
"Assalammu'alaikum"
Ucap salamku ketika aku sampai di pelataran rumah, ku dengar Abah dan Ummi menjawab salamku, dan beberapa pengunjung pun ada yang ikut menjawab.
Ku lihat kedua orang tuaku itu sangat kerepotan,maka kuputuskan segera mandi dan ganti baju.
Setelah salat aku bergegas keluar rumah, namun pengunjung tampak mengendur. Hah, yasudah. Kaki ku melangkah ke arah meja warung, kuambil serbet kemudian ku bersihkan meja di sana. Menumpuk beberapa mangkuknya, lalu membawanya ke dalam.
Setelah mencuci setumpuk mangkuk kotor, aku kembali ke tempat warung Abah. Nampak Abah sedang duduk menjulurkan kakinya di salah satu tempat duduk. Aku duduk di sampingnya.
"Lututnya sakit lagi ya Bah?" Tanyaku pada Abah.
"Nggak kok, cuma pegal dikit" katanya sambil tersenyum padaku.
Bohong, aku tau Abah bohong. Sering kali ku lihat Abah menekan-nekan lututnya, beberapa hari lalu juga sampai duduk di lantai. Seketika aku merasa diriku adalah orang yang tak berguna.
Sudah berapa tahun aku di rawat Abah? Jika Abah selalu telaten merawatku, mengapa aku baru tau jika Abah lututnya sakit? Aku merutuk diriku sendiri. Aku jadi mengurungkan niatku untuk bilang pada Abah bahwa aku akan berangkat Minggu depan.
"Permisi, beli baksonya pak"
Suara seorang ibu-ibu memecah keheningan. Sempat Abah ingin berdiri, namun segera ku tahan, biar lutut Abah lebih mendingan.
"Biar Zulfa saja Bah!" Kataku sambil berdiri.
"Iya Bu beli berapa?"
Aku adalah wanita munafik, yang menyembunyikan kesedihan hatinya di balik senyum. Biarlah itu terjadi. Demi orang tuaku aku rela melakukan apapun. Setelah melayani pembeli, aku kembali duduk di samping Abah.
"Gimana Nduk? Kamu jadi berangkat kapan?" Akhirnya Abah bertanya, tapi rasa kurang nyaman masih menjalar.
"Eh itu Bah" aku menggantung kalimatku, tak sanggup mengatakan, karena memang satu Minggu itu waktu yang sangat singkat. Abah terlihat menunggu lanjutan kalimatku. Aku mengehela napas dalam-dalam.
"Sebenarnya Zulfa berangkat Minggu depan bah, maaf jika terlalu mendadak, ini perintah dari perusahaan" kataku sambil meremas ujung jilbabku. Tiga detik, empat detik, tak disangka abu tersenyum. Ku kira Abah akan marah dan mengubah pikirannya.
"Yasudah, kapanpun kamu pergi, Abah cuma minta satu" kata Abah, "jangan sekali-kali kamu mempermalukan Baginda Nabi" lanjut Abah sambil mengelus kepalaku.
Rasanya hati ingin meledak,endengar Abah mengucapkan kata-kata itu seolah membuat tenggorokanku tercekat. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya bisa tersenyum kemudian mengangguk.
****
__ADS_1
"Dian!" Teriak ku memanggil Dian yang kala itu baru akan masuk ke ruangan.
"Eh, tumben baru datang?" Sahutnya.
"Udah dari tadi kok, tadi ke ruangan Kak Aneeta sebentar"
Dian mengangguk, kemudian kami masuk ke dalam ruangan.
Hari ini sungguh sibuk. Aku harus menyelesaikan beberapa surat proposal dari klien untuk di serahkan ke manajemen, sedangkan Dian, ia sibuk dari tadi menyalin data. Sampai-sampai kami tak punya waktu untuk makan siang, alhasil aku dan Dian kelaparan smpai pulang.
Jadwal pulang hari ini juga agak telat, aku memutuskan untuk makan di rumah saja, dari pada Abah dan Ummi khawatir.
Aku menunggu angkot di bibir jalan, berulang kali aku menilik jam tanganku. Sudah pukul 5 sore, aku terlambat satu jam. Biasanya aku jam 4 sudah pulang, karena tadi pekerjaan bertumpuk jadi aku pulang telat.
Cukup lama aku berdiri menunggu angkot, sampai kaki ku pegal. Baterai ponselku juga habis, pasti Ummi mencoba menghubungiku sejak tadi, aku menyesal karena tadi tidak mengisi dayanya. Duuh Ummi maafin Zulfa.
