Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Seine 1


__ADS_3

Sepulang dari masjid tadi aku langsung mandi kemudian istirahat. Rasanya tubuhku sangat kelelahan, beruntung saat pulang aku bertemu Tuan Bill, jadi kami pulang bersama tadi.


Tapi aku sedikit lega, setelah sekian lama aku berada di negeri ini, ini kali keduanya aku mendengar suara lantunan suara ayat suci Alquran. Tadi ketika di masjid suara itu menggema di seluruh pelosok masjid.


Sangat indah, sangat mendamaikan, begitu halus masuk ke dalam kalbu, suara berat entah milik siapa mampu membuat hatiku luluh. Lantunan surat Al-Mulk yang menelisik hatiku begitu merdu, entah siapa pemilik suara itu, semoga Allah selalu memberinya keberkahan di dunia maupun di akhirat.


Aku merebahkan tubuhku di pembaringan, rasanya tempat tidur ini sangat dingin, lagi-lagi udara dingin mengusiknya. Aku menenggelamkan tubuhku dalam.bakutan selimut tebal, aroma harum dari bunga wisteria ini semakin membuat rasa kantuk datang, karena kemarin baru saja di laundry.


Mataku sudah tak mampu untuk terjaga lagi, perlahan aku masuk ke dalam dunia mimpi.


****


"Kamu bilang hari ini cuti, tapi mengapa dandan rapi seperti itu?"


Dia tersenyum mendengar ayahnya melontarkan pertanyaan seperti itu.


Hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu dengan pujaan hatinya, walau rasanya terpendam amat dalam, tapi ia tak mau hubungan yang bisa dikatakan teman dengan Zulfa menjadi pudar begitu saja karena jarang berkomunikasi.


Dia mengklaim sendiri bhawa dirinya memang jatuh hati pada gadis yang berasal dari Indonesia itu. Kesalehan dan keanggunan gadis itu mampu mencuri sedikit perhatiannya. Ia tak tau apakah perasaan yang ia alami akan pudar seiring waktu atau malah semakin menjadi.


Bisa dibilang hari ini adalah awal dari kedekatannya dengan gadis itu, meski ia tau bahwa ia akan mendapat jawaban yang memang tak di inginkan kemudian hari. Namun, apa salahnya berusaha?


Ia akan mencoba mengenalnya, mengenal kepribadiannya, ia tau bahwa gadis dari negeri seribu candi itu tak mudah luluh hatinya, maka ia akan cari keridhoan dari Tuhannya untuk mendapatkan hati gadis itu.


Seolah tau jawaban yang ia akan dengar, pria tua itu memasanga wajah ceria. Seolah memberi isyarat ia mendukung apa yang akan dilakukan oleh anaknya.


Setelah itu Reynard pergi, tadi pagi ia sempat menghubungi Zulfa. Ia dan Zulfa akan pergi ke suatu tempat sore ini, sesuai perjanjian mereka akan bertemu di depan apartemen Zulfa.


Sedari tadi degup jantungnya tak beraturan, sebentar lagi ia akan bertemu dengan gadis yang telah mencuri hatinya. Senyum yang sejak tadi tak pernah mengendur masih menghiasi wajahnya.

__ADS_1


****


"Maaf ya kak.. jika hari ini aku tidak les untuk ujian pasti aku akan menemani kakak.. mungkin lain waktu aku akan memiliki waktu" katanya meyakinkanku.


Aku tersenyum, "nggak papa kok.. kamu les aja.. belajar yang rajin ya!" Kataku.


Itu percakapan yang sempat terjadi di antar aku dan Vani tadi pagi, dia tak bisa menemaniku pergi karena les ujian akan dimulai secara rutin mulai hari ini, dari siang hingga malam, jamnya memang padat.


Aku bersender pada tiang lampu yang ada di pinggir jalan di depan apartemenku. Menunggu seseorang yang akan keluar bersama ku hari ini. Aku pun tak tau kedepannya akan seperti apa, aku juga tidak tau apa saja nanti yang akan aku bicarakan padanya, aku seolah pasrah dengan keadaan.


Aku menghembuskan napas panjang, kedua telapak tanganku sudah masuk ke dalam saku mantel sejak tadi, udara sangat dingin hari ini, jadi aku memakai syal juga yang ku kaitkan di leher ku.


"Bonjour!"


