
"Assalammu'alaikum"
Terdengar jawaban salam dari arah dapur, aku berjalan kesana. Terlihat Ummi yang sedang mencuci beberapa mangkuk sisa bakso, ada tiga tumpuk mangkuk disana, sepertinya tadi sangat ramai.
"Kok baru pulang? Tadi katanya cuma sebentar?" Tanya Ummi yang masih mencuci mangkuk.
"Tadi Zulfa ketemu sama teman lama, jadi ngobrol sebentar, maaf ya mi" jawabku yang berdiri di belakangnya.
Ummi mengangguk sambil tersenyum, setelah itu aku mandi kemudian sholat, usai sholat aku ke depan rumah, tepatnya di warung bakso kecil Abah. Aku segera membantu Abah, kelihatannya beliau kelelahan, aku mengantar mangkuk kesana kemari, sempat Abah bertanya kapan aku pulang.
Setelah beberapa saat, warung mulai sepi, pengunjung satu per satu pergi, mungkin hari ini cuacanya terlalu panas, akibatnya setelah pengunjung terakhir sudah tidak muncul pengunjung lagi.
Selesai membersihkan meja dan lain sebagainya, aku duduk di kursi tempat makan warung, Abah masuk ke dalam, mungkin sholat, Ummi setelah membawa setumpuk mangkuk kotor belum juga kembali, aku sendiri di luar, barangkali ada yang beli.
Aku memainkan ponsel ku, membuka beberapa sosial media milikku, sempat ada seorang ibu yang membeli bakso, aku layani, karena dibungkus jadi tidak makan disini. Aku duduk lagi di kursi itu, mataku terasa sangat berat, aku mengantuk, tapi aku harus tetap terjaga, lagi pula ini siang.
"Door"
Suara seseorang mengejutkan ku dari belakang, aku terhenyak, segera menoleh kebelakang. Terdengar suara gelak tawa di wajah gadis berjilbab yang mengejutkanku barusan. Geram karena tingkahnya, aku mencubit lengannya. Dia mengeluarkan suaranya yang melengking kesakitan.
"Kok di cubit siih?" Gerutunya sambil mengusap-usap lengannya.
"Salah sendiri.." kataku memalingkan wajah.
"Yadeh yadeh maaf" katanya sambil duduk di sampingku.
Dia sedikit melirik ke arah ponselku, berusaha ingin tau apa yang sedang aku lakukan, mengetahui tingkahnya aku segera menjauhkan ponselku.
__ADS_1
"Iiddiih" katanya dengan raut wajah menjengkelkan.
"Apaan sih!" Sahutku. Ia terdiam sejenak.
"Eh Fa, Lo kerja di studio fotografi terkenal kan? Kok bisa keterima sih? Padahal banyak lo yang ketolak!"
"Ya mana aku tau, syukur-syukur keterima dari pada nggak" balasku.
"Iya juga sih" katanya sambil menganggukkan kepala pelan.
Kita bercengkrama berdua. Dia Luluk, teman masa SMA ku yang sampai sekarang masih menjadi teman gandengan tanganku. Dia tipe gadis yang banyak bicara, entah itu pada seseorang yang baru ia kenal, ataupun sebaliknya.
Dia tidak suka berbelit-belit, artinya dia lebih suka to the point dalam segala hal, terkadang aku menegurnya karena tatkala ada perkataannya yang tak sengaja melukai hati seseorang.
Mau bagaimana lagi, Luluk memang seperti itu, tapi dia asik, pendengar yang baik, dan bisa dikatakan dia teman yang bisa diandalkan dalam segala hal.
"Eh nggak usah mi, Luluk sudah makan tadi" katanya.
Semenjak dia mengenalku semasa SMA, Luluk sering ke rumahku, entah itu untuk belajar bersama, ataupun hanya sekedar main. Maka tak heran jika Luluk sudah akrab dengan Abah dan Ummi.
"Sekarang kamu kerja atau lanjut kuliah Luk?" Tanya Ummi pada Luluk.
"Kerja mi, maunya sih kuliah lagi, tapi kalo dipikir-pikir kasian ibu bapak, makanya Luluk kerja aja, lagian udah waktunya cari uang" jelas Luluk.
Ummi mengangguk pelan, sambil duduk bergabung Ummi mengeringkan beberapa mangkuk yang masih agak basah dengan serbet. Kami bertiga berbicara panjang lebar, tak luput dari gurauan Luluk yang selalu menggoda Zulfa, gurauannya pun disambut
Zulfa dengan mimik wajah kurang suka, yang seketika mengundang gelak tawa Luluk.
__ADS_1
Menjelang sore Luluk baru pulang, setelahnya Zulfa mandi kemudian shalat ashar, kemudian kembali lagi membantu Abah dan Ummi.
Malam hari jam 8 warung susah tutup, Abah setelah warung tutup selalu pergi ke masjid, entah apa yang beliau lakukan, padahal sudah shalat isya di rumah. Dan pulangnya selalu larut malam. Ummi tidak pernah bilang apa yang di lakukan Abah di masjid malam-malam seperti ini, aku juga ridak berani bertanya.
Abah rutin pergi ke masjid pada malam hari sejak dulu.
Kala aku masih kecil, pernah aku menangis ingin ikut pergi bersama beliau, itu adalah pertama kali dan terakhir kalinya aku pergi bersama Abah ke masjid, karena setelahnya Ummi melarangku pergi bersama Abah lagi.
Malam itu pun selama aku mengikuti Abah, aku hanya melihat Abah berbicara pada seorang kyai, entah siapa itu. setelah pembicaraan singkat, Abah hanya sekedar menyapu masjid, aku yang menunggunya di serambi masjid masih memandanginya, sesekali Abah tersenyum ke arahku kala itu.
Mungkin suatu rahasia bagi Abah.
Aku berjalan ke kamarku, menutup pintunya kemudian membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan, besok aku sudah mulai berkerja, mulai besok dan seterusnya.
Bosan bermain ponsel, tidak ada sesuatu yang bisa aku kerjakan, dari tadi hanya tiduran menatap langit-langit kamar.
Tiba-tiba sekelebat bayangan wajahnya datang menyelinap di ottak ku. Duh kenapa harus datang lagi sih?
Susah payah aku melupakannya, namun entah apa yang ada padanya sehingga aku begitu sulit untuk melupakannya. Perasaanku padanya memang tak terbalas, karena aku memilih utnuk diam, aku pasrah dengan apa yang di berikan Tuhan.
Memang setiap perasaan suka terhadap seseorang akan di mintai pertanggung jawaban kelak di akhirat nanti. Sering aku berdoa agar Allah menghilangkan memori yang ada di kepalaku tentangnya.
Karena aku berpikir, aku tidak pantas untuknya, aku merasa masih ada gadis lain yang lebih cocok untuknya. Aku ini siapa sih? Hanya seorang gadis kucel anak tukang bakso, dirinya yang terlalu sempurna tidak akan cocok untukku yang hanya seorang gadis yang tak tau diri telah melabuhkan hatinya kepadanya.
Aku lebih percaya terhadap apa yang Allah berikan padaku.
"Ma fi qallbi ghairullah" ucapku lirih seraya memejamkan mata. Di hatiku hanya ada Allah.
__ADS_1