya aku akan langsung tidur setelah mandi.
Aku melirik jam dinding yang menggantung di dinding kamarku, susah jam 8 malam, tapi Tuan dan Nyonya Bill belum juga pulang. Vani juga belum terlihat batang hidungnya. Kemana mereka semua, tak seperti biasanya, hari-hari yang lalu jam segini sudah berkumpul di ruang Selasar sambil nonton televisi. Sedangkan hari ini aku sendirian di apartemen seolah menjadi burung gagak yang kedinginan di sebuah pohon.
Aku mengambil ponselku dari saku baju ku. Mencari nama Vani disana, lalu aku menelfonnya. Ku tempelkan benda pipih itu ke dekat telinga, terdengar nada sambung di sana.
__ADS_1
"Oh, Vani, kapan kamu pulang?" Kataku mengawali.
"Maaf kak, hari ini aku ada les, mungkin pulang agak malam, sedangkan Paman dan Bibi tadi bilang kalau mereka akan mampir di rumah temannya sebentar, kakak kalau lelah tidur duluan saja nggak papa" cerocos Vani di seberang sana seolah ia gugup akan sesuatu.
Aku langsung paham akan keadaan, mungkin Vani benar, sebaiknya aku tidur lebih dulu, berhubung tubuhku rasanya sangat lelah.
"Oh iya, makasih" kataku lalu menutup telfonnya. Aku menghela napas dalam, sekali lagi aku menatap ruang Selasar yang kosong tanpa penghuni itu. Lalu berjalan gontai masuk ke dalam kamar.
Sebelum tidur, aku sempat memindahkan file foto dan video klip seputar Fontaine Saint Michel ke dalam laptop, mengeceknya kembali satu per satu. Lalu menjadikan satu file dengan nama monumen.
Setelah itu aku duduk di atas tempat tidur. Tempat tidur ini terasa dingin, padahal sejak aku datang sudah kunyalakan penghangat udaranya. Mataku melihat ke arah jendela, telingaku masih mendengar suara deruan motor yang lalu-lalang di jalan raya.
Aku mengambil kembali ponsel ku, mencari nama Luluk di sana. Jemariku mulai mengetik beberapa huruf yang kemudian kurangkai menjadi sebuah kata. Aku menulis pesan untuk Luluk yang berada nun-jauh disana supaya ia menghubungi ku besok pagi, aku begitu merindukan Abah dan Ummi.
Pesan sudah terkirim, ku taruh ponsel ku di atas nakas. Lalu aku berbaring, membalutkan selimut ke tubuhku, malam ini sangat dingin. Sampai aku harus menggunakan kaus kaki ketika tidur, aku menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut tebal ini.
__ADS_1
Mataku mulai mengerjap, perlahan kantuk datang. Lalu aku tertidur, mulai masuk ke dalam dunia mimpi.