Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Aneh


__ADS_3

Setelah sholat, aku bergegas mengemasi mukenah ku yang baru saja aku lepas. Sebenarnya perutku terasa lapar, apakah ada makanan halal di sekitar sini?


Ketika aku memakai sepatuku, ujung mataku menangkap bayangan orang yang ku kenal. Jemariku berhenti, aku terpaku, segera ku mendongak dan melihat siapa yang baru saja aku lihat.


Seorang pria berjaket tebal berwarna hitam sedang asik berbicara dengan dua orang bapak-bapak berjenggot. Pria itu terlihat sangat sopan ketika berbicara, dapat dilihat ia beberapa kali menundukkan kepala sambil menaruh telapak tangannya ke dada.


Dari belakang aku seperti mengenalnya, aku mengamati sekali lagi, dua orang bapak itu berangsur pergi, kini tinggal ia sendiri. Gerakan kaki dan tubuhnya seakan-akan ia menoleh ke arahku, sedikit lagi ku lihat wajahnya. Namun, sialnya membaurlah dia di kerumunan orang banyak, wajahnya terhalang oleh banyak orang yang berjalan keluar masjid.


Aku berdiri, berusaha mendongakkan kepala dengan kaki jinjit untuk mencari tau dimana kepala itu, namun seolah ditelan bumi, ia hilang begitu saja, aku menyerah. Firasatku mengatakan itu adalah Reynard, tapi kan ia non-muslim, sangat tidak mungkin jika ia berada di sini.


****


Saat dalam perjalanan pulang, aku di hentikan oleh sebuah salam dari seseorang. Seketika aku menoleh, kemudian menjawab salamnya. Ternyata orang ini.


"Hai.." sapanya sambil tersenyum.


Ku balas sapaannya.

__ADS_1


"MasyAllah..." Katanya. Lalu ia berjalan meninggalkan ku di posisi seperti patung. Otak ku begitu lemot sehingga tak menyadari sesuatu. Ku ikuti langkah kaki panjangnya.


Tingginya yang melebihi tinggi ku membuatku mendongakkan kepala ketika menatap saat berbicara padanya, tak ada apa-apanya, hanya sebahu bidangnya, aku begitu kecil jika dibandingkan dengan dia yang seperti tiang.


"Sudah makan?" Tanyanya.


"Sebenarnya aku lapar, tapi aku tidak tau dimana restoran halal di sekitar sini" jawabku jujur.


Dia mengangguk seolah ia paham akan segala hal.


****


"Zulfa aku ingin mengatakan sesuatu"


"Apa?"


Setiap kali sampai pada titik ini, entah mengapa jantungku seolah ingin meloncat keluar. Setiap ia berkata akan mengatakan sesuatu mengapa aku yang tersiksa. Serah aku seorang mahasiswa yang sedang menunggu hasil sidang skripsi yang sangat menegangkan. Padahal mungkin ia merasa biasa saja.

__ADS_1


"Sebenarnya masih ada banyak tempat di kota ini yang belum kau kunjungi, akan terasa sia-sia jika kau melewatkannya" ucapnya dengan mulut penuh makanan. Aku yang memperhatikannya merasa wajahnya lucu dengan mulut penuh seperti itu. Satu tarikan dari ujung bibirku.


"Aku akan segera mengunjunginya" balasku lirih.


"Hubungi aku jika kau butuh teman" katanya. Aku lalu mengiyakan perkataannya.


Sambil menikmati makanan yang disajikan, mataku menggerayangi tiap sudut ruangan. Lagi-lagi nuansa Eropa kuno yang mendominasi. Restoran halal ini berada di pinggir jalan sekitar masjid, tak jauh dari sini menara masjid terlihat.


Disini bisa dibilang sepi kendaraan, lebih banyak pejalan kaki yang menikmati setiap jengkal jalanan yang dingin, suara hentakan sepatu boot mengusik telinga, tetapi itu yang khas dari Eropa.


Setelah makan Reynard mengantarku pulang, pria berwajah khas Eropa ini entah mengapa belakangan ini selalu mengintai di ingatanku, wajahnya terkadang yang tiba-tiba lewat di lintas pikiranku, membuat ku tertegun, apakah ia mengalami hal yang sama denganku?


Sepertinya tidak mungkin. Aku menatap punggungnya yang berjalan di depan ku, jaket hitam tebal membalut tubuhnya, teringat ketika ia mengatakan isi hatinya padaku saat berada di Eiffel. Mungkin hanya pria sepertinya yang memiliki nyali ganda dalam satu waktu. Di menara yang begitu tinggi, ia mengungkapkan isi hatinya kepada seorang gadis yang bukan berasal dari negerinya.


Aku terpental, membentur tubuhnya yang jangkung. Dengan santai ia menoleh ke belakang, lalu menatapku dengan tatapan sinis yang membuatku jengkel.


"Makanya jangan kebanyakan melamun" gerutunya. "Masuklah, udaranya semakin dingin!" Lanjutnya. Lalu ia pergi meninggalkan ku yang masih dalam keadaan terpaku, punggungnya yang kian menjauh pudar dari pandanganku. Aneh.

__ADS_1


__ADS_2