
"Zulfa, kamu bisa berdiri disana! Aku akan mengambil fotomu" katanya.
Namun, segera aku gelengkan kepala. Aku memang tak terlalu suka dengan foto, susah beberapa kali Reynard memintaku, namun aku tetap menolaknya. Mungkin kesabarannya telah habis.
Sesuatu yang berada di depanku ini sangat sederhana, namun mampu membuat mata terbuka lebar ketika mihatnya.
Inilah sesuatu yang sederhana itu.
The Wall of Love adalah dinding bertema cinta seluas 40 meter persegi. Wall of Love terletak di alun-alun taman Jehan Rictus di Montmartre, Paris, Prancis. Dinding ini dibuat pada tahun 2000 oleh ahli kaligrafi Fédéric Baron dan seniman mural Claire Kito dan terdiri dari 612 ubin lava berenamel, di mana frasa 'Aku cinta kamu' ditampilkan 311 kali dalam 250 bahasa. Setiap ubin berukuran 21 kali 29,7 cm (8,3 inci × 11,7 inci).
Begitu banyak kata-kata dalam berbagai bahasa yang terukir di dinding yang luas ini, itu berarti begitu banyak aura cinta di dunia ini.
Ada banyak bahasa dan frasa yang mampu menjelaskan arti dari kata legenda itu, namun terkadang hanya hati yang mampu mengatakannya, walau tak ada yang mendengar, tetapi seolah menjadi lega ketika kata-kata itu terlontar begitu saja walau di dengar telinga dan dirasakan sendiri.
Di dunia ini siapa yang tidak merasakan itu? Bahkan mungkin hewan saja memilikinya. Seolah menjadi hal yang lazim bagi dunia dan isinya, tak heran jika terkadang warna merah harus berada di akhir cerita.
Semua orang memang menginginkan seseorang yang baik menjadi pendamping hidupnya semasa di dunia, namun bukankah jodoh itu cerminan diri?
__ADS_1
Aku memutar lensa fokus ku sehingga mataku menangkap fokus yang sempurna, setelahnya jariku menekan tombol shutter, tertangkaplah sebuah objek sederhana namun bermakna.
Disini sangat ramai sekali, terlihat ada banyak anak mahasiswa di sekitar sini, beberapa dari mereka berfoto bersama pasangannya di dekat dinding Wall of Love. Di ujung jalan ada seorang penjual balon warna-warni berbentuk hati yang mengambang di udara, ditahan dengan seutas tali yang menyangkut di sebuah besi yang tertancap di tanah. Menggambarkan seolah menahan cinta supaya tak pergi. Aku tersenyum kecil ketika melihatnya.
"Zulfa!"
Reynard mengejutkanku. Segera aku menoleh ke arahnya.
"Bisa kamu foto aku disana?" Tanyanya dengan ekspresi uang menurutku cukup menggemaskan.
Dia menunjuk ke arah dinding Wall of Love, mataku mengikuti arah yang di tunjukkan oleh telunjuknya itu. Disana masih ada banyak orang yang mengantri untuk berfoto, mungkin akan lama menunggu jika memang ahrus melakukan itu, tapi jika aku menolaknya, aku mungkin akan kehilangan kesempatan untuk menjadi temannya.
Pandanganku kemudian beralih kearahnya, ku lihat mata elang yang seketika menjadi mata kucing yang sangat imut ini menanti jawaban, aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Ku lihat ekspresi wajahnya sangat sumringah.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dia mendapat kesempatan untuk berfoto. Segera ia berdiri di tengah-tengah dinding itu, memberi isyarat padaku untuk segera memosisikan kamera. Ku sanggupi permintaannya.
Ku dekatkan mataku di bagain viewfinder, nampak posisi lensa yang cukup blur, ku putar lensa fokus, disana aku melihat seorang makhluk yang sedang berdiri dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.
Namun, bukan itu. Seolah ada tarikan dari lubuk hati terdalam, sangat menggelitik sekali, detak jantungku semakin tak karuan, tiba-tiba tanganku menjadi gemetaran. Namun, aku harus menyempurnakan permintaanya itu, ku tekan tombol shutter perlahan, hingga membentuk sebuah gambar yang sempurna.
__ADS_1
Satu jepretan. Aku tak berani menatap matanya. Dia berjalan mendekatiku, lalu mengambil alih kamera yang ada di tanganku, melihat gambar yang baru saja ku ambil darinya. Ia tersenyum, hingga menampakkan gigi yang tersusun rapi di rahang gagah itu.
"Sudah ayo!" Kataku sambil berjalan menjauh darinya, aku tak ingin berlama-lama berada di dalam penjara ini.
Aku tak tau apakah ia mengikutiku dari belakang atau tidak, akan tetapi dapat kupastikan telingaku mendengar suara hentakan kaki dari belakangku, aku yakin itu dia.
Setelah sekian menit berjalan menyusuri jalan, kami memutuskan untuk duduk di sebuah taman dengan rumput yang amat hijau, di tambah pohon palem dan tanaman yang melengkapi setiap titik yang membentuk taman itu.
Aku dan Reynard duduk di bawah pohon palem, meluruskan kaki melepas lelah setelah berjalan sekian meter yang jauh dari posisi awal.
Hampir lupa.
"Oh iya, ini tadi Nyonya Bill pemilik apartemen yang aku tempati membawakan ini untuk mu" kataku sambil menaruh sekotak makanan di depannya, "makanlah, tolong hargai usahanya!" lanjutku.
Dia menatap kotak makan itu dengan ekspresi yang tak bisa aku tebak. tangan kanannya lalu meraih kotak makan itu, dibukanya tutup kotak makan itu, ku lihat ia seolah terkejut melihat isi dari kotak makan itu.
Ia lalu menatapku lagi. Aku yang sedari tadi menyaksikan tindak-tanduknya hanya bisa mengangkat sebelah alis.
Hai readers pembaca setia "Berawal di Paris", maaf yah, Minggu kemarin author tidak up, dikarenakan sangat disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang membuat the kepala is the puyeng😌
__ADS_1
Maaf juga karena di episode ini hanya meng-up sedikit kata.🙏🙏🙏sangat-sangat meminta maaf kepada para pembaca 😣😣
Tapi akan author usahakan untuk up teratur ya.. setiap hari Senin dan Kamis. Jan lupa catat yaa... terimakasih🙏🙏🙏😘😘😘