Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Dari Hati


__ADS_3

Uap musim dingin yang mengembun di kaca jendela sudah menguasai tempat sejak tadi, memang di luar udara sangat dingin, sedari tadi yang nampak oleh mata ku hanyalah orang yang berjalan kaki yang tubuhnya diselimuti dengan jaket tebal entah berapa centi.


Cangkir itu mengeluarkan uap. Coklat panas yang ku letakkan di meja yang tepat di bawah jendela seolah melambai memberi isyarat agar lidah ku merasakan kehangatannya. Namun, aku sengaja membiarkannya terbuka dan tentunya sengaja ku letakkan di meja itu, memang udara sangat dingin, bahkan penghangat udara dikamar ku pun tak mampu menghangatkan sel kulitku yang berbalut kain tebal. Akan tetapi juga lidahku mungkin akan terbakar jika meminumnya secara langsung.


Orang umumnya akan melakukan sesuatu yang berguna saat musim dingin walaupun itu hanya di dalam rumah. Namun, tidak dengan ku. Walaupun seharusnya ada banyak hal yang bisa dipikirkan oleh otak, tetapi pikiran ku hanya tertuju pada satu titik.


Sejak dua hari lalu entah mengapa aku tidak bisa membuang jauh-jauh sesuatu itu dari pikiran ku. Telingaku seolah mendengar dengungan suara-suara yang sangat menganggu, setiap detik aku seolah merasa tersiksa.


Sejak pulang dari menara itu, ingatan ku tak bisa lepas dari sesuatu itu. Sepanjang perjalanan pulang kami saling diam, hanya suara deruan kendaraan orang-orang yang pulang dari festival, sangat ramai, rasanya jalan raya seolah menjadi pasar mobil.


Entah berapa ratus meter kaki ku melangkah, namun kedua mulut itu tetap terdiam tanpa suara, mungkin efek canggung setah kejadian itu. Tetapi Reynard bukanlah orang yang putus asa di tengah jalan, walaupun kami saing diam, aku perhatikan dia sellau berusaha mencari topik pembicaraan yang dapat membuat ku melupakan kejadian itu.


Mungkin ia tau apa penyebab aku diam sepanjang perjalanan pulang.


Namun, apa yang harus ku lakukan? Apakah salah jika aku menolaknya? Ataukah justru aku harus menerimanya?


Seja datang ke negri ini, selain Abiel yang menjadi teman pertama ku, Pria ini ternyata juga telah mencuri sela-sela percakapan dia antara kami, sehingga dengan berjalannya waktu dia menjadi teman kami juga.

__ADS_1


Sejak mengenalnya aku lebih tau negri ini seperti apa. Sebelumnya aku tak pernah mengira akan berujung seperti ini, aku hanya menganggapnya sebagai teman travel. Hanya teman.


Tetapi, siapa sangka dia ternyata menyimpan perasaan dihatinya untuk ku, tanpa sepengetahuan ku dia menyimpan rapi-rapi rahasianya.


Namun, ada satu hal yang membuat lidahku akan mengatakan bahwa aku tak bisa menerimanya. Alasan mengapa dia tak bisa bersamaku sampai kapan pun, memang kita sama-sama manusia. Namun, tempat ku bersujud dengan dia berbeda.


Tuhan ku dan Tuhannya berbeda. Oh Allah, bagaimana ini, aku tidak tau bagaimana dan apa yang harus ku katakan padanya bahwa aku jelas-jelas menolaknya. Kata-kata apa yang harus ku katakan?


****


"Makan dulu kak, semuanya sudah siap di meja makan, paman dan bibi sedang tidak ada di rumah, mereka datang ke acara pernikahan temannya" ucap Vani sambil membawa satu plastik besar pakaian kotor untuk di laundry.


Aku berjalan menuju meja makan, ku lihat beberapa masakan yang sudah siap disantap disana. Kelihatannya Nyonya Bill memasak makanan sebelum ia meninggalkan apartemen. Ciri khas masakannya yang sangat berbeda menurutku, semuanya serba sayur.


Memang sejak aku tinggal di apartemennya, Nyonya Bill adalah orang yang sangat memperhatikan makanan ku, dia bahkan sangat teliti saat belanja bahan makanan, mungkin takut aku salah makan. Bukan perihal salah makan yang menjadi acuan, tetapi boleh dan tidak bolehnya makanan itu dimakan olehku.


Aku tak segera makan. Ku sengaja memang, sekalian menunggu Vani. Beberapa menit setelahnya Vani datang dengan membawa sebuah plastik besar juga, dengan sebuah kertas berwarna putih yang ia bawa dengan gigi, kelihatannya itu struk pembayaran.

__ADS_1


Segera ku bantu Vani meletakkan plastik besar itu ke pojok ruangan, ini memang baju laundry Minggu lalu, yang seharusnya sudah bisa diambil dari dua hari yang lalu.


Meja makan yang terbuat dari bahan besi yang di cat warna putih memberi kesan klasik yang berpadu dengan ruangan ini. Kursinya dengan gaya modern juga sangat cocok dengan mejanya.


"Kelihatannya aku makan sayur lagi" celetuk Vani sambil duduk di kursi.


"Itu bagus untuk kesehatan mu" sahutku sambil memberikan piring kepadanya yang sudah berisi nasi.


"Kak?"


"Hemm?" Jawabku.


"Tadi waktu aku mengantar laudry aku lihat ada seorang pria yang duduk di bangku depan apartemen, sampai aku kembali pun rupanya dia masih disitu" katanya.


"Lalu?"


"Kupikir aku pernah melihatnya beberapa kali, bukankah itu teman mu kak?"

__ADS_1


Tangan ku seketika berhenti memasukan sesendok nasi ke mulutku. Tertegun dengan apa yang Vani katakan. Apakah itu Reynard? Sedang apa dia disini?


__ADS_2