
"Apakah aku datang terlambat?"
"Semoga saja tidak?"
Entah sejak kapan otak pria itu buntu, tak memiliki jalan keluar. Kini ia duduk termenung sambil menopang dagu di sebuah bangku putih di ujung taman, arah pandangannya kosong, hanya satu yang ada di pikirannya.
Mungkin ia selama ini salah. Kala ketika ia mengetahui apa yang disembunyikan gadis itu, hanya terdapat wajah tak berkekspresi yang nampak pada cermin mata, sesuatu yang mungkin tak mau ia dengar, karena hatinya sudah terpikat dengan orang lain.
Jika saja kala itu ia tidak menjadi orang bodo, mungkin saja saat ini ia sudah bersama gadis berbulu mata lentik itu. Namun, mungkin waktu itu nasib baik belum memijaknya, dan saat ini ia sedang menanti nasib baik itu, akankah nasib baik menghampirinya?
"Mereka berdua terlihat sangat akrab, apakah salah jika aku masuk?"
Masih pada pertanyaan. Berbeda-beda namun intinya sama, menjurus pada satu titik.
Lamunannya mmebuyar ketika ada sebuah kaleng bekas minuman menghantam lengan kanannya, kaleng itu tergeletak tepat di bawahnya, menggelinding perlahan. Matanya memperhatikan kaleng itu, lalu beralih ke sosok yang berdiri agak jauh dari posisinya.
Seorang anak muda dengan sweater hitam, bersepatu sneakers model baru, anak itu menatap kosong kearahnya, tak ada perintah dari siapapun anak muda itu mendekat ke arahnya. Kini ia berdiri tepat di depan Abi.
Sorot matanya begitu dingin, raut wajahnya tak berekspresi, kedua tangannya mungkin sudah hangat di dalam saku sweater.
__ADS_1
"Maaf"
Hanya itu kata yang terlontar dari bibir dinginnya itu, Abi yang sedari tadi mengamati raut wajahnya nampak heran dengan anak itu, memang tidak dipermasalahkan jika kaleng itu menghantamnya, namun kepribadian anak ini mungkin yag menjadi tanda tanya.
Anak muda itu kemudian langsung meninggalkan abinyang amsih mematung di posisi, percaya atau tidak menurut Abi, hampir tak punya sopan santun.
****
"Siapa yang membuat ini?"
Tanyanya padaku.
Ada 4 buah roti sandwich di dalam kotak makan, memang sejak tadi ia hanya mengambil satu buah sandwich saja, tapi aku tau jika ia snagat lapar, jadi kubiarkan tangannya mengambil sendiri tanpa ku perintah.
Aku sendiri hanya memakan satu, itupun sejak tadi belum habis, karena memang aku tidak begitu menyukai ini.
Sambil berbicara ini itu, perlahan sandwich habis dilahapnya semua, hanya menyisakan kotak makan yang agak sedikit kotor karena tersoles saus yang ada pada roti. Mungkin setelah minum ia akan sadar. Aku tersenyum kecil sudah membayangkan.
"Ini sangat enak, kamu bilang pemilik apartemen yang kamu tinggali yang membuat ini, tolong sampaikan salam ku adanya."
__ADS_1
Aku mengangguk menyanggupi permintaannya.
Canggung rasanya jika hanya mengobrol berdua seperti ini, biasanya ada Abiel yang mencairkan suasana, nmaun saya ini tidak. Mengapa pula gadis berambut pirang itu harus pergi.
"Zulfa bagaimana jika Minggu depan kita pergi ke Eiffel" katanya yang sontak membuatku menegakkan kepala, "akan ada festival kembang api disana, akan menarik jika dimasukan kedalam video kita" sambungnya.
Festival?
Kembang api?
Eiffel?
Suatu hal yang sangat di tunggu-tunggu sejuta umat Prancis. Aku sudah membayangkan bagaimana peristiwa langka itu terjadi, akan seru dan menarik jika pergi kesana, kurasa ini kesempatan bagiku.
Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakannya dnegan antusias. Jujur aku sangat suka dengan kembang api, percikanya yang memudar di langit malam membuat mataku dibuat mabuk oleh keelokannya. Sungguh indah.
"Akan ada sesuatu disana"
Ucapannya membuatku terdiam. Otakku hanya menebak bahwa memang ada festival kembang api disana, namun entah mengapa hatiku begitu bergejolak berusaha mengatakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicerna otak. Otak ku bertanya-tanya sejak tadi apa itu, tak ada jawaban yang pasti.
__ADS_1
Ku lihat ia tersenyum ke arahku lalu beralih ke kamera yang sedang dipegangnya. Dapat kupastikan ia sedang memeriksa hasil foto tadi. Namun, arah pikiranku bukan seperti itu, ini lain.