
"hmmm.. sepi ya Mi, kali nggak ada Zulfa"
Ummi tersenyum, tangannya masih melipat tumpukan baju yang tergeletak di sudut tempat tidur. Belum ada sehari Zulfa pergi, namun sepasang orang tua itu begitu merindukan sosok putri semata wayang mereka.
"Iya Bah, hah ya mau bagaimana lagi, demi cita-citanya kita harus rela melepas Zulfa" balas Ummi. Sejurus kemudian Abah keluar dari kamar.
Abah baru saja kembali dari masjid, lelaki berpeci hitam itu kini tengah duduk di kursi depan rumah. Sambil menyenderkan kepalanya, matanya menatap langsung ke arah langit. Rembulan sukses membuat di atas sana. Seketika ia mengingat Zulfa.
Walaupun anak tiri, Zulfa sudah seeprti anak kandung. Allah telah menakdirkan Zulfa dibesarkan oleh tangannya. Bahkan sampai saat ini pun lelaki berumur itu belum tau siapa sebenarnya orang tua kandung Zulfa, sempat terlintas rasa ingin mencari orang tuanya, namun hati kecilnya yang sudah terikat dengan Zulfa melarangnya.
Terlalu banyak alasan untuk itu.
Semoga kelak kamu sukses Nduk, Abah dan Ummi selalu mendoakanmu, doakan juga orang tua kandungmu. Abah siapa toh? Hanya seorang tukang bakso yang mengasuhmu dan mendidikmu, Zulfa anak Abah satu-satunya. Hanya Zulfa.
****
"Bu lututnya sakit? Sini duduk!" Kataku ketika melihat seorang ibu-ibu yang ada di depannya tengah berdiri sambil memijat-mijat lututnya. Ibu itu sempat menolak, namun, aku memaksa agar ibu itu duduk di bangku yang sempat ia duduk tadi.
"Terimakasih nak" ucap ibu itu pada ku. Aku mengulurkan senyum. Huh, jadi teringat sama Ummi. Lutut Ummi juga sering sakit, tak jarang Aku harus bolak-balik ke apotik demi membelikan obat untuk Ummi.
Aku baru saja turun dari pesawat. Kini aku tengah menunggu koperki di keluarkan dari bagasi bersama penumpang lain. Kepalaku menoleh kesana kemari, bermaksud mencari tempat duduk yang masih tersisa. Namun, sepanjang mataku menjelajah tak ada satupun bangku yang kosong.
Huh, terpaksa harus berdiri, walau sebenarnya aku juga sangat lelah. Beberapa saat kemudian akhirnya ada bangku yang kosong, kakiku melangkah ke arahnya. Aku duduk, menaruh tasku di pangkuanku.
Haah, akhirnya bisa duduk, kakiku rasanya keram karena terlalu lama berdiri. Sepertinya barang-barang penumpang keluarnya masih lama. Setelah melakukan perjalanan lebih dari 17 jam dari Jakarta, rasanya badanku ingin segera dibaringkan.
Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ada panggilan untuk penumpang yang baru datang untuk segera mengambil barang bawaan masing-masing. Aku segera bergegas menuju tempat pengambilan barang.
Aku mendorong santai troli berisikan dua koper besar milikku. Kepalaku menoleh kesana kemari mencari seseorang yang akan menjemputku di bandara Paris Charles de Gaulle ini.
Bandar Udara Paris Charles de Gaulle juga dikenal dengan Bandar Udara Roissy. Diberi nama setelah Charles de Gaulle (1890-1970), pemimpin pasukan Prancis Merdeka dan pendiri Republik kelima Prancis.
Bandara ini sangat lah besar, bandara ini merupakan satu dari dua bandara internasional terkenal yang ada di Prancis. Satu bandara lagi bernama Paris Orly Airport. Mungkin jika orang baru yang datang ke sini akan kebingungan kemana harus pergi, seperti halnya aku.
Mataku setiap saat selalu membaca papan penunjuk arah yang tergantung di langit-langit atas, terdapat juga bahasa Prancis yang sama sekali tidak ku mengerti. Beruntung ada bahasa Inggris di samping tulisan bahasa Prancis, jadi aku sedikit tertolong.
Aku akan berada di benua Eropa ini selama satu bulan penuh, untuk mengikuti event fotografer terbesar tingkat dunia. Aku sedikit gugup, hanya sekedar membayangkannya saja tubuhku gemetar tak karuan. Aku akan bertemu dengan orang-orang besar disana, aku tidak ada apa-apanya dengan mereka. Skill ku masih sekecil semut, jika dibandingkan dengan mereka, mungkin aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aku berjalan menuju keluar bandara, kata Kak Aneeta sepupunya akan menjemputku di bandara ini.
