
Pasti akan seru jika pergi kesana. Sesuatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya, otak ku sudah membayangkan bagaimana festival itu akan digelar, akan ada banyak kembang api tentunya, jadi tidak sabar.
Aku menutup laptopku setelah menyalin beberapa take yang kuambil dari kamera. Aku bangkit lalu berjalan ke arah jendela, lalu duduk di Bean bag dekat jendela, menatap ke arah luar.
Kota metropilitan masih aktif hingga selarut ini, entah mengapa aku tidak bisa tidur, mataku tetap terbuka padahal jika dikira aku sangat lelah hari ini. Jalan raya masih penuh dengan lalu-lalang kendaraan, toko-toko pun masih ramai pengunjung.
Malam yang sangat dingin membuatku tak bisa lepas dari jaket tebal ku, teh panas yang sedari tadi berada di atas meja kecil di depanku mungkin sudah dingin. Aku jadi tidak nafsu untuk meminumnya.
Ku alihkan pandanganku ke arah jam dinding yang menggantung di sisi dinding. Sudah jam 1 malam, namun mataku belum juga tertutup, entah apa yang aku tunggu. Tak ada yang pasti, namun pikiranku selalu menjurus pada satu titik, tapi apa itu?
****
"Astaghfirullah!!"
Aku terlonjak bangun dari tempat tidur, smabil memegangi dahi mataku membulat lebar menatap jam dinding.
Aku bangun kesiangan.
__ADS_1
Segera aku beranjak dari tempat tidur, tanganku lalu menyambar handuk dan segera masuk kamar mandi. Sungguh, akibat tidak bisa tidur kemarin malam jadi seperti ini.
Aku tak bisa mengingat jam berapa aku tertidur kemarin, bahkan segelas teh masih berada di atas meja kecil itu, mungkin sudah menjadi air dingin yang baru saja keluar dari kulkas.
Setelah mandi aku mengganti pakaian lalu keluar kamar. Sampai aku lalai dalam ibadahku. Astaghfirullah, maafkan hamba Ya Allah.
Kulihat dapur kosong, ruang depan juga kosong, Selasar juga, bahakn pintu kamar Vani dan Nyonya Bill sudha tertutup rapat. Sepertinya mereka sudah berangkat kerja, Vani pun sudah ke sekolahnya.
Aku semakin merasa terkutuk, berawal dari tidak bisa tidur, hingga bangun kesiangan, bahkan aku lalai dalam ibadahku, tak mengawali pagi dengan keluarga kecil ini, sungguh pagi hari yang sangat menyedihkan.
Aku masih mematung di posisiku, aku pikir tidak akan seperti ini, mungkin hari ini adalah hari yang harus kugunkaan untuk berzikir.
****
"Iya waalaikumsalam"
Ucapku menjawab salam dari Abah dan Ummi. Lalu aku menutup laptop ku, menghela napas dalam-dalam, lalu bersender di dinding.
__ADS_1
Kalimat itu masih menggema di otak dan telingaku, serah berdarah disana. Seutas kalimat yang sangat mengejutkan hati, bahkan tidak lagi sebuah hal yang biasa.
"Dia datang ke rumah?"
"Berniat meminang?"
"Lalu dari dulu kemana saja?"
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menggema di lubuk hati, sangat sukar untuk melupakan.
Lagi-lagi Abi membuatku bertanya-tanya. Beberapa bulan lalu ia memberitahuku langsung bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis, dan hal yang baru saja kudengan sangat mustahil. Bagaimana bisa ia datang ke pada Abah dan Ummi dengan niatan ingin menikahi ku? Lalu gadis yang akan dinikahinya kemana? Apakah pernikahan mereka batal?
Sungguh hal yang sangat mengejutkan.
Aku tak bisa lagi berpikir jernih, otak ku seolah sudah buntu. Oh? Apakah ia datang kesini untuk membicarakan itu padaku? Jika memang iya, lalu kenapa ia tak langsung memberitahuku?
Oh, Abi kau membuatku bertanya-tanya sepanjang hari.
__ADS_1
Mataku memincing melihat hp ku bergetar menyala di atas nakas, segera ku ambil. Ternyata pesan dari Reynard. Ia mengatakan bahwa hari festival sudah dekat, ada banyak yang perlu aku persiapkan. Ah, bahkan aku tak sempat memikirkan ini.