
"Oh jadi Anda peserta juga?"
Aku mengangguk. Ia tersenyum pula. Pria ini benar-benar sangat humble, sedari tadi dia menanyakan ini itu padaku. Ia duduk di sampingku, aku berusaha menjaga jarak darinya.
Vani kenapa lama sekali? Apakah tokonya jauh? Tak pantas jika seorang gadis duduk berdua dengan seorang lelaki seperti ini, apalagi ini malam hari, apa kata orang nanti.
Aku menggosok kedua telapak tanganku, meniupnya, udaranya sangat dingin.
"Udaranya memang dingin, orang sini mungkin sudah terbiasa, tapi bagimu mungkin sebaliknya" tuturnya seraya melipat kedua tangannya. Aku diam tak menjawab. "Bagaimana? Sudah mulai proses?" Tanyanya padaku.
"Ah, belum. Mungkin besok aku baru akan mengonsepnya" jelasku. Ia mengangguk ringan.
"Kak ini stik.....nyaa!" Tegur seseorang dari belakang. Rupanya Vani baru datang sambil membawa sekantong plastik. Namun, pandangan gadis itu tertuju pada Reynard. Pria itu tersenyum menyapa Vani, tapi lain halnya dengan Vani, ia malah tak berekspresi.
"Oh sama temen toh" kata Vani.
"Iya, baru kenal" balasku.
Reynard hanya bisa tersenyum melihatku dan Vani berbahasa Indonesia dengan lantang, pastinya ia tak paham. Aku terkekeh dalam hati. Aku menawarinya stik kentang itu pada Reynard, ia menolak.
"Zulfa, saya permisi!" Sergah Reynard padaku.
"Eh kok buru-buru?" Aku tergagap membalasnya.
"Iya, ini sudah malam" katanya, "udaranya dingin kamu pulanglah" lanjutnya. Seketika jantungku seolah berhenti, darahku membeku. Dia kok? Astaghfirullah, jangan geer kamu Zulfa.
Aku mengangguk, ia pun pergi. Aku hanya bisa menyaksikan punggungnya yang kian menjauh itu. Apakah gadis sebuah bentuk perhatian?
"Kak!"
"Eh iya Van, kita pulang sekarang" sahutku yang sebenarnya tak mengerti harus bilang apa. Vani yang bersamaku hanya bisa terheran-heran akan sikapku.
Bllusshhh. Ah, aku dibuat merona olehnya.
Taman mulai sepi, Aku dan Vani berjalan pulang. Tiba-tiba sebutir salju menghampiriku, aku mendongak ke atas. Perlahan satu dua butir salju mulai turun, aku mengusap kepalaku, basah.
"Salju ya?" Kataku pelan.
__ADS_1
"Iya nih kak"
Sebentar lagi akan turun hujan salju, udara akan semakin dingin, membekukan segala sesuatu. Mungkin juga hatiku.
****
Setelah makan stik bersama Vani, aku masuk ke kamarku. Mataku sudah mengantuk, tapi belum ingin tidur. Aku duduk di lantai, mengahdap jendela, melipat kedua tanganku di bibir jendela lalu menopang daguku disana, menatap ke arah jalan raya.
Jalanan mulai licin, butiran salju sudah menggenang di jalan. Sebagian jalan mulai tertutup benda putih dingin itu. Udara dingin semakin menusuk, namun tak mempan bagiku. Aku melamun.
Entah mengapa sejak tadi aku dihantui dengan wajah Abi. Pria itu benar-benar sudah mencuri ruang hatiku, hingga mungkin tak ada lagi lelaki yang akan tinggal di sana.
Aku mengenal Abi sejak masih masa kuliah, dia teman yang baik, satu fakultas denganku. Selalu menghormati wanita, sopan, ramah, rendah hati, apapun itu. Dia berhasil mengusik hatiku yang sejatinya tak pernah terusik oleh siapapun.
Tetapi, aku memilih untuk diam. Diam bersama perasaanku padanya. Karena aku merasa tak pantas untuknya, ada wanita yang lebih kayak dariku. Buktinya, dia mendapatkan gadis yang ia cintai saat ini.
Ketika mendengar ia akan menikah langsung dari mulutnya, aku memang hancur luar dalam, tapi apa dayaku?
Tidak mungkin jika aku menangis meronta meminta ia membatalkan pernikahannya dengan gadis pilihannya lalu memaksa dia untuk menikahiku. Konyol memang.
Segera ku singkirkan bayangan tentang Abi, namun sekeras apapun aku berusaha aku tak dapat melakukannya. Aku mengehela napas dalam-dalam.
Tiba-tiba muncul wajah Reynard. Aku tertegun, mengapa pula pria asing itu melintas tanpa permisi di pikiranku? Aku menggeleng kepala gusar. Teringat perkataannya tadi seolah aku terbawa suasana.