Seseorang menyapaku. Segera aku menolehkan kepala ke sumber suara. Sapaan yang terdengar hangat dengan menggunakan bahasa Prancis itu sangat sopan masuk ke dalam tenlingaku.


Ku dapati seorang lelaki yang sangat aku kenal, dia datang dengan senyumnya yang langka, bagiku. Aku berdiri tegak, kembali menyapanya. Entah mengapa, Reynard menurutku berbeda dengan laki-laki lain, entah apa alasannya.


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Kami kemudian berjalan beriringan menyusuri jalan. Seperti biasa suasana canggung melanda, ingin rasanya aku emmulai berbicara, tapi aku tak tau apa yang akan dibicarakan. Ku harap ada sesuatu yang bisa menyelamatkan ku dari keadaan ini.


Sepanjang perjalanan entah mau kemana, hanya ada suara deruan kendaraan serta ocehan singkat dari beberapa ora g yang berpapasan dengan kami.


Aku tersentak ketika kaki ku tak sengaja menyandung sesuatu yang membaut ku hampir terjatuh. Spontan juga Reynard menoleh ke arahku, tangannya sempat keluar dari saku jaketnya, mungkin berniat ingin membantuku.


"Are you okay?" Tanyanya padaku yang masih mengontrol jantung karena terkejut. Mungkin aku tak fokus saat berjalan, pandanganku memang kedepan, namun aku tak tau arah jalan pikiran ku sendiri.


"Ya, i'm okay" kataku.


Dia tak mengatakan apapun lagi. Lagi-lagi sunyi melanda, akhirnya dengan mengumpulkan keberanian aku mulai mengawali pembicaraan.

__ADS_1


"Akan pergi kemana kita?" Tanyaku padanya.


"Kamu sendiri ingin pergi ke tempat mana?" Tanyanya balik.


Aku?


"Sebenarnya tidak ada"


Dia diam sesaat, mengeluarka kedua tangannya dari saku jaket lalu menggesekkan keduanya dan meniupnya, kemudian memasukkannya lagi ke dalam saku jaket.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke tempat yang menurutku indah" katanya.


"Dimana itu?"


"Ikut saja, tempatnya tidak jauh dari sini" katanya sambil tersenyum.


Aku tanpa berkata-kata menganggukkan kepala mengiyakan ajakannya.


Ku ikuti langkah kakinya, aku tak tau akan dibawa kemana. Sedikit muncul rasa takut akan sesuatu, karena memang ini bukan di negeri ku sendiri, apalagi aku dan Reynard baru saja kenal, namun pikiran ku itu langsung ku tepis, berusaha untuk positif thinking.


Setelah beberapa menit berjalan kaki akhirnya kami sampai di suatu tempat. Tempatnya gak sepi, namun pemandangannya menakjubkan, aku dibuat terpukau oleh keelokannya. Masyallah.


Inilah sungai Seine. Tempat yang pernah aku lewati namun baru kali ini aku menginjakkan kaki di sini. Tak alang kepalang ternyata sungai ini sangat menakjubkan, walau tidak begitu berinterior namun sanggup memanjakan mata, apalagi jika dilihat sore hari seperti ini.


Setauku, sungai Seine adalah sebuah sungai utama di Prancis bagian barat laut. Sungai ini merupakan salah satu jalur lalu lintas air komersial dan juga menjadi sebuah tujuan wisata, khususnya bagian yang terletak dalam kota Paris.


Sungai ini membelah kota Paris menjadi dua bagian yang dalam bahasa Prancis disebut dengan istilah la rive droite "tepi kanan" dan la rive gauche "tepi kiri". Yang dimaksud dengan tepi kanan adalah Paris Utara dan tepi kiri adalah Paris Selatan. Paris Utara lebih makmur daripada Paris Selatan.


Aku berdiri melamun di posisiku, menatap lurus ke depan. Aku tak sadar jika sedari tadi Reynard mencoba memanggilku, dia juga sempat melambaikan tangannya ke arahku, namun sangking terpukaunya aku dengan sungai Seine ini, aku tak tau harus bagaimana.

__ADS_1


Hingga di detik dimana aku tersadar dari lamunanku, aku melihat Reynard terkekeh sendiri, mungkin dia tertawa karena aku. Aku merasakan pipiku memanas bagai kepiting rebus.


__ADS_2