
"O iya, besok kamu mau kemana lagi?"
Aku berpikir sejenak, menempelkan ujung jariku ke dagu, mengangkat alisku sebelah. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan menjelajah kota Paris dan kota-kota lainnya mungkin, jadi aku membutuhkan banyak waktu untuk itu.
"Emm.. mungkin ke Fontaine Saint Michel" kataku. Mendengar jawabanku, ia melebarkan matanya, menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan pipinya. Ia terkejut? Kenapa?
"Aku ikut ya! Aku mohon... Aku belum pernah kesana sekalipun" cerocosnya.
Zulfa agak sedikit heran, tapi ia menyanggupi permintaan temannya itu. Kini aku dan Abiel berada di depan apartemen tempat tinggal ku. Dia mengantarku sampai ke depan lobi, sedangkan ia sendiri harus pulang ke hotelnya. Ia bilang padaku, ia tak pulang ke kotanya sebelum tugasnya disini selesai. Biar tidak bolak-balik, itu yang ia katakan.
Kami berpisah di depan lobi, ia melambaikan tangannya. Kemudian aku masuk ke dalam, segera menuju unit apartemen.
Rupanya Tuan dan Nyonya Bill masih menonton televisi di ruang tamu, Vani tak bergantung bersama mereka, mungkin dikamarnya. Aku baru saja melangkahkan kaki ku masuk kedalam, Nyonya Bill langsung menyuruhku untuk makan, tentu saja aku menolak, mengingat aku sudah makan tadi.
Aku langsung mandi, kemudian salat. Selepas salat aku berniat menghubungi Luluk, memberitahu agar besok pagi ia bisa datang ke rumah Abah dan Ummi. Namun, sedari tadi aku memandangi ponsel, belum ada tanda-tanda ia menerima pesanku, aku mencoba menelfon juga tidak bisa. Mungkin ia sibuk.
Aku beralih ke laptop ku, mengambil kamera lalu memasukan memori kamera ke dalam port memori yang ada di laptop. Setelah memindahkan semua video dan foto yang tadi aku ambil dari Arc de Triomphe, ku isi daya baterai kamera, agar dapat ku gunakan lagi besok.
Aku menutup laptop ku, berjalan gontai ke arah tempat tidur. Duh, rasanya semua tulang-tulang ku sangat pegal, seolah habis menjadi tukang kuli bangunan saja.
Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur, Masyallah rasanya sangat lega. Tanpa menunggu apa-apa, mataku langsung terpejam begitu saja, rasa kantuk telah menguasai ku. Lirih aku berdoa dalam hati semoga Allah selalu melindungiku dalam tidur.
****
"Hati-hati di jalan!"
Pria itu tersenyum, kemudian mengangguk pada Ayahnya. Ia lalu mengalungkan sebuah tas selempang ke tubuhnya yang jangkung, dan beranjak pergi.
Mulai hari ini ia akan menjelajah kota cahaya ini, ia sudah menyiapkan dengan matang konsepnya itu, ia begitu yakin hasilnya akan memuaskan. Wajahnya berseri penuh semangat, satu telapak tangannya menggenggam sebuah kamera berlensa telle, ia berhasil membeli kamera mahal itu dengan uang hasil jerit payahnya sendiri.
Tak sia-sia selama ini ia bekerja di studio pemotretan, begitu banyak klien, sehingga ia mampu membeli kamera itu. Sebuah kenikmatan yang tiada tara baginya.
Ia berjalan penuh harap, sejauh matanya memandang ia hanya melihat masa depan. Ayahnya merestui setiap langkah yang ia tempuh, itu membuatnya semakin giat. Nasib malang menimpanya ketika ia masih duduk di bangku SD.
Saat itu adalah masa yang paling memilukan bagi keluarganya, Ibunya meninggal dunia kala ia masih di bawah umur. Dalam keadaan yang kekurangan, ia berusaha membantu Ayahnya bekerja untuk menghidupi keluarga terutama adiknya yang kala itu masih balita.
