
Cekkrikkk....
Aku mengambil foto pertama dari objek ku. Pemandangan sore hari seperti ini sangat mendukung, banyak pengunjung juga, disini sangat ramai. Setelah mengucap basmalah tadi aku langsung memosisikan kamera DSLR ku dengan tepat, sesuai angle yang benar.
Foto pertama bagiku agak sedikit kurang bagus, maka aku mencobanya sekali lagi.
Arc de Triomphe atau yang biasa disebut dengan gerbang kemenangan adalah monumen terkenal di Prancis, terletak di tengah Place Charles de Gaulle, di ujung barat jalan Champs-Elysees, Paris, Prancis.
Dibangunnya monumen ini atas perintah dari Napoleon pada masa kejayaannya pada tahun 1806, setelah menang melawan Austria dalam perang Austerliz yang bertujuan untuk merayakan kemenangan Prancis dan semua yang gugur dalam peperangan.
Tangan dan kaki ku bergerak kesana kemari, mencoba mengambil klip sebagus mungkin. Sudah dari beberapa sudut yang kuambil klipnya, sekarang tinggal bagian dalam atau tengahnya.
Aku berjalan ke tengah-tengah monumen itu, kini aku berdiri tepat di bawahnya. Aku dibuat kagum oleh monumen yang satu ini, aku baru tau kalau di sana terdapat ukiran patung dan relief yang menggambarkan perang Napoleon. Di setiap sisi dinding juga terdapat banyak tulisan yang ditata rapi, setau ku tulisan di dinding itu merupakan nama dari para jendral dalam pasukan Napoleon.
Aku seperti dibawa ke masa lalu, menyaksikan langsung bagaimana perang itu terjadi, aku seperti saksi bisu di antarnya. Masyallah hatiku bergetar melihat keagungan-MU Ya Rab.
Tanganku bergetar ketika akan mengambil video klip, aku mengatur napas berkali-kali, fokus, lalu mulai menggerakkan tanganku.
Beberapa klip telah kuambil, dari sana dari sini, kurasa cukup. Aku duduk di sekitar monumen, lutut ku rasanya ngilu. Sambil istirahat aku melihat hasil dari beberapa angle yang tersimpan di kameraku. Alhamdullillah, semua berjalan lancar.
Saat fokus dengan kamera, tiba-tuba sebuah tangan mendarat di bahu kananku, aku terperanjat, sontak ku palingkan wajahku untuk menatapnya. Aku terkejut ketika aku melihat wajahnya yang tak asing bagiku.
"Abiel!"
"Zulfa!"
Ucapku yang hampir bersamaan dengannya, kulihat wajahnya berseri, tanpa aba-aba ia memeluk ku erat, kami berpelukan.
"Are you here too? Why?.." sergahnya seraya melepas pelukannya. Sebelum aku menjawab, aku mengajaknya duduk di sampingku. Kulihat dia juga membawa sebuah kamera, juga sebuah tas selempang yang menyangkut di tubuhnya.
Aku tersenyum, "Aku sedang proses pengambilan video klip, sengaja kupilih monumen ini"
Dia menghela napas kemudian menjulurkan kakinya, tubuhnya di topang oleh kedua tangannya. "Ah aku juga, aku sangat lelah hari ini, dari pagi hingga petang seperti ini aku berkelana di kota ini" ia mendengus, "tapi ini sebuah pengorbanan kan?" Ia melanjutkan.
__ADS_1
Kulihat wajahnya yang lusuh, rambutnya dikuncir kuda asal-asalan. "Demi sebuah karya" kataku menghibur dengan menepuk pundak kirinya. Dia tersenyum ke arahku, sebuah senyuman yang tulus, dan manis.
Angin petang lewat dengan lembut, suasana sore hari sangat indah, langit jingga bertahta di ujung sana, hilir mudik orang tak berkurang. Begitu indah pemandangan di kota cahaya ini. Oh, aku sangat terpesona olehnya.
Setengah jam sudah kami duduk, merasa bosan, kuajak dia makan di sebuah restoran terdekat. Kelihatannya ia sangat lelah dan lapar. Ekspresi wajahnya berubah ketika aku menawarinya untuk makan bersama, seolah anak kecil yang senang ketika diberikan es krim oleh ibunya.
Kami lalu berjalan mencari restoran terdekat. Dia yang lebih tau kota ini, jadi sepanjang perjalanan ia berceloteh ini itu, dia memang kelihatan cerewet, tapi tak menjadi masalah bagiku, aku senang sebab aku juga menjadi sedikit tau tentang kota tua ini.
Setelahenemukan sebuah restoran, kami segera masuk kedalam, karena udara diluar sangat dingin, di dalam pasti ada pengahangat ruangan.
Kami duduk di bangku dekat pintu, tak lama setelahnya datang seorang wanita memberikan sebuah buku berukuran kecil, ini menunya. Alisku terangkat sebelah setelah membacasemua menunya. Disini semua hampir tidak bisa kumakan, memang hanya sedikit makanan yang berbahan dasar daging ****, tapi juga ada makanan yang lain yang tidak pernah tersentuh oleh lidahku.
Karena tau aku seorang muslim, Abiel memilihkan menu yang tepat untuk ku, dari makanan hingga minuman semua ia yang pilihkan. Hanya ada satu jenis makanan yang bisa kumakan, yaitu nasi goreng dan jus jeruk manis.
"Faites plaisir au jus de riz frit et de jus d'orange, le riz frit n'a pas besoin d'utiliser de la viande, des œufs." Katanya dalam bahasa Prancis pada pelayan tadi. Ah, aku merasa terharu, dia sangat pengertian.
Setelah pelayan itu pergi, sambil menunggu pesanan datang kami berbincang.
