Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Rencana


__ADS_3

Dari Place de La Concorde kami berjalan menyusuri jalan mencari restoran terdekat. Berhubung Abiel tau jika aku seorang muslim, dia ingin makan di restoran yang menyediakan makanan halal di sekitar sini.


Tak butuh waktu lama untuk mencari restoran itu, segera kami temukan restoran yang menghidangkan makanan halal. L' Ardoise, adalah sebuah resotran yang menyediakan makanan halal letaknya di jalan Rue du Mont Thabor. Tempatnya memang tidak terlalu besar, namun makanannya cukup untuk mengganjal perut.


Reynard pun tak keberatan jika harus makan di sana. Kami bertiga duduk di meja dekat jendela.


Seperti biasa, Abiel yang memesankan makanan ku. Makanannya sederhana, hanya nasi goreng dan jus jeruk saja. Namun, alhamdullillah aku dapat menemukan makanan halal yang bisa ku makan di negeri ini.


Setelah makanan kami tiba, kami segera makan. Mengingat waktu kami tidak banyak, jadi selepas makan kami langsung meninggalkan restoran. Sampai di Place de La Concorde, aku terkagum oleh ke elokan tempat ini.


Benar kata Abiel, inilah keunikan yang aku lihat secara langsung. Cahaya lampu ada di mana-mana, pernak-perniknya berkilauan bak mutiara. Subhanallah. Pengunjung pun tak terlalu ramai seperti biasa, jadi aku sedikit leluasa untuk mengambil klipnya.


Sampai berjam-jam, sedari tadi akuberjalan kesana kemari. Yah, memang harus totalitas jika memulai sesuatu. Sampai akhirnya aku lelah dan memilih untuk duduk di bangku dekat sana.


Aku menjulurkan kaki ku, lalu memeluknya lagi, takut ada orang yang tersandung. Hari ini aku tidak memakai sepatu boot, jaya sepatu biasa yang sering aku pakai saat masih di Indonesia.


Dari kejauhan ku lihat Abiel masih sibuk dengan fotografinya, gadis itu seolah tak memiliki rasa lelah sedikitpun, ia begitu antusias di setiap kegiatan. Terkadang aku khawatir akan kesehatannya, semoga tidak terjadi apa-apa. Dia sudah cukup banyak membantuku semasa di negeri ini.


"Hei!"


Tegur seseorang. Ternyata Reynard yang sambil duduk di sampingku, agak jauh, dan kami dipisahkan oleh sebuah tas kecil berwarna coklat milik ku.


"Ah iya" jawab ku canggung.


Tak ada percakapan setelah itu, hanya ada kesunyian. Suara pengunjung lain yang lebih banyak mengisi, sangat ramai.


"Bagaimana Zulfa?" Tanyanya.


"Semuanya berjalan baik" jawabku.


Dia mengangguk.

__ADS_1


"Hari ini sangat melelahkan bukan?" Tanyanya lagi.


"Sedikit"


"Aku harap kamu betah di sini"


Aku agak sedikit terkejut dengan perkataannya, namun aku berusaha menepis segala pikiran ku yang melayang kemana-mana. Aku tersenyum.


"Hai!"


Abiel menghampiri kami, sambil membawa kameranya ia duduk di antara aku dan Reynard. Ia menyenderkan tubuhnya di sandaran bangku, ku lihat ia menghela napas panjang. Sepertinya gadis ini sangat kelelahan.


Pernah aku berpikir untuk absen sehari untuk pengambilan klip, namun aku juga butuh persetujuan mereka. Berhubung waktu konformasi masih lama, mungkin ada baiknya juga jika absen sehari saja. Hanya sekedar untuk mengistirahatkan tubuh saja.


"Bagaimana kali besok kita istirahat dulu"


Perkataan itu sukses membuat ku tercengang. Belum sempat aku mengatakannya, namun sebuah suara telah sukses memecah keheningan. Aku dan Abiel menatap lurus ke arah Reynard. Aku bertanya-tanya, apakah dia seorang peramal?


Memang itu ide yang bagus, berhubung mungkin saat ini Abiel sangat kelelahan. Setiap hari kami harus pergi ke tempat yang berbeda, dari pagi sampai malam tiba, terkadang berjalan kaki, karena tak ingin uang saku habis begitu saja.


