Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Mousse de Louvre


__ADS_3

kan lebih menarik jika pergi sore hari menjelang malam"


Benarkah?


Memang aku belum pernah kesana, tetapi dia orang asli di kota ini, apakah salah jika aku tidak mempercayainya?


Itu yang dia katakan waktu aku menghubunginya tadi pagi, dia menyarankan agar berangkat sore hari saja. Sore ini aku akan berkunjung ke tempat itu, salah satu tempat yang menjadi incaran ku ketika di negeri ini. Gambaran tempat bersejarah itu menari-nari di kepala ku, akan ku habiskan imajinasi ku untuk mengenang setiap jengkal tempat itu.


Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.


Ah... Rasanya tidak sabar akan menginjakkan kaki ku di tempat itu.


****


"Tunggu aku disana!"


Aku mengiyakan saja. Aku lalu duduk di bangku hitam di depan lobi apartemen, di sisi bangku berdiri tiang lampu jalan kepalaku bersandar di tiangnya, karena posisinya memang hampir menempel dengan bangku.


Sempat terlintas di pikiran ku apa kabar dengannya. Sudah lama aku tak mendengar kabarnya, terakhir kali Abah memberitahuku bahwa dia mengunjungi keluargaku disana. Namun setelah kabar burung itu aku tak lagi mendengar namanya. Kemana dia? Apakah dia menyerah? Atau justru menghilang karena akan datang dengan rencana yang mengejutkan?


"Hai"

__ADS_1


Seseorang melambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Aku tersentak, bangkit dari sandaranku, aku menatapnya lekat, mata elangnya menjurus lurus ke arah mataku. Kontak mata terjadi di antara kami.


"Aku tidak terkejut karena aku sudah terbiasa dengan kebiasaan mu itu, menatap orang dengan tatapan yang tidak jelas" gerutunya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sudahlah, ayo pergi" kataku sambil menggantungkan tas selempang di pundak kanan ku, lalu berjalan mendahuluinya.


"Dasar"


Tempat tujuan kami hari ini adalah Mousse de Louvre, sebuah museum yang terkenal di negeri bekas kekuasaan Napoleon ini. Jaraknya tak jauh dari sini, kira-kira hampir 1 Km, kami berhenti di halte terdekat lalu naik bus angkutan umum. Tak sampai satu jam, kami sampai di tempat tujuan.


Berjalan agak dekat lagi untuk melihat yang lebih realistis. MasyaAllah. Tepat di depan mataku, sesuatu yang sangat indah, yang baru pertama kali aku lihat, akan ku pastikan lensa mataku akan mengingat semuanya, walau dengan samar-samar, gambaran itu tidak akan hilang.


"Ayoo" ajaknya.


"Zulfa sebaiknya kita masuk ke museumnya dulu, untuk Piramida kaca ini kita tunggu beberapa saat lagi, kamu pasti akan suka" katanya tersenyum ke arahku. Aku mengangguk, kami lalu berjalan masuk ke dalam.


Di pintu masuk mataku sudah melihat beberapa relief dinding yang sangat indah, pasti ini semua dipahat oleh seniman terkenal. Mataku tak berhenti di satu titik, terus menggerayangi seluruh bagian dari museum ini, bahkan mungkin sampai ke rumah semut.



Mousse de Louvre adalah salah satu museum seni terbesar yang paling banyak dikunjungi dan sebuah monumen bersejarah di dunia. Museum Louvre terletak di Rive Droite Seine, Arondisemen pertama di Paris, Prancis. Hampir 35.000 benda dari zaman prasejarah hingga abad ke-19 dipamerkan di area seluas 60.600 meter persegi.

__ADS_1


Lukisan dengan bingkai keemasan serta ukiran yang sangat detail menambah kesan klasik, ada sebagian atap yang menggambarkan lukisan perang dunia ke II, lukisannya sangat detail bahkan untuk satu titik saja betul-betul diperhatikan. Semua nuansa terlihat sangat Eropa klasik.


Museum ini bertempat di Istana Louvre (Palais du Louvre) yang awalnya merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Philip II. Museum yang disahkan pada tanggal 10 Agustus 1793 dengan memamerkan 537 lukisan yang kebanyakan diperoleh dari properti gereja kerajaan. Jumlah koleksi museum meningkat di bawah pemerintahan Napoleon dan museum berganti nama menjadi Musée Napoléon.



Salah satu yang menjadi sasaran ku adalah lukisan Monalisa. Karya Leonardo da Vinci ini sempat hilang, menurut dari suara yang ku dengar, kabarnya lukisan ini pernah dicuri namun berhasil di temukan kembali dan dikembalikan ke museum ini.


Tak sampai itu saja, lensaku ini tak mau melepaskan satu jengkal dari museum ini, entah sudah berapa banyak yang kuambil gambarnya.



Sesuatu yang sangat tidak mungkin aku lupakan, tak heran jika museum ini paling banyak pengunjung diantara monumen lain selain Eiffel. Memang setiap jengkal dari bagiannya tak pantas untuk dilupakan, aku yakin itu akan terjadi padaku.


"Zulfa, kamu dari tadi terlalu asik memotret sampai lupa denganku yang mulai kelelahan karena sudah hampir dua jam kita berjalan"


Oh Astaga.


Aku melupakan makhluk yang sedari tadi bersamaku, aku sangat keterlaluan. Ku lihat ia membungkuk sambil memegangi lututnya, dia pasti kelelahan karena mengikutiku. Ku lihat benda yang melingkar di pergelangan tangan ku, mataku terbelalak ketika membuktikan apa yang dikatakan Reynard itu benar. Susah hampir dua jam aku berkeliling dan aku tidak sadar. Oh Allah.


"M-maaf. Kalau begitu kita keluar saja, akan ku belikan sesuatu untuk mu, kita istirahat di luar, pasti ada tempat duduk disana" bujuk ku. Semoga dia tidak marah ataupun kecewa.

__ADS_1


Dia melihat ke arahku, posisinya masih sama, memegangi lututnya. Ia lalu tersenyum, "oke baiklah kita istirahat sebentar, setelah itu lakukanlah apa yang kamu mau" ucapnya sambil menegakkan tubuhnya yang jangkung. Kami lalu berjalan keluar.


Aku merasa bersalah atas apa yang telah ku lakukan padanya, selama ini aku sudah terlalu merepotkannya, walaupun jika dilihat ia nampak baik-baik saja, atau malah senang karena bersamaku, tetapi tetap saja aku merasa tidak enak. Bodohnya diriku.


__ADS_2