"Ah iya bagaimana konsepmu?" Tanyanya memulai.
"Apa aku bisa pegang kata-katamu?"
Aku mengangguk yakin.
Tak lama menunggu pesanan datang, aku mendapatkan makananku. Setelah berdoa segera kumakan nasi gorengnya. Rasanya sangat enak, bersyukur bisa merasakan masakan kuat negeri seperti ini.
Baru beberapa suapan yang masuk ke mulutku, aku terkejut ketika melihat pria yang aku kenal masuk ke dalam restoran, Reynard.
Aku mencoba untuk biasa saja, tak menggubrisnya, pandanganku aku alihkan. Beruntung dia tak melihatku.
Sejak tadi penghangat udara menyala, namun entah mengapa tubuhku sangat kedinginan, serasa di penjara gunung es, jiwaku meronta ingin segera keluar, namun di depanku saat ini ada makhluk yang setia menemaniku, jadi mau tak mau aku harus menunggunya sampai ia selesai.
Melihat Reynard berada satu atap denganku, rasanya sangat menganggu mataku, entah mengapa mata ini selalu ingin melihatnya. Ku lihat ia sedang asik berbicara dengan temannya, sesekali ia tersenyum menampakkan lesung pipitnya yang manis.
Astaghfirullah. Apa yang aku lakukan? Bukan mahram mu Zulfa. Hentikan. Ma fi Qalbi ghairullah.
__ADS_1
Aku meniup telapak tanganku, kemudian menggosoknya.
"Kenapa pipimu memerah?" Tanya Abiel secara tiba-tiba. "Kamu kedinginan?" Lanjutnya. Mendengar dia mengatakan itu, spontan aku menempelkan kedua telapak tanganku ke kedua pipiku. Ku lihat Abiel terkekeh sendiri melihat tingkahku seperti ini.
Selesai makan kami langsung keluar. Hingga aku keluar Reynard belum tau jika aku ada di sini, aku menghela napas lega. Ku lanjutkan berjalan kaki bersama Abiel. Sebenarnya aku memanage waktu dengan pergi berkunjung ke satu monument alam sehari, hanya beberapa monumen yang ku ambil video klipnya, tapi tampaknya Abiel masih ingin jalan-jalan, aku jadi mengurungkan niatku untuk pulang.
"Ku dengar di dekat jalan Rue de Presbourg ada sesuatu yang menakjubkan disana" katanya sambil memandang ke arahku, "mau kesana?" Tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Langit baru saja gelap, tak mungkin jika aku meninggalkan Abiel sendirian, dia sudah banyak membantuku, baiklah aku akan ikut dengannya. Aku mengangguk memberi jawaban. Wajahnya berseri.
Tak jauh terlihat, di jalan Rue de Presbourg dekat toko baju laki-laki ada segerombolan orang yang mengerumuni sesuatu, mereka melingkar bak seorang anak di dongengi. Aku dan Abiel berjalan mendekat.
Kudengar samar-samar suara seseorang yang sedang menyanyi, suaranya mirip dengan suara Alizee Jacotey, penyanyi asal Prancis yang terkenal. Aku semakin penasaran siapa pemilik suara itu. Aku dan Abiel semakin mendekat.
Dibalik kerumunan aku sedikit mengangkat kepalaku, menyembul diantara kepala orang-orang. Namun, tak kelihatan wajahnya. Ada seorang wanita yang lebih tinggi dariku berada di depanku. Alhasil aku tidak bisa melihat wajahnya, aku mengalah.
Disampingku, Abiel yang sejak tadi bertepuk tangan ringan sambil menikmati lagu yang dibawakan seolah melepas segala kelelahannya. Entah ia melihat siapa penyanyinya atau tidak, aku tak ingin menghancurkan penghayatannya.
Aku merasakan ujung mantelku di tarik oleh seseorang. Aku menoleh ke samping kananku, tak ada siapapun disana, karena memang posisiku paling belakang. Mantelku ditarik lagi, aku menundukkan kepala.
Ternyata seorang anak kecil berbandana biru yang menarik mantelku. Aku duduk jongkok menekuk lutut dihadapannya. Mata gadis kecil ini lebar, bibirnya kecil imut, bajunya mirip gaun pesta.
"I can't see it, i'm too short"
Katanya dengan polosnya. Rupanya gadis kecil ini ingin melihat penampilan seseorang yang sedang dikerumuni itu. Manuk matanya begitu manis, hatiku luluh terhadapnya.
"Can you help me?" Tanyanya.
Aku tak sanggup berkutik. Jiwaku terjebak dalam labirin yang dibuatnya. Aku melamun sejenak. "Please wait!" Kataku padanya sambil mengelus rambutnya yang halus. Aku bangkit, kepalaku menondong ke depan, daguku ku angkat ke atas. Aku melihat hanya terdapat dua orang di depanku. Mungkin aku bisa mengarahkan gadis kecil ini ke depan sana.
Aku menggandeng tangannya. Menariknya ke depanku. "Excuse me, excuse me" demikian kata-kataku seraya berusaha menempatkan gadis kecil ini ke bagian yang paling depan, supaya ia bisa melihat secara keseluruhan.
Beruntung orang di sekitarku mendengarkan dan memberi jalan, akhirnya aku bisa mengarahkan gadis kecil itu hingga sampai ke bagian paling depan. Di sela-sela himpitan tubuh orang, gadis kecil itu tersenyum padaku dan mengacungkan jempolnya. Aku membalasnya dengan acungan jempol pula. Kulihat ia sangat antusias.
"Kau terlalu baik"
__ADS_1
Kata Abiel sambil menyenggol siku ku. Sedari tadi ia masih menikmati lagunya. Aku tersenyum sendirian. "Nggak kok" bantahku yang sukses membuatnya tertawa.