
"Welcome to the opening ceremony of international level cinematography. Ladies and gentleman welcome to sit on the bench that has been prepared, the event will begin soon."
Kudengar suara itu dari pengeras suara di setiap sudut gedung. Aku berjalan menuju tempat utama dilaksanakannya pertemuan besar itu. Rok panjang menjulur hingga menutupi kaki ku sama sekali tak menggangu, baju yang ku kenakan berwarna hitam polkadot putih dengan panjang hingga pergelangan tangan, kerudungku berwarna abu-abu. Namun, aku menggunakan mantel, jadi sebagian tubuhku tertutup olehnya.
Hari ini aku begitu bahagia. Pagi tadi aku berhasil menghubungi Abah dan Ummi, suara mereka sangat menghiburku. Aku sangat merindukan mereka, aku hanya bisa mendengar suara mereka, karena untuk melakukan video call ada aplikasi yang harus ku unduh dulu. Itu pun tadi aku menghubunginya melalui ponsel Luluk.
Ku hargai kerja keras Luluk, demi bisa menghubungkan ku dengan Abah dan Ummi, dia rela datang ke rumah ku selepas subuh. Menghubungiku yang berada nun jauh dari keluarga, bersyukur aku bisa mendengar suara Ummi, suaranya sangat teduh.
Beberapa kali beliau memberikan petuah yang teramat dalam makannya, tak lupa dengan Abah yang suaranya penuh dengan akaih sayang selalu menyampaikan tentang ini dan itu. Sakin lamanya berkomunikasi, aku sempat lupa bahwa aku harus bersiap untuk pergi ke pertemuan.
Satu jam berbicara, bagiku hanya satu menit untuk mendengar suara mereka.
Komunikasi dengan mereka berakhir ketika nyonya Bill memanggilku untuk sarapan. Huh, aku sangat merindukan mereka.
Aku duduk di barisan bangku agak jauh dari mimbar, namun cukup terlihat untuk melihat keseluruhan sisi mimbar.
Ku lihat di samping kiriku duduk seorang gadis muda menggunakan syal yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya, beberapa kali ia berbicara seolah geram menggunakan bahasa Prancis, aku tak tau itu.
Di samping kanan ku duduk seorang wanita memakai mantel tebal, rambutnya di ikat ekor kuda, bola matanya besar, wajahnya menawan sekali. Huhu aku berada di tengah-tengah orang besar. Apalah dayaku yang hanya seorang gadis berasa dari keluarga sederhana.
"Hai!"
Tegur seseorang dari samping kanan ku. Aku menoleh kemudian menanggapi sapaannya, dia tersenyum padaku, senyumnya manis sekali.
"Les participants aussi?" Tanyanya dalam bahasa Prancis.
Oh, Allah, cobaan apa lagi ini?
"Sorry, I'm not French, so I don't speak French" balasku padanya, yang seolah membuat kedua kelopak matanya melebar.
"Oh, really?" Sahutnya.
__ADS_1
Aku mengangguk yakin. Dia kemudian menyalamiku sambil meminta maaf berkali-kali, dia bilang wajah ku hampir mirip dengan orang Prancis. Aku sedikit terkejut dengan pengakuannya itu, gadis kucel sepertiku bagaimana bisa dikatakan mirip dengan wajah orang Prancis? Ada-ada saja.
Setelahnya kami berdua bercengkrama tentang ini itu, berbahasa Inggris dengan cas-cis-cus membuatku senang, sekaligus belajar mengatur tata bahasanya.
Namanya, Abiel. Tinggal di kota Lourmarin, usianya sama denganku, yaitu 22 tahun. Kami berbicara cukup lama, sampai akhirnya acara dimulai, dan kami diam.
Mulai dari sambutan kepala acara, kemudian di lanjutkan dengan pidato salah satu pengurus kota, lalu di lanjutkan lagi dengan seorang fotografer terkenal di Prancis yang bahasa Inggrisnya memukau.
Waktu terus berjalan, saking lamanya aku duduk di bangku, punggungku rasanya ngilu sekali, aku segera ingin berdiri.
Tak lama setelahnya akhirnya acara resmi dibuka, pembawa acara membacakan aturan-aturan dalam pelaksanaan event serta memberi keterangan apa saja yang harus di lakukan semasa proses pengambilan objek.
Semua peserta boleh menjadikan objek wisata mana saja yang ada di Prancis ini, asalkan mematuhi aturan dan etika yang ada. Sebelumnya aku sudah membuat list tempat destinasi mana saja yang ingin aku jadikan sebagai objek, aku akan mulai bekerja besok.
Berhubung deadline juga awal bulan depan, maka aku akan melakukan proses editing di negeri ini juga, khawatir akan melewati deadline.
Setelah berjam-jam duduk di bangku yanga ada di dalam gedung, akhirnya acara selesai dan peserta di perbolehkan kembali pulang. Namun aku belum mau pulang, aku akan menjelajah kota ini dulu. Tadi aku sudah menghubungi nyonya Bill dan juga Vani, mereka mengizinkan asalkan aku tidak pulang malam.
Lelah sendiri akhirnya kami menyudahi perdebatan.
