
Hanya Allah yang mengerti mengapa dunia ini diciptakan, hanya DIA-lah yang mengerti mengapa aku diizinkan untuk menginjakkan kaki disini. Sepanjang Indra penglihatan ini memandang, tak satupun keburukan atau kekurangan terselip di sela-sela buana.
Gelitanya malam menambah kesan eksotis di setiap titik yang membentuk kota cahaya ini. Kilauan cahaya lampu jalanan dan pernak-perniknya memantul menggairahkan di permukaan air, sangat memanjakan mata.
Dunia ini serasa dihujani beribu-ribu bintang yang berasal dari antariksa, seolah membawa seribu kebaikan dari langit. Sedang di bumi terdapat ribuan kurcaci yang berebut bintang yang berjatuhan itu, siapa yang memenangi bintang itu, alangkah berutungnya dia.
Setengah jam sudah kapal ini mengangkut ku bersama imajinasiku yang meliar. Entah sudah berapa kali jari telunjuk ku ini memencet tombol Shutter button, tak lelah sama sekali. Bola mataku pun sedari tadi menjelajah seluruh bagian yang ada di sini, tak terlewat satupun. Ku biarkan mata ini menjadi lensa abadi untuk mengabadikan momen ini.
Subhanallah..
Lirih ku dalam hati sedari tadi tak henti bertasbih melihat alam ciptaan-NYA. Sebenarnya ingin rasanya ku tumpahkan cairan yang membendung di pelupuk mata ini, tetapi aku sadar, bukan seperti itu caranya.
"Zulfa!"
Sontak aku menoleh ke arahnya, mendapati dia duduk di samping ku. Mungkin ini yang dimaksud Reynard. Pria jangkung pemilik mata elang ini sedari tadi hanya diam, sorot matanya entah memandang kemana, setiap kali aku menatap matanya, ada kedamaian disana, terdapat bergaia bahasa isyarat yang mungkin tidak aku ketahui maknanya.
Namun, bagiku ia tetap sama, seorang pemburu cahaya kota yang dingin. Meskipun aku tau sikapnya padaku agak berbeda dengan sikapnya terhadap orang lain.
"Sebentar lagi kita akan melewati titik dimana kita bisa melihat Eiffel berdiri dengan gagahnya di sana" katanya sambil memasang ke langit.
"Oh ya?" Sahutku tak percaya.
__ADS_1
Dia mengangguk meyakinkan.
Tak sabar rasanya melihat monumen legendaris itu. Memang aku belum pernah menginjakkan kaki disana, tapi setidaknya kudahulukan mataku untuk memandangnya terlebih dahulu.
Sebenarnya Eiffel juga yang akan menjadi monumen utama yang akan ku ambil klipnya, aku begitu tak sabar untuk pergi kesana, alangkah bahagianya aku ketika berada tepat di bawahnya, mendongakkan kepala, mungkin hatiku akan bergetar ketika melihatnya.
Aku tersenyum padanya. Sepanjang hari ini entah mengapa ia sedetik pun tak pernah mengendurkan senyumnya, wajahnya itu selalu lengkap dengan senyumnya, aku pun tak tau yang pasti kepada siapa senyum itu di tunjukan.
Tibalah saatnya dimana kapal yang aku tumpangi melewati titik yang di tunjukan Reynard. Reynard mengulurkan tangannya menunjuk sebuah benda yang menjulang tinggi, menyala bagai lilin raksasa, cahayanya gemerlap menerangi kota, pantulannya di permukaan air tak kalah indah, mataku mengikuti arah yang di tunjukkan Reynard, inilah dia.
Subhanallah...
Mataku tak lepas dari sana, makin tak sabar untuk menunggu hari itu tiba.
Sedari tadi hanya kalimat-kalimat Allah yang aku ucapkan lirih di hati, biarlah aku dan Tuhanku yang tau.
Sudah beberapa meter melewati momen itu, namun benda tinggi pencakar langit itu amsih terlihat gemerlapnya, memaksa mata untuk selalu melihatnya, apalah daya.
"Cantik kan?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk. Tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, ini sangat berlebihan.
__ADS_1
"Apakah kamu mau pergi kesana?" Tanyanya lagi.
"Rencana, semoga bisa pergi ke sana bersama"
Tak sadar. Aku tak sadar apa yang aku katakan. Sebenarnya tak aneh, juga tak salah. Tapi, akankah ia pergi bersamaku juga?
"Ku harap itu akan terjadi" katanya sambil tersenyum. Lalu pandangannya teralihkan lagi.
Langit semakin gelap, matahari sudah seutuhnya menenggelamkan dirinya. Setelah turun dari kapal, aku da Reynard berjalan di sisi jalan sungai Seine. Pemandangannya masih tetap sama, tetapi ada sedikit tambahan disini.
Reynard lalu mengajak ku mencari restoran terdekat. Tak bisa ku pungkiri, aku memang lapar, diriku sempat bertanya-tanya, apakah orang ini bisa membaca pikiran?
Maka kami berdua berjalan menyusuri jalan untuk mencari makan, sudah tidak di area sungai Seine lagi. Ia tau jika aku seorang muslim, maka ia mengajak ku untuk makan di restoran halal terdekat, supaya tidak berjalan terlalu lama.
Hanya beberapa saat kami sudah menemukan restoran halal di pinggir jalan, segera aku dan Reynard masuk ke dalamnya. Nuansanya sangat berbau Eropa klasik, di mana-mana ada lukisan yang menggantung, ada juga ukiran kaligrafi yang memanjang dari ujung dinding ke ujung dinding lainnya.
Aku dan Reynard duduk di bangku dekat kasir, hanya dua kursi. Tak lama setelah kami duduk, datang seorang pelayan berbaju hitam dengan segala aksesorisnya, dapat kupastikan itu pakaian resmi dari restoran ini.
"Mau pesan apa?" Tanyanya.
Mataku membaca berderet-deret tulisan yanga da di buku menu, tak lupa melihat jumlah euro yang berada di sampingnya. Saat ini aku sedang mengehemat uang, maka aku pilih menu yang kelihatan murah dan halal. Reynard juga pesan makanan yang sama denganku.
Setelah makanan datang, kami pun makan. Setelah ini aku pun tak tau akan pergi kemana lagi.
__ADS_1