Menurut informasi, sepupu Kak Aneeta itu memang tinggal di Prancis, dia masih seorang mahasiswa semester akhir. Ia bisa kuliah di Prancis merupakan berkat beasiswa yang didapatnya beberapa tahun lalu.
Oh, Abah, Ummi maafin Zulfa.
" Kak Zulfa!" Teriak seseorang memanggilku, sontak aku menolehkan kepalaku ke sumber suara. Ku lihat gadis berambut pendek seleher berlari ke arahku sambil membawa tas yang menggantung di lengan kanannya.
Rambut gadis itu naik turun karena guncangan tubuh saat berlari, ia membelah kerumunan orang dan segera menghampiriku.
"Kak Zulfa kan?" Tanyanya sambil mengatur napas.
Aku mengangguk heran. Oh, apakah ini Vani sepupunya Kak Aneeta?
"Aku Vani kak, sepupunya Kak Aneeta" katanya sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku tersenyum, dugaanku benar. Aku menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya Kak, lapar kan?" Gerutunya sambil ikut mendorong troli ku.
"Nggak juga sih Van" kataku. Memang sebenarnya aku tidak terlalu lapar, karena tadi di pesawat aku sudah makan.
"Oke, kalau gitu kita langsung ke apartemenku saja ya!" Titahnya. Memang sebelum berangkat aku diberitahu Kak Aneeta bahwa aku akan tinggal bersama Vani, sesuai permintaanku. Supaya tidak terlalu banyak mengeluarkan uang, jika harus menyewa kamar hotel untuk satu bulan. "Kita makan di apartemen aja, nanti aku pesankan makanan" lanjutnya.
Aku mengiyakan ajakannya. Setelah memesan taksi, beberapa saat kemudian taksi pesanan datang. Supir taksi membantu memasukkan koperku ke dalam bagasi. Perjalanan dilanjutkan ke apartemen.
Dari bandara melewati jalan Des badauds menuju ke apartemen Vani, yaitu apartemen Hotel de Ville le marais yang terletak di jalan Rue de Rivoli, Paris, pranciss. Sepanjang perjalanan ia menceritakan sedikit tentang kehidupannya.
Jadi selama ia di Prancis, ia sempat tinggal di asrama sekolah. Namun, karena tiba-tiba Paman dan Bibinya pindah dari Singapura ke Paris, ia jadi ikut tinggal bersama mereka di sebuah apartemen. Untuk menuju ke sekolahnya dari apartemen tak butuh waktu lama, bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Paman dan Bibinya adalah sepasang suami istri yang menjadi orang tua sambung Vani selama di Prancis. Pamannya adalah seorang karyawan di sebuah restoran yang ada di Paris, sedangkan Bibinya juga seorang karyawan yang bekerja di sebuah butik. Gaji mereka sangat cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari mereka, bahkan untuk membayar sewa apartemen.
Vani bilang, ia sudah berbicara kepada Paman dan Bibi ya mengenai kedatanganku. Vani juga sudah meminta izin agar aku bisa tinggal bersama mereka dalam waktu satu bulan saja. Apalagi Kak Aneeta juga ikut campur tangan dalam urusan penginapanku di apartemen mereka.
Duh, rasanya aku telah merepotkan banyak orang disini.
Di seoanjang jalanan kota, terdapat berbagai macam restoran dan cafe yang berjejer rapi di samping kanan kiri jalan. Tak jarang juga gedung-gedung yang menjulang tinggi, sehingga untuk melihatnya saja harus mendongakkan kepala.
Suasana sore hari jadi semakin astetchic ketika lampu-lampu kendaraan menghiasi jalan. Ditambah lagi kemacetan yang cukup lama membuatku frustasi jika harus menghirup AC mobil terus-menerus. Maka aku membuka kaca mobil disampingku. Aku butuh udara segar.
Akhirnya udara segar masuk melalui hidungku dan merasuk ke dalam paru-paruku. Kali ini aku diizinkan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di negeri orang, ini kali pertamaku aku ke luar negeri. Aku hanyalah gadis desa anak tukang bakso yang ingin tau bagaimana dunia menjadikan kota-kotanya sebagai kota metropolitan.
Di kota Paris ini akan ku jelajahi berbagai sejarah dan kebudayaan yang mungkin akan menjadi kenangan tersendiri bagi seorang fotografer sepertiku. Kota yang dikenal dengan sebutan City of Light atau la Ville des Lumieres dalam bahasa prancis ini akan menjadi saksi setiap langkah kakiku untuk memulai menjelajah dunia walau hanya dalam lingkup imajinasi.
Suatu impianku untuk membawa nama Abah dan Ummi dimanapun aku berada, dan dalam doaku akan kuselipkan nama mereka supaya aku bisa mengangkat derajat mereka di surga kelak.
__ADS_1