__ADS_1
Ayahnya bilang, bagaimanapun keadaannya ia harus tetap sekolah, mau tidak mau. Alhasil dulu setiap pulang sekolah ia membantu Ayahnya bekerja sebagai tukang parkir di sebuah mall, terkadang ia juga di beri uang oleh beberapa pemilik kendaraan juga ketua dari mall. Ia tabung, lalu dapat melanjutkan sekolah sampai menjadi sarjana.
Ia masih berjalan, membelah kerumunan orang-orang yang entah sejak kapan memenuhi trotoar. Ia percaya bahwa usahanya akan membawanya menuju takdir yang baik.
****
Sejak tadi aku menunggu Abiel, ia belum juga datang, padahal dia menjanjikan akan datang 30 menit yang lalu. Kepalaku terus saja menoleh ke sana kemari, mencari-cari sosok Abiel, namun sejak tadi batang hidungnya belum juga terlihat.
Aku duduk di sebuah bangku putih di dekat taman, sambil memegangi ponsel. Kali ini aku menggunakan syal, aku takut kedinginan lagi, mantel yang panjangnya sampai ke lutut ini sebenarnya sangat hangat ketika digunakan saat kedinginan, namun untuk cuaca yang Memang dingin seperti ini dan tidak biasa untuk ku sangat tidak mempan. Rasanya percuma saja aku menggunakan mantel ini.
"Zulfaaaaa!" Teriak seseorang. Aku mendongakkan kepala, mencari-cari sumber suara. Pandanganku terhenti pada seorang gadis yang kini berlari ke arahku. Akhirnya datang juga.
Tepat di depanku ia mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Sesekali ia batuk, aku segera berikan air mineral yang sengaja kubawa dari rumah tadi. Ia meneguknya perlahan, lalu menghembuskan napasnya.
"Huh, terimakasih.. dan maaf aku terlambat, karena tadi aku bangun kesiangan" tuturnya padaku. Ku maklumi keterlambatannya, tidak apa-apa. Karena sejatinya kemarin kami berjalan sangat jauh, kesana kemari menyusuri jalanan kota hingga pulang malam. Bahkan tadi pun aku tidak akan bangun kalau tidak ada sebuah alarm yang membangunkan ku dari alam mimpi.
"Iya nggak papa, kita jalan sekarang?"
Ia mengangguk sambil tersenyum. Kami lalu berjalan beriringan menyusuri jalan kota, sengaja tidak naik taksi, supaya lebih menambah pengalaman dalam bersosialisasi, bertemu banyak orang, dan lain sebagainya.
Sepanjang perjalanan kami menjumpai banyak orang, entah itu turis atau warga asli Prancis. Mereka melempar senyum ramah pada kami, Aku dan Abiel pun begitu.
Inilah tempat kedua yang aku kunjungi.
Fontaine Saint Michel. Adalah air mancur monumental yang terletak di Place Saint-Michel di arondisemen ke - 6 di Paris. Monumen itu dibangun pada 1858-1860 selama Kekaisaran Kedua Prancis oleh arsitek Gabriel Davioud . Telah terdaftar sejak 1926 sebagai monumen historique oleh Kementerian Kebudayaan Prancis .
Tempatnya sangat klasik, terdapat sebuah patung di depannya, terdapat juga ukiran di setiap dinding disana yang menambah kesan kalsik.
"Kesana?" Tegur Abiel.
Aku tergagap lalu mengangguk. Kami melangkahkan kaki untuk melihat lebih dekat. Namun, saat akan berjalan kami dikejutkan dengan suara peluit dari seorang polisi. Semua orang yang berada di sana spontan melihat ke arah polisi tersebut. Ada apa?
Semua bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Aku dan Abiel saling menatap, tak tau apa yang sedang terjadi. Seorang polisi berlari entah mengejar siapa sambil terus meniup peluit yang membuat telinga ngilu rasanya.
__ADS_1
Sekian menit menunggu, entah apa yang terjadi, Abiel bilang hak itu sering terjadi di kota seperti ini, mungkin pencuri atau orang jahil. Kami melanjutkan langkah kaki.
Air mancur ini jika dilihat dari dekat sangat berbeda auranya, seketika buku tangan ku berdiri, seolah aku dibawa ke zaman dulu.
Ku lihat wajah Abiel sangat senang, ia tak peduli lagi denganku, ia susah berada di depanku sambil memegang kamera miliknya, entah sudah berapa jepretan yang ia ambil, Abiel sangat antusias.
Aku mengeluarkan kameraku dari tasnya, ku posisikan lensanya dengan benar. Satu jepretan berhasil aku ambil dari sisi depan. Saatnya mengasah skill ku.
Aku dan Abiel seketika menjadi orang asing yang tak saling mengenal. Ia sibuk sendiri, aku pun sibuk sendiri, ia berjalan kesana kemari aku tak peduli. Aku fokus dengan kamera dan objek langka ku ini.
Sampai sekitar kurang lebih satu jam aku baru selesai, aku mencarinya, ku lemparkan pandanganku ke semua sisi. Ternyata dia duduk di bangku putih dekat jalan, aku segera menghampirinya. Kelihatannya ia sudah selesai lebih dulu dariku.
"Sudah selesai?" Tanyaku smabil duduk di sampingnya. Ia tengah meneguk sebotol air minum, selesai minum lalu ia memakan sebuah Snack yang mungkin ia bawa dari rumah.
"Aku sangat frustasi" jawabnya dengan ekspresi datar.
Aku yang semula minum, terkejut hingga tersedak, batuk berkali-kali. Apa yang ia akatakn barusan? Frustasi? Ku pikir dari tadi ia sangat fokus dengan kesibukannya hingga mungkin hasilnya snagat maksimal, lalu kenapa ia merasa frustasi?
Aku memandangi wajahnya, ia nampak acuh. Mulutnya tak berhenti mengunyah Snack. Kesal sendiri ia berdecih.
"Kenapa sih?" Tanyaku padanya.
Ia mengalihkan pandangannya ke arahku, tatapannya amaih tetao sama, datar. Ia membanting snacknya di tengah-tengah kami.
"Asal kamu tau ya, tadi itu saat aku sibuk dengan objek ku ada sesuatu yang sangat menganggu ku. Ada seorang anak kecil, dia laki-laki, tubuhnya gendut, ia bilang dia ingin meminjam kameraku" jeda tiga detik, "aku pikir ia akan menggunakannya hanya untuk foto dengan temannya saja, namun tidak. Setelah ia mengembalikan kameraku, ku lihat foto dan video yang ku ambil dari objek itu hilang semua"
Aku terkejut bukan main.
"Dia menghapusnya Zulfaaaa... Bersih tak ada satupun yang tersisa, padahal aku berusaha keras untuk mendapatkannya dengan hasil yang maksimal" ia mulai menggerutu, "lalu apakah ini balasannya?"
Aku meluluhkan pandanganku, merasa kasihan terhadap temanku yang satu ini. Ku lihat ia bekerja keras untuk mendapat hasil yang maksimal, lalu dengan mudahnya, tanpa disangka-sangka, semua hasil jerit payahnya hilang seketika. Hanya karena ulah jahil seorang anak kecil.
Ku lihat wajahnya murung, terlihat raut wajahnya seolah ia marah, sedih, frustasi, kecewa, semuanya campur aduk. Mau menangispun tak akan mengembalikan foto dan videonya.
Aku menepuk pundaknya, berusaha memberi setitik harapan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa... Aku mengerti rasa kekecewaanmu... Jangan khawatir, aku akan menemanimu mengambil klipnya lagi" kataku menghibur. Dia mengangkat wajahnya, lalu beralih memandangiku. matanya seolah bertanya apakah aku bersungguh-sungguh.
"Sampai selesai" kataku. Ia lalu memelukku erat. Seketika aku merasa ia sahabat ku di negeri ini. Sebelumnya aku berpikir, aku tidak akan memiliki teman ketika berada di sini, namun dugaanku salah. Abiel telah merubah pikiranku.