
"Daah"
Katanya dengan senyuman.
Hari ini cukup sampai disini, dia mengantarku sampai ke depan apartemen. Ku pandangi punggungnya yang kian lama menjauh, ditelan kerumunan.
Jadi ingat waktu di sungai Seine tadi, setiap momen tak akan bisa di lupakan dengan mudah. Entah mengapa hatiku begitu berharap bisa ke tempat indah lagi bersamanya.
Aku menghela napas lalu berjalan masuk ke apartemen. Dengan waktu singkat udara menjadi sangat dingin, Reynard bilang ini biasa terjadi. Mungkin karena baru disini, aku tidak terbiasa dengan keadaan, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru ini.
Setelah mandi dan shalat isya, aku keluar kamar lalu duduk di meja makan bersama Nyonya Bill, ia pulang lebih awal hari ini.
"Apa harimu menyenangkan?" Tanyanya sabil mengiris buah apel menjadi beberapa bagian.
Aku mengangguk dengan tersenyum, tepat dihadapanku ia mengawali sebuah pisau kecil dengan langgasnya. Buah apel itu sukses tertata rapi di sebuah piring kecil, ia lalu menyodorkan beberapa kepada ku.
"Apakah kau pergi ke sungai Seine?" Tanyanya lagi.
"Iya benar" jawabku.
"Aku yakin tak ada sedetik pun yang terbuang sia-sia di sana"
"Tempatnya sangat menakjubkan, sebelumnya ku pikir tak seindah itu."
Dia mengangguk, "dulu aku sering kesana bersama Baldwin, kami menghabiskan libur musim panas disana" katanya dengan ekspresi sumringah, "ah malah jadi nostalgia" ia terkekeh.
__ADS_1
Panjang lebar kami berbicara, rasa kantuk pun datang menyerang, nyonya Bill yang menyadari aku diserang rasa kantuk pun menyuruhku untuk langsung tidur di kamar. Dengan segala kebaikannya aku merasa sangat tidak enak, disini aku dirawatbak kuarganya sendiri. Mungkin ucapan terimakasih saja tidak cukup.
Akuvoun masuk ke dalam kamar. Sebenarnya dari tadi aku menunggu balasan pesan dari Abiel, apakah besok dia bisa datang? Mengapa ia belum membalas pesan yang aku kirim? Apa memang sakit parah?
Memang sepanjang hari tadi aku tak pernah mengendurkan senyum dari wajahku, namun aku juga menyimpan rasa khawatir kepada Abiel, sepanjang hari aku menunggu kabar darinya, namun tak ada satu kata pun yang terlintas di layar ponselku.
Semoga tak terjadi apa-apa padanya.
****
"Zulfa, tolong maafkan aku, tiba-tiba saja ada kabar buruk dan aku tidak bisa melanjutkan ini, tolong maafkan aku, mungkin aku tak bisa cerita karena ini sedikit privasi, maaf"
Kalimatnya masih menggema di dimana-mana, sangat sulit di lupakan. Pagi-pagi sekali, tadi ia telfon mengabarkan kabar buruk yang menimpa keluarganya, terpaksa ia harus pulang ke kotanya dan membatalkan keikutsertaannya dalam event ini.
Sedih, marah, sakit, juga iba semuanya campur aduk menjadi satu. Abiel tiba-tiba saja berkata seperti itu, aku sempat beranggapan bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan membujuknya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Burung merpati itu sudah terluka sayapnya, dan kini bersembunyi di sarangnya.
Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun tak ada jawaban. Separah inikah keadaannya? Hingga harus berhenti di tengah jalan seperti ini?
Ku dengar ponselku mengeluarkan suara notifikasi, ku ambil ponselku yang berada di atas nakas yang tak jauh dari posisiku saat ini. Tertera nama Reynard di bagian atas.
"Zulfa, aku tau keadaanmu, mari segarkan pikiran"
Katanya dari seberang sana. Sebenarnya aku sangat malas sekali untuk pergi keluar, tiba-tiba saja mood ku menghilang bak ditelan lumpur, rasanya seharian ini ingin bermalas-malasan saja.
Maka ku kirimkan pesan permintaan maaf ku kepada Reynard, mungkin ia kecewa, mungkin ia marah, apapun itu aku tak peduli.
__ADS_1
Ku taruh lagi ponselku di atas nakas, rasanya sangat membosankan jika tidak keluar rumah. Tiba-tiba muncul rasa rindu terhadap suatu tempat, sudah beberapa hari ini aku tidak kesana, apakah nuansanya masih tetap sama?
Aku segera bangkit, mengganti pakaian lalu menyambar mantel dan tas ku.
****
Terdengar suara lantunan ayat suci Alquran dari dalam sana. Kini aku sudah berada di depan gerbang Grande Mossque de Paris. Hatiku bergetar ketika menatap masjid ini, serasa ada panggilan jiwa yang mendebarkan.
Ku langkahkan kaki ku melewati gerbang yang membentang itu, ternyata masih tetap sama, nuansa hijau ada di mana-mana, menambah kesan sejuk yang merajarela. Aku langsung masuk ke dalam masjid, karena tadi aku sudah wudhu waktu akan pergi ke sini.
Aku duduk di tengah-tengah shaf, banyak jamaah yang sudah bersiap untuk menunaikan shalat, karena sebentar lagi masuk waktu zhuhur. Sambil menunggu azan, ku buka mushaf yang selalu kubawa ke.anaoun aku pergi. Membaca ayat-ayat yang terukir di setiap lembarannya. Entah mengapa setiap aku membuka mushaf kesayanganku ini, hatiku terasa sangat nyaman, bebas dari beban, sedih pun hilang.
Mungkin ini yang dimaksud hidayah. Semoga Allah tak henti memberikan hidayahnya kepada hambanya yang taat.
Baru beberapa ayat yang ku baca, suara lirihku terhenti ketika mendengar suara azan yang begitu merdu menghunus hati, seketika aku mendongakkan kepala, hatiku bergetar bukan main, suara ini sangat indah, menyentuh jiwa.
Seketika aku meneteskan air mata, hingga ahkir lantunan azan membuat urat nadiku tercekat, hatiku bergemuruh, meledak-ledak seolah ingin menangis.
Oh Allah, begitu halus engkau memanggil jiwa para hambamu.
Aku masih tak tau siapa pemilik suara yang melantunkan azan tersebut, dimanapun ia berada, semoga Allah selalu memberinya nikmat.
Segera aku beranjak dari posisiku, berjalan menuju tempat wudhu, takut wudhu ku batal.
Setelah menunaikan salat zhuhur, aku berencana untuk langsung pulang, namun keinginan ku utnuk tetap disini membuat otak ku tak dapat memberikan perintah pada organ tubuhku yang lainnya lagi, suara azan itu membuat ku nyaman dalam duduk, hingga mungkin kaki kesemuatan pun tak terasa.
__ADS_1
Jika saja aku diberi kesempatan untuk bisa bebas memilih tempat tinggal di dunia ini, maka aku akan lebih memilih tinggal di samping sebuah masjid, suara azan dan murrotal Alquran setiap harinya akan membuatku merasa di surga.
Aku membuka kembali mushaf ku, membaca ayat demi ayat lagi, akan kuhabiskan waktu seharian ku hari ini untuk tetap disini, ketidakhadiran Abiel membuatku seolah patah semangat, karena memang ia yang selalu bersamaku dimanapun kami pergi bersama.