
"Zulfa, tolong kamu bawa semua kamera ini ke dalam, taruh di meja aja!" Pintanya padaku.
Aku mengangguk kemudian bergegas melakukan apa yang ia perintahkan. Kubawa 2 kamera DSLR yang berada di dalam tas ke dalam ruangan, ku taruh mereka di meja.
Masih sibuk membenarkan posisinya, ada suara yang memanggilku dari ambang pintu.
"Zulfa, bisa kita bicara sebentar?"
Aku menoleh, kemudian mengiyakan pertanyaannya. Kami berdua duudk di sofa yang ada di lobi. Ada apa ya?
Matanya menatap ke arahku, pandangannya menyejukkan, ia menepuk pundak ku, kemudian tersenyum. Aku dibuat heran olehnya.
"Ada apa kak?" Tanyaku, disambut dengan senyum merekah olehnya.
"Baru saja aku mendapat informasi bahwa ada event besar yang akan di adakan oleh salah satu perusahaan fotgrafi ternama di dunia." Ia mengembuskan nafas, "hadiahnya sangatlah besar, ratusan juta, kita harus mengikuti event itu, ini kesempatan", jeda dua detik, "aku ingin kamu yang mewakili perusahaan kita" lanjutan kalimatnya yang sempat terputus membuatku kaget bukan main.
Aku? Mewakili perusahaan buat ikut event? Nggak mungkin.
Segera aku menggelengkan kepala sambil
mengernyitkan dahi, di sambut tatapan tidak enak dari kelopak matanya.
"Ah kamu ini, nggak pokoknya kamu harus mau!" Itu kalimat yang ia lontarkan padaku setelah beberapa kali aku membujuknya dan tak berhasil. Aku berpikir sejenak, dia menunggu jawaban.
Dengan mengucap kalimat basmalah, aku menganggukan kepala, ia senang bukan main. Kupikir ini kesempatan bagiku untuk mengembangkan skill ku, tapi aku harus minta izin dulu pada Abah dan Ummi, tanpa izin mereka berdua, setiap langkah kakiku aku merasa dikutuk oleh malaikat.
Hari ini aku pulang menjelang magrib, beberapa kali Ummi menelfonku, bertanya mengapa aku belum pulang jam segini. Hari ini memang aku menyelesaikan tugas -tugas ku untuk hari esok, kuselesaikan hari ini juga, karena sesuai perkataan kak Rossa tadi, besok aku akan di ajaknya mengurus pendaftaran event besar itu, itu pun jika Abah dan Ummi mengizinkan.
Setelah salat isya' aku membantu Abah dan Ummi yang masih kerepotan melayani pembeli bakso di depan rumah. Kulihat begitu banyak pembeli yang mengantri, pantas saja
Abah dan Ummi kerepotan.
Pembeli mulai berkurang, tinggal beberapa gelintir orang saja. Aku membawa setumpuk mangkuk kotor ke dalam rumah, setelah menaruhnya di wastafel, aku segera keluar rumah.
Baru beberapa langkah keluar rumah, mataku menangkap bayangan seseorang yang sangat aku kenal. Dia datang lagi. Namun tidak sendirian.
Aku berusaha keras untuk mengikatkan hati, aku menggigit bibir, berjalan menuju Abah dan membantunya. Aku berusaha pura -pura tidak tau, menghela nafas dalam -dalam.
Namun sialnya, dia memanggilku, terpaksa aku menoleh. Sebenarnya Abah kenal dengan Abi, karena Ayah Abi merupakan teman masa SMA Abah dulu. Kulihat Abah tengah bicara dengan Abi, entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama Abah memanggilku, sukses membuatku tak sanggup mengelak.
Aku berjalan pelan ke arah mereka, kemudian duduk di samping Abah.
__ADS_1
"Zulfa apa kabar?" Tanyanya padaku.
"Alhamdullillah baik" jawabku singkat. Namun, mataku tertuju pada sosok wanita berjilbab ungu yang berada di samping Abi. Dia tersenyum ke arahku, aku membalasnya dengan senyuman pula.
"Ah sampai lupa" celetuknya yang berhasil mengarahkan pandanganku padanya. "Aku kesini mau ngasih undangan pernikahan kita ke kamu" katanya sambil menyodorkan undangan berwarna putih.
"Dia calon istriku" lanjutnya.
Syatt.... Hatiku seolah tersayat belati, guratan menembus batinku, dia akan menikah?
Oh, Allah, ujian macam apa ini yang kau berikan padaku?
Tak sanggup berkata -kata, lidah ku Kelu, tenggorokan ku tercekat. Ku melihat ke arah gadis yang ada di samping Abi, dia tersenyum malu ke arahku. Aku tersenyum getir, menggambarkan seolah aku senang, namun itu hanya bohong.
Ku melihat Abi tersenyum girang menatap calon istrinya itu. Aku mengehela nafas, mencoba menerima, mereka berhak bahagia.
