Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Lingkungan Baru


__ADS_3

Sampai di apartemen Vani, aku disambut hangat oleh Paman dan Bibi Vani. Mereka begitu baik, baru menginjakkan kaki ke dalam saja aku sudah di tawari ini itu, kalau bukan Vani yang memberitahu mereka bahwa aku juga butuh istirahat, maka mereka tak kan berhenti memanjakan ku.


"Don't hesitate to ask us anything, just treat it like your own family"


Itu yang dikatakan mereka ketika aku akan menuju kamarku yang sebenarnya sudah siaipkan oleh mereka. Aku merasa tidak enak, baru datang saja aku sudah dijamu bak raja seperti ini.


Ku kira orang luar negeri itu sangat cuek, jarang bicara, dan mengurus dirinya sendiri. Namun, ku sadari aku salah. Mereka tidak seperti itu. Jika yang sering tampak di layar televisi atau apapun itu yang memperlihatkan orang luar negeri yang terlalu fokus dengan gadgetnya, tapi tidak dengan yang ku dapati saat ini. Mereka begitu humble dan sagat menghargai.


Mereka pastinya juga tau bahwa aku seroang muslimah. Walau mereka non-muslim, ku rasa mereka akan menghargai ku disini. Vani bilang, keluarga kecilnya itu jarang sekali makan daging ****, dan jarang pula minum-minuman keras. Karena Paman Vani yang lebih tepatnya Tuan Bill tau bahwa minuman keras hanya akan membuat manusia sakit.


"Jadi Kak Zulfa jangan khawatir masalah makanan disini, semuanya aman"


Katanya kala mengantarkanku masuk ke dalam tempat peristirahatan.


Setelah mandi dan salat aku bergabung dengan keluarga Vani untuk makan malam. Makan malam hari ini sangat istimewa. Bagi keluarga Vani. Entah apa yang terjadi padaku, rasanya perutku sangat tidak enak untuk dimasuki makanan, apa mungkin aku Jet Lag?


Apapun itu, aku berusaha untuk bersikap seperti biasa. Di tengah dentingan sendok kami bercengrama bersama. Tuan dan Nyonya Bill sangat ramah, mereka tak pernah menyinggung tentang hal pribadiku. Namun, hanya satu kendala ku, yaitu bahasa.


Walaupun menurut Luluk aku cukup lantang berbahasa Inggris, namun aku masih merasa bahasaku itu masih selevel dengan plankton. Jika William James Sidis mampu menguasai 6 bahasa ketika masih berusia 4 tahun, maka aku baru bisa berbicara lantang berbahasa luar negeri di usia berkepala. Itupun mungkin hanya bahasa Inggris.

__ADS_1


Setelah makan malam, Nyonya Bill memintaku untuk segera istirahat, beliau paham betul keadaan seseroang jika berada di lingkungan baru, terutama di luar negeri seperti ini. Aku masuk ke dalam kaamarku. Namun, tidak segera berbaring, karena aku belum mengantuk.


Yang benar saja, di Paris sudah jam setengah sepuluh lebih, dan jam segini masih belum waktunya salat isya. Sedangkan di Indonesia masih sore, tentu saja aku belum mengantuk. Bahkan rakyat negara Seribu Candi itu masih aktif melakukan aktivitas ini itu, masih menunggu waktu magrib tiba.


Paris dan Indonesia memiliki selisih waktu kurang lebih 5 jam. Jika di indonesia masih sore, maka di Paris sudah malam. Mungkin aku akan tertidur menjelang pagi hari, karena terbiasa dengan waktu Indonesia.


Kamarku bernuansa Eropa klasik. Di dinding sebelah kanan tergantung lukisan pegunungan terbesar dan terluas di Eropa yang membentang dari Austria, Slovenia di timur, melalui Italia, Swiss, Liechtenstein, dan jerman sampai ke Prancis barat yaitu pegunungan Alpen.


