
"Faire!"
Aku tersenyum padanya, lalu kami berjalan beriringan. Pemandangannya sangat indah, tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, serasa tenggorokanku tercekat sesuatu yang membuatku tak bisa berkata-kata.
Suasana yang cerah mendominasi, hingga pantulan sinar matahari membuat kilauan yang menghiasi air sehingga menjadi lebih astethic. Angin pun tak kalah, berkeliaran seenaknya membelai semua yang ia terpa, membuat bulu kudu ku seolah berdiri di tengah-tengah suasana indah namun mencekam ini.
Sungai Seine memiliki panjang 776 kilometer membelah kota Paris menjadi dua bagian, sisi kanan dan sisi kiri. Seine mengalir melalui Paris dan masuk ke Selat Inggris di Le Havre. Ada 37 jembatan di Paris dan puluhan lainnya mencakup sungai di luar kota.
Sungai Seine merupakan sungai paling tersohor di Perancis. Aliran sungai ini dimulai dari area Burgundy mengalir ke wilayah North West Perancis melalui Troyes di daerah Champagne Ardenne. Aliran sungai ini pun melewati kota Paris di kawasan Ile de France, yang seolah membagi kawasan ini menjadi dua bagian, yang dikenal luas dengan sebutan tepi kanan dan tepi kiri.
Kini aku dan Reynard berada di jembatan Pont de la Tournelle. Menikmati keindahan sungai Seine di atasnya, sedari tadi mungkin senyum di wajah ku tak kunjung memudar. Kamera yang menggantung di leher ku ku biarkan begitu saja, ku biarkan lensa mataku menjadi kamera yang sebenarnya.
Masyallah
Gumamku dalam hati, yang sedari tadi bertasbih tak kunjung henti melihat keindahan bumi milik sang Maha Kuasa. Tak terasa mataku mengeluarkan cairan bening, tapi tak tumpah. Sekuat tenaga aku berusah menahannya tanpa mengusapnya, biarlah mengambang di pelupuk mata, jika itu menjadikan mataku bersih untuk bersedia melihat keindahan ini maka aku biarkan.
Tak pernah ku rasakan suasana seperti ini selama hidupku, negaraku tak kalah indahnya dengan alamnya.
"Bagaimana?" Tanyanya yang membuyarkan lamunan ku.
Aku menatapnya sambil tersenyum, tak mengatakan apapun. Ku lihat ia mengangguk, seolah mengerti apa yang tertulis di mataku. Dia memandang lurus ke depan, tanpa berkedip sekalipun. Buku matanya yang lentik sedikit bergerak di tiup angin, hidungnya yang mancung membentuk wajahnya, sorot mata elangnya menjadi penyempurna wajah itu.
Ku alihkan pandanganku, mengikuti arah pandangnya. Huh, apa lagi ini?
__ADS_1
"Lanjut?" Tanyanya padaku. Aku mengangguk, kami lalu berjalan melewati jembatan itu. Sesekali berbicara tentang ini itu.
"Biasanya di pagar jembatan ada ribuan gembok yang menggantung di sini" katanya sambil berjalan di sampingku.
Ribuan gembok?
Ku lihat tak ada satu pun gembok yang tergantung atau menyembul di sela-sela pagar jembatan, kapalu sempat menoleh ke belangakng juga, namun sama tak ada satupun gembok yang ada di sana.
"Tapi sekarang sudah tidak ada, sudah di tutup oleh pemerintah, karena dulu sempat ada pagar yang roboh karena kelebihan muatan beban" lanjutnya dengan ekspresi yang sama.
"Roboh? Jatuh ke sungai?" Tanyaku.
Dia mengangguk. Sekelebat gambaran tentang bagaimana pagar itu roboh membuatku tercengang, bayangkan saja, ribuan gembok yang saling mengait satu sama lain di pagar jatuh ke sungai karena kelebihan muatan, pantas saja pemerintah melarang memasang gembok di pagar.
Tapi satu yang masih tidak aku mengerti, mengapa mereka memasang gembok di sana?
Reynard tersenyum, ia belum menjawab.