Aku menggigit bibir. Setelah sekian lama akhirnya angkot datang, segera aku masuk dan angkot itu melaju. Kembali aku melihat jam tanganku, jam 5 lebih 15. Keringat dinginku bercucuran, aku harus siap menerima banyak pertanyaan ketika aku sampai di rumah.
Ketika angkot berhenti di depan gang, aku segera membayar ongkos kemudian melangkah keluar angkot. Aku berlari sekuat tenaga, aku tak ingin orang tuaku khawatir. Sampai di depan halaman rumah, aku menghentikan lariku.
Mengatur napas yang tinggal Senin Kamis. Ummi yang melihatku terkapar di pelataran rumah langsung menghampiriku.
"Terus kenapa itu pakai lari-lari?" Lanjutnya.
"Duuh Ummi biarkan Zulfa bernapas dulu!" Sahut Abah yang sedang menyiapkan bakso untuk pelanggan. Ummi kemudian mengambilkanku minum, aku meneguk air setengah gelas itu.
"Maafin Zulfa Mi, tadi kerjaan Zulfa banyak, hp Zulfa juga mati kehabisan baterai" jelasku sambil menatap wajah teduh Ummi.
"Ya sudah sana mandi!" Titah Ummi padaku.
Aku bangkit kemudian berjalan gontai masuk ke dalam kamar.
Setelah mandi aku menghampiri Abah dan Ummi yang sedang duduk berdua di salah satu tempat duduk warung. Warung kelihatan sepi, mungkin para pengunjung sudah pulang.
Aku duduk tepat di depan Abah dan Ummi. Melipat kedua tanganku di atas meja, kemudian menyenderkan daguku di atasnya. Suasana sunyi menyelimuti di antara kami.
"Lain kali kalau pulang terlambat, hubungi Abah tau Ummi, jangan buat Ummi mu khawatir!" Kata Abah memulai.
Aku mendongakkan kepala, membenarkan posisi duduk ku. "Iya Bah, maaf, lain kali Zulfa nggak akan mengulanginya lagi" entah sudah berapa kali aku menyusahkan mereka. Aku merutuk diriku sendiri.
__ADS_1
"Assalammu'alaikum"
Terdengar ucapan salam dari seseorang, spontan kami bertiga menjawab salamnya. Aku sedikit memiringkan tubuh untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata dia Luluk.
"Apa kabar Abah sama Ummi?" Tanya Luluk sambil menyalami Abah dan Ummi.
"Alhamdullillah baik Luk" sahut Abah.
Abah menyuruhku untuk menemani Luluk bicara di dalam saja. Aku pun memutuskan untuk mengajak dia ke kamarku. Setelah masuk kamarku dia langsung merebahkan tubuh ya di atas tempat tidurku.
"Hah kamarmu ini entah kenapa sangat sejuk Fa" katanya sambil menggulingkan tubuhnya kesana kemari. Aku terkekeh dalam hari melihat tingkahnya itu. Aku duduk di bibir jendela.
"Bukannya kamarmu juga sejuk Luk?"
"Iya sih, tapi enakan kamarmu" jelasnya. "O iya Fa, kamu jadi berangkat ke luar negeri kapan?" Tanyanya sembari bangkit dari posisi terlentangnya.
"Minggu depan Luk" jawabku singkat.
"Cepet amat"
"Yaa mau gimana lagi"
"Hmm, yang penting jangan lupa bawa oleh-oleh buat ku ya!" Katanya dengan ekspresi seolah tanpa dosa.
"Iya kalo sempat beli" jawabku datar yang sukses membuat ia mencebik cemberut. Aku terkekeh melihat wajahnya seperti itu. Cukup lama kami berbincang, tentang ini itu, Luluk tak paernah kehabisan bahan omongan untuk di jadikan topik pembicaraan.
Aku juga sempat mengambilkan jus apel yang di buat Ummi tadi pagi, masih ada di kulkas. Kutuangkan jus itu ke dua gelas, satu gelas ku berikan padanya, satu gelas lagi untuk diriku sendiri. Aku kembali duduk di bibir jendela.
"Fa!" Sapanya padaku.
"Ya?"
"Aku mau menikah!"
Bbrruusshhhh
Aku menyemburkan jus yang ada di mulutku. Apa yang ia katakan tadi? Dia ingin menikah? Apa aku tidak salah dengar? Ku rasa telingaku agak sedikit terganggu.
"Apa?" Sahutku dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1