Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Ucapan Salam Darinya


__ADS_3

Katanya sih disini...


Sejak tadi aku menunggu di depan cafe pinggir jalan, cafe ini menyediakan bangku yang diletakkan di depan. Aku duduk di salah satunya, menunggu seseorang yang sedari tadi tak kunjung datang. Kepalaku sedari tadi menoleh kesana-kemari hanya untuk memastikan apakah batang hidungnya sudah mulai kelihatan atau belum.


Udara dingin membuatku terpaksa memakai sepatu boot bertali dan mantel tebal yang membalut tubuhku sejak keluar dari apartemen. Jalanan yang licin membuat suara rem dari ban-ban kendaraan mendecit ngilu di dengar telinga.


Hujan salju di tambah gerimis telah usai sejak tadi sore, namun membuahnya apa yang terjadi saat ini. Ku lihat napas orang-orang sekitar yang berada di sini keluar dari mulut dan hidung mereka, bak uap kereta api.


"Hai"


Tegur seseorang. Aku menolehkan kepala, mendapati Reynard yang berdiri di belakangku, tanpa isyarat ia langsung duduk di bangku kosong yang berada di depanku. Lagi-lagi mata elangnya menyorot tajam, membuatku tak mampu berkutik.


"Mau teh hangat?" Tanyanya padaku.


Aku mengangguk. Kemudian ia memanggil pelayan yang kebetulan berada di sekitar. Ku dengar ia mengatakan sesuatu pada pelayan cafe ini dengan menggunakan bahasa Prancis, dapat kupastikan ia sedang memesan sesuatu.


Setelah pelayan itu pergi, tak lama pelayan itu membawa nampan berisi dua buah gelas teh, lalu dihidangkannya pada kami, lalu ia pergi.


"Gimana... Masih lanjut?" Tanyanya.


Aku menghela napas, menopang daguku dengan satu tangan, tangan ku yang lainnya mencoba menghilangkan rasa bosan dengan mengaduk ringan teh yang ada di depanku.


"Ya mau bagaimana lagi, kita sudah sejauh ini, keluarga ku juga sangat berharap akan hal ini, jika aku pulang dengan tangan kosong, maka demi apapun yang ada di dunia ini aku sudah menyakiti hati mereka" tutur ku.


Ia menganggukkan kepala, lalu menyeruput sedikit tehnya. "Lalu akan pergi kemana lagi besok?" Tanyanya lagi.


"Sebenarnya aku juga tidak tau, selama ini Abiel yang merencanakan semuanya" kataku pelan.


Diam. Sunyi. Tak ada pembicaraan, hening seketika. Hanya ada suara dentingan sendok dari pengunjung lain yang sedang makan, serta suara deruan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya.

__ADS_1


"Besok tunggu aku di depan apartemenmu, kita akan pergi ke suatu tempat"


Aku mendongak terkejut setelah mendengar perkataannya, tanganku yang semula mengaduk teh berhenti seketika, pandanganku tertuju padanya.


Besok?


Aku dan dia?


Akan pergi kemana?


"Kita sudah sejauh ini, akan percuma jika dihentikan begitu saja hanya karena Abiel tak jadi ikut event" lanjutnya setelah meneguk teh dalam gelasnya.


Aku hanya diam, tak menjawab iya ataupun tidak. Mungkin yang ia katakan benar, tanpa ku katakanpun kurasa ia tau jawabannya. Aku kembali menunduk.


Malam semakin menjelma, setelah shalat isya aku berniat untuk langsung tidur, entah mengapa hari ini rasanya sangat panjang. Tadi setelah dari cafe Reynard mengantarku pulang sampai di depan apartemen, besok aku dan dia akan pergi ke suatu tempat. Sampai saat ini pun aku masih belum tau dimana itu, dia hanya menyuruhku menyiapkan kamera seperti biasa.


Aku membalut tubuhku dengan selimut, baru tadi pagi Nyonya Bill memberiku selimut tebal, katanya musim dingin sudah mulai bertahta.


Mataku sangat sulit dipejamkan, bahkan hanya untuk tenang saja susah. Beberapa kali aku membolak-balikkan tubuh kesana-kemari namun tidak berhasil, membuat ku seolah berada dalam penjara.


Lelah sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk mendengar murrotal Alquran dari ponsel, entah cara ini berhasil atau tidak. Sekian lama aku memaksa diriku sendiri untuk tidur, karena aku tau besok aku akan sangat kelelahan.


****


Suara knop pintu terbuka, aku keluar dari kamar menuju dapur. Pagi ini akan kusempatkan diriku untuk membantu Nyonya Bill memasak sarapan. Sudah beberapa hari ini aku tak membantunya.


Ku lihat pintu kamar Vani masih tertutup rapat, dapat kupastikan ia masih tertidur pulas saat ini, seingatku kemarin ia bilang tidak akan ada kelas hari ini. Aku yakin pasti ia akan sangat memanfaatkan hari ini.


Sampai di dapur, yang benar saja langsung kudapati Nyonya Bill sedang berada di depan kulkas, membungkukkan tubuhnya, mencari-cari sesuatu dari dalam benda pendingin itu. Aku tak langsung menghampirinya, ku lihat kompor listrik sudah memanaskan sebuah penggoreng yang berisi minyak. Di dekatnya ada beberapa potong daging ayam yang sudah di bumbuhi.

__ADS_1


"Hai" tegur Nyonya Bill sambil menepuk pundak kananku. Aku tersenyum ramah padanya. Ku perhatikan, tangannya mulai memasukan potongan ayam yang sudah di bumbuhi tadi ke dalam penggorengan. Lalu beralih memotong bawang.


"Kau akan pergi lagi hari ini?" Tanyanya tanpa melihatku.


"Hmm.. iya" jawabku singkat.


"Bersama teman?"


Aku mengangguk.


"Aku masak banyak hari ini, bisakah kau memberikan sebagian makanan ini untuk temanmu?" Tanyanya.


"Oke" jawabku. Tanganku lalu mengambil spatula yang masih menggantung di gantungan alat penggoreng, membalik ayam yang bawahnya sudah mulai berubah warna.


Setelah semuanya siap, hanya aku, dan sepasang suami istri yang ada di depanku yang sarapan, Vani tidak, mungkin masih tidur.


"Biarkan dia tidur hari ini, ia sangat kelelahan"


Itu yang dikatakan Tian Bill kala aku bertanya mengapa Vani tidak dibangunkan saja untuk sarapan. Sampai disini aku semakin yakin bahwa keluarga kecil ini sangat bertoleransi, saling menghargai juga. Aku harus berterimakasih pada kak Aneeta, karena menitipkan ku pada keluarga damai seperti ini.


Setelah sarapan aku bersiap untuk pergi. Baru saja Reynard mengirimkan aku pesan, bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju kesini. Aku sudah siap, lalu berjalan keluar kamar. Ternyata Nyonya Biil sudah menyiapkan sekotak nasi dengan lauk yang dapat kupastikan itu untuk diberikan kepada temanku, yaitu Reynard.


Setelah mengambil kotak itu, aku keluar unit apartemen. Baru beberapa langkah menuju lift, namun kaki ku sudah gemetaran karena kedinginan, beruntung aku memakai sepatu boot bertali serta syal dan mantel yang mengait di tubuhku. Walau udara dingin sedikit-sedikit akan tetap bisa menembusnya.


Aku sudah berada di depan apartemen, kamera yang sedari tadi menggantung di leherku sebenarnya sangat merepotkan, karenanya tanganku tak bisa kumasukan kedalam saku mantel, alhasil mungkin tanganku ini membeku, walau sudah memakai sarung tangan.


Aku duduk di bangku putih panjang depan apartemen di sisi jalan trotoar, sambil menunggu Reynard, aku sedikit mengotak-atik kameraku, sesekali mencobanya dengan mengambil foto sekitar.


"Assalammu'alaikum"

__ADS_1


Seseorang menegurku dengan mengucapkan salam. Pandanganku seketika terlalihkan olehnya, namun seketika aku membeku. Aku terkejut bukan main dibuatnya, mataku melebar, membulat seperti mata burung hantu, perlahan aku berdiri dari posisi duduk ku. Kini aku tepat berada di depannya.


Mengapa dia ada di sini?


__ADS_2