Aku dan Abiel terdiam, kami daling pandang. Ku lihat mata elang Reynard menunggu jawaban dari kami. Sebenarnya aku juga setuju atas idenya, tapi bagaimana dengan Abiel?


"Mungkin kita membutuhkan istirahat" sahut Abiel sambil menganggukan kepala. Ia beralih menatap ku, ekspresi wajahnya seolah menunggu jawaban.


Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk. Mungkin ini keputusan yang baik.


Setelah selesai, kami berniat untuk langsung pulang. Tapi aku ingin mampir ke masjid dulu. Sudah lama aku tak berkunjung ke sana. Tadi sengaja aku paksa Abiel untuk naik taksi, bersusah patah aku membujuknya far mau naik taksi, dan membuah hasil, akhirnya dia mau.


Kini hanya ada aku dan Reynard. Kami berjalan berdua menyusuri jalan. Semenjak Abiel naik taksi, tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut kami. Suara deruan kendaraan yang terdengar di telinga, namun tak sanggup untuk mengisi keheningan di antara kami.


Aku tadi sudah bilang padanya, jika aku ingin mampir dulu ke masjid. Dia berisi keras untuk mengantarku kesana, aku yang tak bisa berbuat apa-apa terpaksa menyetujui permintaanya. Walaupun sebenarnya aku canggung bukan main.

__ADS_1


"Besok ada waktu?" Tanyanya.


Otak ku mencoba menerka apa maksud dari pertanyaan ini.


"Iya ada" jawabku. "Ada apa?"


"Bisakah besok kita pergi jalan?"


Jujur, seumur hidupku aku tidak pernah berjalan berdua dengan seroang lelaki manapun. Memang dulu aku sempat jatuh hati dnegan Abi, tetapi saat ini aku berusaha melupakannya, ya karena memang dia bukan jodohku dan bukan hak ku. Dia sudah bahagia dengan pendampingnya, aku tak mau ikut campur dengan perasaan itu lagi.


Aku bingung, kata-kata apa yang akan aku ucapkan untuk menjawab pertanyaan Reynard. Lelaki ini begitu sabar, dan baik hati. Rasanya tak bisa jika aku menolaknya, namun tak ada cara lain, jika aku besok pergi dengannya, aku takut akan menjadi fitnah.


Aku tidak di negeri ku sendiri, di sini tujuan ku adalah alasan aku berada di sini. Pesan dan amanat dari Abah dan Ummi menjadi patokan ku untuk selalu ku pegang di manapun dan kapanpun aku berada. Jika aku melanggarnya, aku takut malaikat akan mengutuk setiap langkah kakiku ku dan tidak di ridhoi oleh Allah.


Aku tetap diam, tak tau harus menjawab seperti apa. Di satu sisi aku tak mau membuat celah di hatinya, dan di sisi lain aku juga tak mau keridhoan Allah hilang begitu saja. Aku seorang muslim, aku harus menjaga diriku sendiri.


"Bukannya tidak mau, tapi Reynard..."


"Jika kamu ingin mengajak seseorang tidak apa" katanya memotong perkataan ku.


Aku semakin tenggelam dalam labirin ini. Dia begitu baik padaku, akankah aku akan memberi celah di hatinya? Aku mengangguk dalam kesunyian. Tak tau apa yang aku katakan.


"Maaf ya" ucapku.


Dia tersenyum, "tidak apa, apa perlu aku menjemput mu besok?"


"Tidak perlu, aku akan pergi bersama Vani besok, jika dia tidak sibuk"


"Besok weekend, mungkin mahasiswa kuliah berada di rumah", di terdiam, "jika ada masalah hubungi aku saja" lanjutnya.


Aduuhh, Reynard aku semakin terjebak dalam labirin yang kau buat.

__ADS_1


"Akan aku beritahu dimana kita bertemu dan tempat yang akan kita kunjungi" katanya sambil tersenyum ke arahku, aku membalas senyumannya.


Aku beroda dalam hati semoga besok Vani ada waktu, mengingat kondisi Abiel saat ini rasanya tak mungkin jika aku mengajaknya besok.


__ADS_2