"Orang bilang, jika sepasang kekasih memasang satu gembok di sana lalu membuang kuncinya ke dasar sungai, maka cinta mereka akan abadi" katanya, mataku melebar ketika mendengar ucapannya itu. "Aku pun tidak tau, apa itu benar atau tidak" sambungnya sambil sedikit terkekeh.
Aku menganggukkan kepala, mencoba mencerna semua yang dikatakan Reynard. Walaupun sebenarnya otak ku masih belum sempurna menerima apa yang ku dengar.
Kini langit sudah berubah warna, jingga bertahta di ufuk barat, matahari baru setengah menenggelamkan dirinya, kilauan pantulan cahaya matahari semakin menyilaukan di air, segerombolan burung merpati sudah tidak ada.
Tadi aku dan Reynard sempat memberi makan mereka. Reynard tertawa ketika ia tau aku di kerumuni begitu banyak burung merpati dan aku kuwalahan. Memang aku sedikit kesal dengannya, tapi, seru juga.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, jika biasanya kaki ku sangat pegal setelah berjalan begitu jauh, kali ini kaki ku baik-baik saja ketika aku dan Reynard sudah hampir setengah hari di sini, meski sedari tadi hanya berjalan di sekitar, namun hari ini aku seperti melayang, tak merasakan apa-apa, seolah di kaki ku ada sepasang roda yang membantu.
Aku dan Reynard berjalan di jalan pinggir sungai Seine, di sini pula berjejer gedung-gedung bernuansa klasik yang sangat indah, catnya tidak terlalu terang juga tidak terlalu redup, gaya gotiknya sangat cocok dipandang mata.
"Dulu aku waktu kecil sering bermain di sini bersama ayah ku" katanya dengan wajah ceria.
Tak pernah ku lihat, wajah Reynard seceria ini. Jika pertama kali bertemu wajahnya dingin bak es kutub, namun kaki ini senyum pun tak mengendur dari wajahnya. Aku yang sedari tadi menyadarinya ikut tersenyum, terkadang aku heran dengan diriku sendiri, entah apa yang terjadi padaku ketika aku bersamanya.
Sepanjang mataku memandang pemandangannya sangat menarik hati, apalagi saat mataku menangkap sebuah sesuatu yang baru pertama kali aku lihat. Sebelumnya aku lewat sini tak mihatnya, baru kali ini saja.
Aku terkejut, seketika aku menghentikan langkah kaki ku. Tanpa kusadari Reynard yang tau aku berhenti juga ikut mengentikan langkahnya, ia mengikuti arah pandangku. Aku melihat ke sungai Seine, di sana ada sesuatu.
"Mau naik?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
Sebuah kapal yang mengambang di atas sungai Seine menarik perhatian ku. Beberapa penumpang disana nampak senang, wajah mereka tak mengendurkan seulas senyum, beberapa dari mereka membawa kamera berlensa untuk mengabadikan momen.
Aku memandang Reynard, ingin seki aku menjawab iya, tetapi hati kecil ku melarangnya. Alhasil aku menggeleng, bohong.
Tanpa respon apapun, Reynard melanjutkan langkah kakinya, ku ikuti langkahnya dari belakang. Mataku tak henti memandang kapal yang melintas di atas sungai yang mulai menjauh dariku. Ada sedikit rasa menyesal di sana, tapi, yasudah lah.
Lama berjalan entah kemana, aku tak tau yang pasti. Tiba-tiba Reynard memanggilku, aku pun menoleh ke arahnya. Tak kusangka kini aku dan dia berada di tepi sungai Seine, mau apa?
"Aku tau yang sebenarnya" katanya sambil tersenyum ke arahku.
Aku yang tak mengerti apa yang ia katakan mencoba mencerna semuanya. Tiba-tiba terdengar suara deruan mesin yang datang dari arah samping, mataku terbelalak ketika aku melihat kapal tadi berhenti di depan ku dan Reynard.
__ADS_1
Aku juga tak mengerti menagapa Reynard menapakkan kakinya ke atas kapal itu, ia lalu memberi isyarat padaku untuk naik juga. Sampai disini aku sudah mengerti apa yang ia maksud, dengan ragu dan malu aku naik ke atas kapal itu.
Disinilah semuanya bermula.....