Di dinding sebelah kiri, ada sebuah rak berbentuk kubus yang menempel di dinding disertai berbagai macam hiasan yang berdiri di atasnya. Kamar ku bercatkan warna cream yang suasananya mendamaikan. Kamar ini juga difasilitasi sebuah kamar mandi dan sebuah penghangat udara. Karena memang di Prancis saat ini sedang bertahtanya musim dingin.


Vani bilang musim dingin akan berakhir bulan Maret. Jadi, mungkin bagi orang Indonesia sepertiku yang terbiasa dengan iklim tropisnya sangat susah beradaptasi di negara beriklim sedang ini.


Aku masih belum bisa tidur, kini aku berdiri di balik jendela, menatap ke luar jendela. Ingin tau apa saja yang terjadi di luar sana. Jendela ku telat mengahdao ke arah jalan raya, dimana aku bisa melihat kendaraan yang Kilauan lampunya menghiasi jalan raya malam.


Kota metropolitan ini sangat menawan ketika malam hari. Apalagi dilihat dari atas, karena unit apartemen keluarga Vani berada di lantai 5.


Jadi ingat dengan Abah dan Ummi. Mereka apa kabar ya? Wajah kedua orang itu selalu melekat di ingatanku. Jika dari kecil aku tinggal bersama mereka,maka untuk satu bulan kedepan aku tinggal terpisah dari mereka. Tempatku yang sangat jauh mampu membuat jiwaku seolah dicambuk ratusan kali, karena merindukan mereka.


Besok aku akan menghubungi mereka melewati ponselnya Luluk.

__ADS_1


Aku menghela napas panjang, sekali lagi aku merapatkan jaketku.


Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunanku, aku berjalan membuka pintu.


"Loh kak, belum tidur juga?" Sergah Vani ketika pintu belum sempurna terbuka. Gadis berambut pendek itu nampaknya sudah sangat lelah. Aku mempersilahkan ia masuk.


"Belum Van.. nggak bisa tidur" balasku. Kulihat dia tertawa kecil sambil duduk di sisi tempat tidurku.


"Kebiasaan di Indonesia sih"


Saking lamanya di luar negeri, kudengar suaranya ketika berbahasa Indonesia seperti suara bule yang baru saja belajar bahasa Indonesia. Sepanjang perjalanan menuju ke apartemen tadi, kudengar ia begitu lantang berbahasa Prancis dan Inggris. Entah apa yang ia bicarakan dengan Tuan supir taksi tadi, aku dapat menebak bahwa bahasa yang ia gunakan berbicara pada Tuan supir tadi menggunakan bahasa Prancis, terlihat dari logatnya yang begitu kental.


"Tidur Lo kak, kata Aneeta Kak Zulfa besok mau menghadiri meeting besar Lo.. pertemuannya di gedung dekat Eiffel kan?" Cerocosnya padaku.


"Iya.. " jawabku singkat.


Memang besok adalah jadwalku menghadiri pertemuan untuk pembukaan event itu, aku mungkin juga harus mempersiapkan diri untuk dapat berkomunikasi dengan peserta lain. Aku sudah membayangkan bagaimana pertemuan di gedung besar yang juga dihadiri oleh banyak orang dari berbagai negara.


Akan ada banyak bahasa di dalam satu ruangan, akan ada banyak ras, suku, dan budaya dalam satu ruangan. Aku akan bertemu dengan orang-orang mancanegara yang mungkin besok juga akan berkomunikasi denganku.

__ADS_1


Setelah berbicara tentang ini itu dengan Vani, ia kembali ke kamarnya. Setelah salat, aku mencoba membaringkan tubuhku dan tidur. Namun, mataku tetap tak bisa terpejam. Aku harus memaksanya, karena besok aku harus bangun pagi juga.


Aku memilih mendengarkan murrotal Alquran dari ponselku, cara ini yang biasa aku gunakan disaat aku tidak bisa tidur seperti ini. Dan perlahan mataku dapat terpejam dan aku lelap dalam tidurku. Di balik selimut tebal aku menenggelamkan tubuhku, berlindung dari udara dingin yang sejak tadi menusuk. Tak sabar menunggu cahaya matahari hangat menyambut besok.


__ADS_2