Beberapa saat kemudian mereka pergi, warung bakso Abah pun tutup setelahnya. Selesai membersihkan semuanya, aku masuk ke dalam kamar.
Sudah jam 10 malam, aku duduk di lantai, memeluk kedua lututku, menenggelamkan wajahku di sela -selanya.
Aku berusaha keras menahan tangisku, namun gemuruh hati ku tak sanggup ku tahan. Tangisku pecah. Ku cengram kuat kedua lenganku.
Bidadari mana yang tak sakit hati ketika tau pangeran pujaannya akan menjadi milik orang lain. Luka di hatiku begitu mendalam, cinta yang selama ini ku pendam bertahun -tahun kini tak lama lagi akan menjadi milik orang, tangisku semakin menjadi.
Astaghfirullah.
Apa yang kulakukan? Segera ku hapus air mataku, beristighfar berkaki-kali, sudahlah Zulfa dia bukan jodohmu, jadi jangan tangisi dia. Ada wanita yang lebih pantas darimu.
Sekeras apapun usahaku untuk mengelak dari keadaan, namun tetap saja, seolah ada pecahan kaca yang sedari tadi menguhunus di hati. Aku tak mau berlarut-larut, dia bukan mahram ku. Aku bangkit, kemudian menaiki tempat tidurku, membenarkan posisi, berusaha menidurkan diri sendiri.
Akhirnya aku tertidur dalam keadaan terenyuh. Sudahlah, mau bagaiman lagi, memang siapa aku yang tidak setuju dia akan menikah. Aku yakin Allah menyiapkan rencana untukku yang lebih indah.
__ADS_1
Hari ini aku libur kerja, kebetulan warung Abah juga tutup untuk hari Minggu. Setelah subuh tadi Abah dan Ummi pergi ke pasar untuk belanja bahan pembuatan bakso, sudah hampir jam tujuh dan mereka masih belum pulang.
Setelah membersihkan rumah, aku duduk sambil menjulurkan kaki di kursi kayu ruang tamu. Baru beberapa detik duduk, telingaku mendengar suara becak motor, sepertinya itu Abah dan Ummi. Aku segera bangkit dan keluar rumah, sampai di ambang pintu, mataku melihat becak yang berhenti di halaman rumah yang di penuhi oleh belanjaan ini itu.
Segera ku langkahkan kaki untuk membantu, membawa satu per satu kantong plastik maupun kardus ke dalam rumah. Beberapa saat setelahnya, ketika Abah dan Ummi tidak lagi sibuk, aku memberanikan diri untuk berbicara pada mereka.
Saat ini mereka tengah duduk santai sambil menonton tv di ruang tamu.
"Bah, mi, Zulfa mau ngomong sesuatu" kataku.
Tak biasa melihat diriku seperti ini, Abah dan Ummi menatapku dengan heran.
"Mau bicara apa toh Nduk?" Tanya Abah.
Aku menghela nafas panjang.
"Zulfa di utus perusahaan untuk pergi ke Prancis, karena ada event besar disana, jika Abah dan Ummi mengizinkan, Zulfa akan sangat senang" jelasku pada mereka.
Lima detik, sepuluh detik, baik Abah maupun Ummi tak ada yang memberi jawaban, mereka malah menatapku dengan tatapan aneh, aku jadi tidak berani untuk mengangkat kepala. Bagaiman ini?
Masih belum ada jawaban, Abah berdiri meninggalkan aku dan Ummi berdua di ruang tamu. Aku bimbang, apa yang harus aku lakukan? Ummi mendekat, duduk di sampingku.
"Nduk, apa benar itu?" Tanya Ummi padaku.
Aku mengangguk. Firasatku mengatakan bahwa aku tidak akan diizinkan utnuk pergi ke luar negeri.
"Bicara sama Abahmu baik-baik" kata ummi melanjutkan. Setelah itu beliau pergi, entah Mau kemana.
Aku semakin bimbang. Ya Allah semiga abah mengizinkan. Aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya. Aku duduk di bibir jendela, menyenderkan kepalaku di salah satu sisinya. Otakku tidak bisa berpikir dengan jernih, kemarin Abi, sekarang Abah. Duh gimana ini?
apa yang akan dikatakan kak Anita jika aku tidak diizinkan untuk pergi ke luar negeri?wanita itu sudah terlalu baik padaku, dia sering membantuku, Bahkan sudah kuanggap saudara sendiri, aku merasa bersalah jika aku tidak menuruti permintaannya.
Aku meremas ujung jilbabku, walau ku gigit sejak tadi, bibirku tidak terasa sakit karena saat ini rasa cemas lebih menguasai ku. sedangkan sisi lain otakku masih menggantung wajah Abi, entah apa yang dimiliki lelaki itu sehingga aku jatuh hati padanya. semakin keras usahaku utnuk melupakannya, semakin kuat pula dia melekat dalam ingatanku.
__ADS_1
Aarrgghh.. aku mengacak kerudungku gusar. Berjalan menuju tempat tidur dan melempar tubuhku ke atasnya. aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan.