
Baru saja kaki ku melangkah keluar, aku terpaku dalam posisiku. Mataku enggan berkedip, menyaksikan sesuatu yang tak terduga. Aku tertegun. Bagaimana tidak, bahkan orang lain pun akan mengalami hal yang sama denganku. Seketika aku menjadi egois, aku ingin waktu berhenti, agar aku bisa terus menatapnya.
Cahaya emasnya berkilau bagai berlian, di pucuk atasnya apalagi, semuanya dikelilingi cahaya, suara air mancur merebak menelisik telinga, langit yang mulai kehitaman menambah terang cahaya dalam kegelapan, sungguh terpesona aku memandangnya.
"Zulfa"
Suara Reynard mengejutkan ku. Aku tersentak, seketika otak ku rasanya panas, aku memang kelelahan, tapi semua ini akan terbayar. Tidak akan sia-sia.
Kami lalu berjalan melewati Piramida yang bersinar bak galaksi itu, sepanjang kaki ku melangkah mataku tak bisa lepas darinya, aku menggerayangi setiap jengkal dari cahaya itu, walaupun dari kejauhan, dapat kupastikan setiap titiknya akan terekam, tersimpan oleh memori ingatan ku.
"Astaghfirullah"
Kaki ku menginjak tali sepatuku sendiri. Keduanya ternyata sudah lepas, entah sejak kapan. Aku terlalu fokus dengan apa yang ku lakukan sehingga tali sepatu saja tak terlihat oleh mataku.
"Makanya kalau ikat tali sepatu yang rapi" ucap Reynard sinis. Ia lalu berlutut, jemarinya yang mulai mengikat tali sepatuku membuatku tak bisa berkata-kata, aku dibuat menyerana olehnya. Aku merasakan kedua pipiku memanas, mungkin warnanya sudah berubah menjadi tomat.
__ADS_1
"Kebiasaan" sergahnya menyeka lamunan ku. "Sudah ayo kita duduk disana" lanjutnya berjalan mendahuluiku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa ia sangat menyebalkan.
Aku dan Reynard duduk di bangku putih, menjulurkan kaki ku merupakan hak yang sangat ku nanti sejak tadi. Pergelangan kaki ku rasanya seperti dikerubungi semut, kemudian beramai-ramai menggigitnya. Tepat di depan ku berdiri dengan menawan Piramida cahaya yang barusan membuat mataku terhipnotis oleh ke elokannya.
Banyak sekali orang yang mengerumuninya, berpose di depan lensa kamera untuk mengabadikan momen yang mungkin sangat langka dan istimewa bagi mereka. Mengapa tidak? Lihat saja Piramida itu, hasil karya dari Loeh Ming Pei yang lahir di Guangzhou itu membuat mataku seolah tak ingin mengalihkan pandangan.
Mungkin seseorang akan bertanya, mengapa aku tidak menyimpan gambarnya dengan kameraku ini. Hanya untuk sekedar dijadikan kenangan mungkin orang lain akan melakukannya. Namun, tidak untuk ku. Akan ku biarkan lensa mataku merekam semuanya, aku ingin menggunakan ingatanku untuk mengabadikan momen ini, tidak untuk sesaat. Walaupun hanya sebuah gambaran sketsa hitam putih yang tersisa di ingatanku, mungkin akan cukup untuk membayar lelah ku selama ini.
"Ini!" Lagi-lagi suaranya menyita lamunanku. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang sempat ku beli sebelum datang kemari. Aku menerimanya, beberapa tegukan masuk melalui kerongkonganku, segarnya terasa sampai ke perut, aku merasakan betapa derasnya aliran air yang ku minum.
"Zulfa apa aku boleh bertanya?" Ucapnya memulai pembicaraan.
"Tapi janji jangan marah!" Kata-katanya mulai seperti anak kecil.
"Tidak akan marah jika kamu tidak menjengkelkan" balasku dengan sinis menatapnya.
Ia menganggukkan kepalanya, lalu memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Kalau misalkan ada kebakaran, pemadam kebakaran apakah harus senang atau sedih?" Tanyanya.
Aku yang sedang meneguk air seketika langsung menyemburkan air itu dari mulutku, lalu menatapnya. Apa ini? Pertanyaan macam apa Ya Rabbi. Aku bahkan tidak tau mulai dari aksara apa aku harus jawab.
"Kamu sakit?" Tanyaku balik padanya.
"Aku bertanya, kenapa ditanya dengan pertanyaan seperti itu?"
"Justru seharusnya aku yang bertanya padamu mengapa menanyakan hal seperti itu, aku mana tau jawabannya"
Ia tertawa. Hingga rahangnya terlihat, jelas bisa dilihat ekspresinya yang sangat jarang tertawa seperti itu. Mendengar gelak tawanya aku jadi ikut tertawa, walau tidak bersuara seperti dia.
"Sungguh aku terlalu memikirkannya sejak pagi, aku bingung, dan berencana bertanya padamu, tapi kau malah menyemburkan air itu keluar, beruntung tidak ada orang yang lewat" cerocosnya dengan tawa renyah.
"Pertanyaan mu tidak memiliki jawaban yang pasti, tanya saja pada orang yang lebih tau" ucapku.
Senja kami bersama gelak tawa yang mengundang perhatian orang, sangat jarang seperti ini, hingga saat dalam perjalanan pulang, dia terus saja membahasnya. Berawal dari sebuah Piramida cahaya lalu dengan senja diiringi tawa renyah membuatku seolah mengira hal ini yang sangat aku rindukan ketika meninggalkan negara ini.
__ADS_1
Akankah dia masih mengingatku ketika tahun-tahun berlalu bersama angin?