Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Place de La Concorde


__ADS_3

Hari ini aku menunggu Abiel di depan apartemen yang aku tinggali. Entah sudah berapa lama aku berdiri di sini, Abiel belum juga datang, entah apa saja yang ia lakukan.


Hari ini memang sengaja kami berangkat sore. Kata Abiel Place de La Concorde lebih indah jika dilihat di malam hari, aku pun tak tau yang pasti. Susah ku cari di beberapa sumber, memang sebagian orang mengatakan tempat itu indah jika dilihat pada malam hari, sebagian lagi mengatakan akan lebih indah jika dilihat siang hari.


Maka tadi dengan menggunakan alat komunikasi kami memutuskan akan pergi dua kali, sore ini dan besok pagi. Memang jika ingin memperoleh hasil yang maksimal harus ada pengorbanan, besok aku akan pergi ke sana lagi.


Aku memasukkan tangan ku di saku mantel, memang cuaca sudah tidak terlalu dingin, tapi entah untuk nanti malam, mungkin suhu akan menurun lagi.


Ku menoleh kesana kemari, belum ada tanda-tanda Abiel menunjukkan batang hidungnya. Aku mendengus, beberapa kali aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan ku, menunggu memang suatu hal yang agak menjengkelkan.


"Zulfaaa!" Teriak seseorang entah dari mana.


Dapat kupastikan itu suara milik Abiel, mataku mencari sumber suara, di sebelah kiriku terlihat Abiel tengah berjalan setengah berlari menuju ke arahku. Namun, ia tak sendirian. Itu yang membuat ekspresi ku yang semula tersenyum lebar menjadi berubah.


Reynard. Lelaki itu ternyata sungguh-sungguh dengan perkataannya. Entah mengapa setiap aku berada di dekatnya tubuh Ki seolah membeku, terasa sangat kaku. Entah canggung tau apa, aku tak tau.


"Hai Zulfa!" Sapa Reynard padaku. Aku berusaha untuk tersenyum merespon sapaannya.


Tak lama kami bertiga segera berangkat, dari sini untuk menuju ke Place de La Concorde hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Agar tidak lelah saat berada di sana, kami bertiga memutuskan untuk naik taksi saja, aku dan Abiel duduk di jok belakang dan Reynard di jok depan disamping supir.


Aku begitu cepat melupakan apa yang terjadi padaku barusan, tentang perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hati tanpa di undang. Kali ini aku ingin fokus pada tujuanku datang ke negeri ini.


Sebenarnya pagi tadi aku berhasil menghubungi Abah dan Ummi. Mendengar suara mereka entah mengapa hatiku terasa bagai tersayat belati, mungkin karena berada jauh dari mereka dan sangat merindukan mereka.


Sama seperti sebelumnya, pesan Abah dan Ummi tetap sama. Namun, memiliki seribu makna, akan selalu ku pegang dan aku jadikan patokan nasehat mereka. Aku berada di negeri orang juga karena atas ridho dari mereka.


Namun, sudah berhari-hari aku berada di sini tetapi aku belum juga tau apa ya ga aku akan bawakan untuk mereka dari sini. Sesuatu macam apa yang pantas aku berikan kepada mereka? Jangankan membeli, terpikirkan saja baru kali ini. Aku begitu sibuk dnegan urusanku sehingga sempat lupa jika di seberang sana ada sepasang malaikat sedang menunggu ku.


Duh,.. Abah Ummi maafin Zulfa.


Kami telah sampai di tempat yang kami tuju. Kami berjalan mendekat ke arah monumen itu. Sejak keluar dari taksi, aku sudah menggenggam erat kamera ku, bersiap untuk membuat angle sebaik mungkin.

__ADS_1


Kini kaki ku tepat di depan monumen ini. Mataku menatap ke atas, begitu tinggi hingga harus mendongakkan kepala, aku tersenyum samar.


"Sudah ayo!" Titah Abiel berjalan lebih dulu.


Tetapi aku dan Reynard masih mematung di posisi. Ku lihat Abiel sudah berjalan menjauh dari kami sambil mengotak-atik kameranya. Sejurus kemudian, pandanganku dan Reynard saking bertemu, ia tersenyum padaku. Segera aku menundukkan pandangan.


"Ayo!" Katanya sambil mengarahkan tangannya kedepan, bermaksud mempersilahkan aku berjalan lebih dulu. Lalu aku berjalan di depannya. Segeralah aku mengalihkan fokus ku pada menara yang satu ini, tak ku gubris lagi soal Reynard, aku sibuk dengan duniaku sendiri.


Mungkin hari ini aku Adah penjahat di matanya, tetapi aku tidak peduli. Aku tak ingin mencampur adukan perihal tugas dengan urusan teman. Biarlah dia membenciku beberapa waktu, namun aku percaya semuanya akan kembali seperti semula jika sudah waktunya.



Ini adalah Place de La Concorde.


Place de la Concorde adalah alun-alun di Paris, Prancis. Dan terletak di arondisemen delapan, di timur Champs-Élysées.


Alun-alun ini didesain oleh Ange-Jacques Gabriel pada tahun 1755 sebagai alun-alun berbentuk oktagon yang dikelilingi oleh parit antara Champs-Élysées di barat dan Tuileries Gardens di timur. Dipenuhi dengan patung dan air mancur, tempat ini akhirnya dinamai "Place Louis XV" untuk menghormati raja baru.



Di sekitar sana juga terdapat sebuah air mancur dengan ukiran yang indah di setiap bagiannya. Terdapat beberapa patung yang ada di bawah maupun tengah atasnya. Banyak sekali turis maupun warga lokal yang berkunjung di sini.


Tak jarang dari mereka yang berswafoto dengan keluarga atau sahabat di dekat air mancur atau menara tugu itu. Apalagi jarak antar keduanya tak jauh, hanya beberapa meter saja.


Kata Abiel tempat ini akan menjadi sangat menarik ketika malam hari, aku begitu penasaran dengan wujudnya yang akan seperti apa. Apalah daya, kemarin aku hanya dapat mendengar cerita dari Abiel tentang betapa indahnya tempat ini ketika malam hari, tetapi hari ini aku akan menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri atas keelokan tempat ini.


Sudah kesekian kalinya aku memencet tombol take pada kameraku. Seolah lensa kamera ini tak pernah bosan dengan pemandangan yang ada di depanku. Aku memeriksa foto yang baru saja aku ambil di kamera, hasilnya lumayan, akan ku periksa lagi ketika sudah berada di apartemen.


Hari sudah semakin gelap, lampu-lampu di sekitar alun-alun sudah menyala. Pengunjung pun semakin ramai, langit jingga mendominasi di ufuk barat. Sudah berapa jam aku di sini? Seolah tak ingat waktu, seketika aku menjadi seenaknya sendiri.


Pakk!...

__ADS_1


Seseorang menepuk pundak ku dari belakang, sontak aku menoleh. Kudapati Abiel yang saat ini berdiri di hadapanku.


Pandangannya terlihat lelah, berkaca, namun juga sumringah. Entah ekspresi apa yang digambarkan wajah gadis ini.


"Istirahat di yuk!" Katanya padaku, "disana!" Lanjutnya sambil menunjuk ke arah sebuah bangku di bawah pohon. Ku lihat disana sudah ada Reynard yang terlihat sangat fokus terhadap kamera berlensa telle yang ia bawa, dapat kupastikan itu miliknya.


Aku mengiyakan ajakan Abiel. Aku dan dia lalu berjalan menuju ke arah bangku yang di duduki Reynard. Sampai disana, Abiel duduk di tengah, Reynard berada di samping kirinya, seolah ia mengerti peraturan bagi umat muslim yang bukan mahram.


Ia memberi tempat untuk ku dia samping kanannya, aku tersenyum lalu duduk.


"Bagaimana?" Kata Abiel memulai pembicaraan.


"Hah.. lumayan lah" kata Reynard seolah menyerah.


"Ah waktunya masih lama, masih ada waktu untuk menjadi yang terbaik" kata Abiel menjawab.


"Mungkin seperti itu"


Sunyi. Tak ada percakapan lagi. Satu menit, dua menit hening tanpa suara. Aku pun tak tau harus memulai dari mana, daripada aku kik-kuk lebih baik aku diam. Walau rasanya da ribuan kata yang meronta ingin ku ucapkan.


"Bagaimana kalau kita makan dulu, sambil menunggu malam pekat datang?" Tanya Abiel memecha keheningan.


"Kau sangat tau isi pikiranku" jawabreynard sedikit mengejek.


Sebenarnya aku juga merasa lapar, tapi....


"Bagaimana? Zulfa?" Sergah Abiel mengejutkan ku.


Tak ada cara lain yang dapat menyembunyikan kebohonganku, mau tak mau aku harus mengaku bahwa aku lapar walau tak menggunakan kata-kata. Aku mengangguk setuju, kami bertiga lalu mencari restoran terdekat untuk makan.


Sambil menunggu malam pekat datang, ku ganjal perutku walau dengan sesuap roti nanti. Aku menduga mereka akan makan di restoran yang ada di sekitar sini, yang mungkin tak menyediakan makanan halal.

__ADS_1


Beruntung aku membawa sebuah roti dari kulkas kabin apartemen tadi, aku akan makan disana.


__ADS_2