
"Zulfa, aku akan menunggumu di taman"
Ucapnya di seberang sana. Aku menutup pembicaraan, lalu bersiap untuk pergi bersamanya. Dengan mantel berwarna biru muda yang dipasangkan dengan sepatu boot bertali hitam aku siap untuk pergi.
Sore ini adalah kesempatan yang kudapat untuk mengambil klip terakhir dari video yang akan ku buat. Monumen terakhir sekaligus pengalaman terakhir selagi masih berada di negeri ini.
Gambaran indahnya monumen itu sudah terbang di pikiran ku, menjulang tinggi seolah menyentuh langit. Entah siapa yang memberi izin bayangan itu untuk menggantung di kepalaku. Bertanggung jawablah engkau karena telah membuat bibirku tak mengendurkan senyum sama sekali.
Tas yang berisi kamera sudah menggantung di bahu kiriku, aku sudah siap.
****
"Ingat!! Beranikanlah dirimu, jangan takut akan jawaban darinya, sesuatu yang mengganjal di hatimu itu harus segera di keluarkan, jangan pedulikan akan ekspresi yang akan di gambarkan wajahnya, yang terpenting kau sudah mengungkapnya, mengatakan hal itu dengan tukus dan benar padanya, jangan buat dia merasa terkucilkan, ucapkan kalimat yang menggambarkan itu adalah dirimu yang sebenarnya!"
Kalimat demi kalimat ya selalu dipegang teguh olehnya. Apalagi setelah ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia akan membawa bidadari dari negeri seribu candi, respon yang ia terima sangat tak terduga.
__ADS_1
Ia mengira ayahnya tidak akan setuju, malah sebaliknya, seribu persen pria tua itu mendukung anaknya dalam mengejar cinta dalam diamnya.
Kini ia sudah berdiri di bawah tiang lampu jalanan taman yang ketika malam menerangi jalan supaya pejalan kaki dimalam hari tak kehilangan jalan.
Sama dengan hatinya. Telah lama hitam usang, akan tetapi suatu ketika ada sepercik cahaya yang entah muncul dari mana yang hingga saat ini mulai berangsur membesar membentuk bulatan cahaya yang terang. Namun, mirisnya ia pun tak tau apakah cahaya itu memnag benar diperuntukkan untuknya ataukah bukan.
Cuaca sangat dingin, salju mulai turun perlahan, tidak begitu deras. Ramalan cuaca hari ini memang suhunya sangat rendah, akan tetapi masih menjadi dugaan bahwa akan turun salju malam ini.
Gemetaran kaki pun tidak dirasanya olehnya, dinginnya udara tak mempan menembus benteng yang ada di hatinya untuk satu kesempatan saja. Sekelompok burung merpati Yanga da di depannya seolah siap mengantarkan pesan dari surat yang di tujukan untuk seorang putri raja. Harinya begitu bersemi, semoga tidak ada air mata di akhir cerita.
****
Sudah amat lama aku berjalan, rasanya kaki ku seolah sehabis ditimpa benda yang sangat berat, seolah mati rasa. Apalgi dengan sepatu boot bertali yang sebenarnya bukan sahabatku sama sekali.
Akhirnya aku lelah sendiri, aku menyerah, kaki ku sudah tidak kuat. Ku ambil ponsel dari dalam tas kecilku lalu mencari-cari nama seseorang. Beberapa kali Aku menghubunginya namun tidak berhasil, sebenarnya apa yang terjadi dengan hari ini?
__ADS_1
Aku duduk di ba gku putih di sekitar jalanan taman, disana aku menunggu sambil berusaha menghubunginya kembali. Setelah beberapa menit menunggu, ku lihat ada seseorang yang datang dari arah kanan ku yang sedang berjalan mendekatiku.
Dapat kupastikan dialah orangnya. Dari keaujahan, ia mempercepat langkah kakinya, wajahnya begitu berseri, sepertinya ia sedang bahagia.
"Maafkan aku" sergahnya begitu sampai di hadapanku.
Aku mengangguk sambil mengulurkan senyum padanya. Segera kita menuju ke tempat tujuan, walau sebenarnya kaki ku masih sangat lelah, tetapi jika tidak berangkat sekarang maka aku akan pulang larut malam.
Aku berjalan beriringan dengannya, awalnya kami saling diam, mungkin karena tidak tau hal apa yang pantas dibicarakan. Namun, perlahan suasana canggung itu berubah menjadi cair ketika ia mengatakan hal-hal yang menurutku lucu.
Ia berhasil membaut ku tertawa, sampai di dalam taksi pun dia masih menyerocos seolah memiliki mulut yang berhak atas segala kata-kata yang ada di dunia ini.
Sepanjang perjalanan kami terus tertawa, dia senang aku juga senang. Namun, satu yang tidak aku mnegerti akan diriku sendiri.
"Mengapa aku seperti ini?"
__ADS_1