"my name is Reynard" katanya sambil mengulurkan tangan kanannya padaku. Aku terpaku menatap tangannya itu, aku tak tau harus berbuat apa. Jika aku membalas uluran tangannya, tapi aku muslim. Jika aku tidak membalas uluran tangannya, aku akan terlihat sombong di depan orang baru.
Aku masih menatap tangan itu, berusaha memberi isyarat tersendiri.
Akhirnya ia paham, ia menarik lagi tangannya. Kemudian tersenyum ke arahku.
"I'm Zulfa" kataku sambil menyatukan kedua telapak tanganku dan meletakkannya tepat di depan dada.
"Saya tau anda muslim" katanya, "maaf saya baru menyadarinya" lanjutnya dengan bahasa Inggris yang super menurutku.
"Tidak masalah" balasku.
__ADS_1
Perbincangan kami hanya sekedar itu saja, karena dia bilang dia amsih sibuk dengan urusannya, sedangkan aku pun masih ahrus pergi ke suatu tempat. Maka kami berpisah di tengah kerumunan banyak orang.
Aku berjalan menyusuri jalan, tempat pertama yang akan ku kunjungi adalah masjid. Yaitu masjid Grande Mosquee de Paris. Jaraknya lumayan jauh, bisa menggunakan kendaraan, tapi aku memilih untuk berjalan. Dengan bantuan Maps, aku mengikuti arah yang ditunjukkannya.
Aku memilih berjalan kaki karena aku ingin mengenal kota ini terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan aku menjumpai orang-orang yang juga berjalan di sekitarku. Ada yang berjalan sambil membaca, sambil bermain ponsel, sambil mendengarkan musik, bahkan ada yang sambil makan Snack.
Aku juga menyapa beberapa orang, ternyata mereka ramah, tak seperti yang ku kira. Sebenarnya aku sungkan, canggung, malu, tapi ini adalah kesempatanku untuk mengenal dunia, maka aku harus melakukannya.
Melewati Sainte Chapelle, aku berhenti sejenak kemudian sedikit mengangkat ponselku, ku arahkan kamera ponselku dan memfokuskannya pada objek, sekali jepretan hasilnya memukau. Ku lanjutkan langkah kaki ku kembali.
Sainte Chapelle adalah kapel kerajaan dalam gaya Gotik, di dalam Palais de la Cute abad pertengahan, kediaman Raja Prancis hingga abad ke-14, di sekitar ile de la Cute di sungai Seine Paris, Prancis.
Nuansanya sangat klasik, jika dilihat seolah membawa kesan kerajaan lampau dengan eksotisnya.
Setelah melewati tempat bersejarah itu, sepanjang perjalanan mataku melihat banyak sekali aktivitas yang di lakukan kota ini.
Jadi teringat dengan Abiel. Wanita itu tadi menceritakan bagaimana kota Paris ini. Ceritanya sangat panjang, mungkin sepanjang rel kereta dari Jakarta menuju Surabaya. Aku terkekeh dalam hati.
Akhirnya aku sampai di masjid Grande Mosquee de Paris. Aku berhenti di gerbang utamanya, menatap ke arah masjid besar itu. Ada sebuah tarikan dalam hati, seolah menggelitik. Aku menghela napas dalam, kemudian melangkah masuk ke dalam masjid.
Setelah melepas sepatu, aku langsung menuju ke tempat wudhu wanita. Setelah wudhu aku masuk ke dalam masjid. Sepanjang kaki ku melangkah, ku dongakkan kepalaku ke atas, melihat ukiran-ukiran bernuansa Arab yang melekat di setiap jengkal sisi masjid. Masyallah.
Sangat indah, terdapat taman di sekitar masjid, banyak rumput yang tumbuh di tanahnya, suasananya sejuk sekali. Siapapun yang berada disini akan sangat betah untuk memanjakan mata. Udaranya sejuk sekali, ada sebah air mancur yang terletak tepat di tengah-tengah taman, tak lupa bunga-bunga yang senantiasa memberi aroma di setiap jengkal taman itu.
Nuansa hijau merajarela, bertepatan dengan warna kesukaan Baginda Rasullullah. Jika dilihat dari depan masjid ini terlihat biasa saja, namun jika sudah masuk ke dalamnya, setiap jemaah akan dimanjakan dengan keeksotisannya. Masjid ini di dominasi warna putih, dengan lampu besar yang menggantung di langit-langit masjid.
Setelah puas menikmati keindahan masjid ini aku duduk di tengah-tengah shaf wanita. Sambil menunggu azan zhuhur, aku membuka mushaf ku yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi. Ah, tapi rasanya masih belum puas untuk melihat seluruh isi masjid ini.
Aku mulai membaca setiap ayat yang tertulis di sana, dengan sangat lirih. Dapat satu lembar, terdengar suara azan. Suara sangat merdu, aku menikmatinya penuh hikmat. Suaranya menggema di seluruh pelosok masjid, hingga mampu menggetarkan hati.
Tak terasa sebulir bening jatuh dari pelupuk mataku, aku tak sanggup menahannya lagi, aku terpaksa menumpahkannya. Suara muadzin ini sangat menyentuh kalbu, semoga Allah selalu memberi Rahmat untuk muadzin di seluruh dunia ini.
__ADS_1
Aku segera mengusap air mataku, takut ada orang yang melihatnya. Aku bangkit untuk mengambil wudhu lagi, khawatir nanti salatku tidak sah.