Astaghfirullah. Aku semakin kalang kabut dengan pikiran dan hatiku sendiri. Aku bangkit dari duduk ku. Berjalan menuju tempat tidur. Aku butuh istirahat, otak ku butuh istirahat. Ini mungkin efek pergi keluar seharian.
Aku membanting tubuhku dintempat tidur, menarik selimut, lalu menenggelamkan tubuhku di baliknya. Aku memaksa mataku untuk tidur. Udara dingin telah merasuk hingga ke tulang rusuk, aku meringkuk kedinginan di balik selimut.
****
Di sisi lain seorang pria tengah berdiri di balik jendela kamarnya sambil memegang secangkir kopi di tangan kirinya. Menatap kosong ke arah luar jendela. Namun, jalan pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Gadis berjilbab dari negeri seribu candi telah mengusik hatinya. Baru saja kenal namun pria itu langsung terpikat olehnya. Namun, sebisa mungkin ia tak menggubris perasaannya itu, terdapat banyak alasan untuknya.
Ia menyeruput kopinya. Wajah gadis itu masih menggantung di angan-angan, sangat sulit dilupakan.
Ia berjalan menuju sofa, di meja terdapat laptop yang sedari tadi menyala tanpa digunakan. Ia mengambilnya, jemarinya mulai menari-nari di atas papan keyboard, entah apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Yang pasti ia berusaha melupakan gadis itu, karena jelas saja ia tak akan bisa memilikinya. Ia beranggapan, mungkin perasaanya hanya sekedar lewat saja, hanya mengusik hatinya, lalu tak lama seketika akan pergi, hilang begitu saja.
****
"Eh jatoh!"
Aku memungut sebuah bolpoint milik ku yang terjatuh di lantai.
Setelah mengonsep pengambilan klip dengan sangat matang, sore ini aku berniat untuk mengunjungi tempat pertama yang akan aku ambil video klipnya.
Persiapan ku sebenarnya sudah sejak masih berada di Indonesia, jadi disini hanya butuh sedikit revisi. Dibantu dengan bimbingan Kak Aneeta, selama amsih di Indonesia aku hampir menyelesaikan persiapan itu.
Daftar shootnya cukup banyak, ada beberapa lembar kertas putih yang kujadikan satu dengan stapless. Isinya tulisan semua, hanya sedikit gambar grafik atau apapun itu. Di laptop yang aku bawa juga terdapat beberapa aplikasi untuk pengeditan klipnya nanti.
Aku memasukkan kumpulan kertas itu kedalam sebuah tas punggung, kubawa juga sebuah kamera beserta charger dan batrai cadangannya, aku juga membawa sebuah tripot, walau sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, aku membawanya saja, barangkali aku butuh.
Setelah memasukkan semua perlengkapan aku berpamitan kepada nyonya Bill, mengatakan bahwa aku akan pulang agak malam mungkin. Sempat Tuan Bill menawariku untuk mengantarku ke tempat tujuan, tapi aku menolaknya.
Aku tak bisa mengelak ketika pasangan suami istri itu memaksaku untuk diantar saja. Akhirnya aku luluh. Tuan Bill mengantarku menggunakan mobilnya yang diparkir di basement.
Tempat tujuan pertama yang akan aku kunjungi adalah Arc de Triomphe. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai ke sana.
Sepanjang perjalanan otak ku terus bekerja dalam diam, mulai mengonsep ini itu, kusimpan rapi dalam memori, semoga saja aku tidak lupa.
"Apa nanti perlu dijemput?" Tanya Tuan Bill yang mengejutkanku. Aku yang duduk di jok belakang tergagap-gagap menjawabnya.
"Tidak perlu Tuan, nanti saya bisa pulang sendiri" kataku.
Tampak di kaca spion depan, Tuan Bill tersenyum sambil mengangguk pelan. Orang tua paruh baya ini sangat menghargai ku selama aku tinggal di apartemennya. Dia begitu baik, terkadang sampai repot-repot mengantarkanku ke masjid untuk salat jama'ah, padahal aku bisa melakukannya di apartemen saja.
Kata Tuan Bill, ia banyak melihat orang muslim pergi beribadah di sana, jadi ia berpikir semua umat muslim harus melaksanakan ibadah disana. Setelah aku jelaskan jika boleh melakukannya di rumah, ia seolah terkejut dan tidak percaya.
Walau ia non-muslim, tetapi ia sangat memahami dan menghormati orang yang berbeda keyakinan dengannya.
Tak terasa aku sudah Samapi di tempat tujuan. Setelah Tuan Bill pulang, aku segera mendekat ke monument itu. Rasanya tak percaya, campur aduk. Seorang gadis desa sepertiku berhasil menapakkan kaki di monument terkenal ini, aku sangat terharu.
Begitu besar nikmat yang Maha Kuasa yang diberikan padaku. Tabarakallah.
__ADS_1