Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Permainan Waktu


__ADS_3

Paduan warna light gray dengan putih susu sangat memanjakan mata. Sepasang sprei dan selimut ini telah menemani setiap malam ku selama berada di negeri orang. Belum lama aku merapikan sprei serta selimut terdengar suara ketukan dari arah pintu.


Aku lalu berjalan untuk membuka pintu itu, terlihat Nyonya Bill dengan tas coklat di lengannya. Sepertinya wanita ini akan berpergian lagi.


"Selamat pagi, maafkan aku karena sudah mengganggumu, kupikir hari ini aku akan pergi bersama Pamanmu ke rumah orang tuanya yang berada di luar kota. Mungkin 3 hari aku disana" katanya dengan senyuman.


Aku mengangguk ramah, aku sudah tau bahwa selama aku disini akan lebih banyak waktuku untuk sendirian di rumah.


"Hati-hati dan jangan lupa selalu memberikan kabar" balasku.


"Ku harap kalian akan betah di rumah, baik-baik ya!" Katanya lalu melenggang dari pandanganku. Ku ikuti langkahnya dari belakang menuju pintu utama apartemen, disana mataku menyaksikan sampai ia berbelok ke lorong di ujung sana. Alasan mengapa aku tidak mengantarnya sampai ke lobi, tentu kalian juga tau.


Kata-kata Abah dan ummi masih terngiang di kepalaku. Kemarin malam cukup lama kami berbicara, hingga aku lupa bahwa smartphone yang digunakan adalah miliknya Luluk.


"Beberapa bulan lalu, ada teman lamamu yang datang kemari, katanya ingin melamar kamu Nduk"

__ADS_1


Tak bisa hilang begitu saja dari ingatan, suara Abah seolah mampu menggambarkan situasi yang terjadi disana. Tanpa sepengetahuan ku, dia ternyata kembali. Ku akui aku dulu memang pernah menaruh hatiku padanya, namun siapa sangka rasa itu hilang seiring waktu karena terlalu lama berada dalam hatiku?


Hingga aku berhasil melupakannya karena menurutku aku sudah ada penggantinya, bersama luka lubuk hatiku berderai melupakan namanya yang sempat terukir di benak, sekarang tak ada lagi yang kuharapkan dari sepertiga malam ku.


Senekat itu dirinya hingga mengikutiku sampai kesini, apa yang akan dia katakan? Entahlah.


****


Sepanjang kaki ku melangkah, mataku melihat kesana kemari. Cukup ramai, karena weekend, kebanyakan remaja yang sedang menikmati liburannya, bermain di pinggiran jalan bersama teman dan keluarga.


Hari ini tujuan ku adalah masjid favoritku yang ada di kota ini. Aku selalu merindukannya, namun karena kesibukan ku, aku jadi jarang kesana. Ini entah yang keberapa kalinya aku mengunjunginya. Hari ini aku berniat akan berada di sana sampai malam.


Gedung-gedung bercorak Eropa kuno menambah kesan eksotis. Beberapa dari mereka terlihat seperti sebuah rumah yang bertumpuk, karena terdapat banyak jendela di setiap sisinya, salah jika orang menyebutnya hotel.


Kota ini seketika membuatku seolah menjadi orang Eropa asli, mengapa tidak?

__ADS_1


Hidangan makanannya, kesan di setiap momen, ukiran yang menarik perhatian, setiap jengkal hari-hari ku seolah berjalan mundur, bau Eropa kuno ini masih menyengat di hidungku, rasanya tak ingin beranjak dari kota cahaya ini.


Sampai di masjid, aku segera mengambil air wudhu lalu masuk ke dalamnya. Sambil menunggu azan ku buka Al-Qur'an kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Tiap helai lembarnya sudah berubah warna, kuning seolah menua oleh waktu.


Ingatanku meloncat ke beberapa tahun yang lalu, ketika Abah memberikan ini padaku sebagai hadiah karena aku masuk ranking 3 besar waktu SMA. Sampulnya yang biru lusuh, mungkin karena terlalu lama berada dalam tasku, tak akan aku gantikan ia. Karena ia-lah yang selama ini menjadi saksi di setiap perjuangan ku.


Huruf demi huruf yang membentuk lukisan berbaris rapi nan indah, lidahku melantunkannya dengan lembut. Lirih, mungkin hanya aku yang mendengar.


Habis beberapa lembar, bacaan ku terhenti di penghujung ayat. Hatiku bergetar, jemariku mulai renggang hanya untuk sekedar memegang mushaf. Sekali lagi telingaku mendengarnya, ini sudah yang kedua kalinya.


Suara itu..


Bacaan itu..


Lantunan itu..

__ADS_1


Nafasku naik turun, aku berusaha mengontrolnya. Aku yakin aku mengenalnya, tetapi mengapa aku tidak tau? Jika saja suara itu menampakkan pemiliknya, walau hanya satu bagian dari wajahnya saja, mungkin aku akan mengenalinya.


Tapi seolah aku ini dipermainkan oleh keadaan, waktu tak kunjung berpihak padaku, aku dibuatnya selalu bertanya-tanya siapa dia. Suara murrotal ini sangat meneduhkan hati, alangkah menawan pemiliknya. Sayup-sayup aku mendengar dengan hikmat, menikmati alunan nada yang sangat indah, yang tidak akan mungkin untuk memiliki saingan.


__ADS_2