Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Izin


__ADS_3

Hari ini sangat melelahkan. Pulang kerja aku langsung mandi salat kemudian tidur. Sampai jam setengah 4 sore aku baru terbangun ketika Ummi mengetuk pintu kamarku. Setelah salat ashar, seperti biasa aku membantu Abah mengelola warung baksonya.


Sedari tadi Abah hanya diam, tak seperti biasanya. Jika biasanya beliau di tengah sibuknya melayani pelanggan Abah sesekali berbicara padaku, namun kali ini tidak. Duuh aku jadi merasa bersalah.


Hari ini warung bakso Abah tutup lebih awal, bukan karena apa-apa. Setelah setelah dimasukkan dan dibersihkan aku masuk ke dalam kamar. Sudah tidak da lagi pekerjaan yang bisa ku kerjakan.


Seeperti biasa aku duduk di bibir jendela, menukamti angin malam yang menyapa. Sambil memeluk bantal aku memejamkan mata, punggungku bersender di salah satu sisi jendela. Mataku terbuka ketika ada suara ketukan pintu dari luar kamarku.


Segera aku melangkah dan membuka pintu kamar. Terlihat Abah dibaliknya.


"Abah.. ada apa?" Kataku.


Tanpa aba-aba, Abah masuk ke kamarku, beliau berdiri di depan jendela sambil melipat kedua tangannya. Beberapa detik hanya ada kesunyian.


"Nduk, kemarin kamu bilang, kamu mau pergi ke luar negeri kan?" Kata Abah memulai, yang sekaligus mengejutkanku. "Berapa lama?" Lanjutnya.


Aku terpaku sejenak, "sa...satu bulan bah" kataku terbata. Aku masih menundukkan kepala, tak berani melihat ke arah Abah. Aura lelaki itu terlalu kuat sebagai seorang ayah untuk di tatap putrinya.


"Pergilah, Abah dan Ummi mengizinkan"


Boom.. aku terkejut, jantungku serasa naik sampai tenggorokan, aku tak mampu berkata-kata. "Selama itu membuatmu senang, dan meningkatkan kreativitasmu, pergilah" lanjut Abah sambil menghadapkan tubuhnya ke arahku.


Entah perintah dari mana, air mataku tiba-tiba jatuh. Oh, Allah engkau memang maha membolak-balikan hati manusia. Tak menunggu lama, aku langsung mencium tangan Abah kemudian memeluknya. Aku kembali sebagai putri kecilnya.


"Kenapa nangis?" Tanyanya sambil mengelus kepalaku. Aku segera menghapus air mataku.


"Makasih ya Abah, doakan Zulfa"


Abah tersenyum.


"Kapan Abah sama Ummi tidak mendoakanmu Nduk!"


Aku tersenyum, menatap ke arahnya. Sungguh makhluk Allah yang baik hati.


"Sudah ya, Abah mau ke masjid dulu"


Aku mengangguk, kemudian Abah pergi keluar kamarku. Kebiasaannya untuk pergi ke masjid tidak pernah hilang, sejak aku kecil hingga sekarang. Semoga kedua orang tuaku sehat selalu dan diberikan keberkahan oleh Allah.

__ADS_1


****


Sampai di tempat kerja, aku langsung mengerjakan pekerjaanku yang kemarin lusa sempat tertunda. Aku duduk di tempatku, mulai menyalakan komputer.


"Pagi banget datangnya!" Kata Dian yang tempatnya di sebelahku. Aku tersenyum dan mengangguk.


Tugas kita sama, yaitu sebagai penghubung antara perusahaan dan klien dalam maupun luar negeri. Dian sangat baik, dia sering mentraktirku makan, sampai-sampai terkadang aku merasa tak enak, namun dia tipikal orang yang memaksa.


"Eh gimana Fa, diizinin nggak sama orang tuamu buat pergi ke luar negeri?" Tanya Dian memulai.


"Alhamdullillah diizinkan an"


"Yaaah, selama sebulan aku sendirian dong yang ada di ruangan ini" katanya sambil memayunkan bibirnya.


"Ah kamu, tenang kata kak Aneeta bakal ada yang gantiin aku kok"


"Hiisshh.. nggak seru kalo nggak kamu Fa"


"Lagian cuma sebulan kok" kataku membujuknya.


"Sebulan itu bagai setahun tau nggak!"


"Mbak Zulfa dipanggil kak Aneeta" katanya singkat, kemudian pergi, tak lupa sesungging senyum dia tunjukkan ke kami.


Aku dan Dian saling tatap sejenak, ada apa?


Ah pasti soal itu. Sejurus kemudian aku keluar ruangan, kakiku berjalan menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan ku.


Disini para pekerja, semuanya memiliki ruangan, setiap ruangan ditempati dua hingga 6 orang. Beruntung sekali ruangan yang di huni 6 orang, pasti sanagt ramai dan seru, sayang hanya ada aku dan Dian di ruangan itu. Hanya ada suara ku dan Dian yang mengambang di langit-langit ruangan.


Aku mengetuk pintu dari luar, terdengar suara perintah masuk dari dalam. Aku pun masuk. Kak Aneeta langsung menyuruhku duduk di depannya.


"Gimana?" Katanya.


Sudah kuduga, wanita ini pasti menanyakan hal itu. Sorot matanya seolah menanti jawaban, kedua tangannya saling mengait. Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum.


Tak di sangka, dia senang bukan main. Dia menjerit kegirangan, mungkin orang yang berada di luar ruangan mendengar jeritannya. Tanpa basa-basi ia langsung memelukku, aku merasakan aura bahagia dalam dirinya.

__ADS_1


Walau beda keyakinan agama,namun dia begitu menghormati setiap orang yang ada di sini yang berbeda dari keyakinannya. Itulah sebabnya ia sangat disegani di perusahaan ini.


Aku melihat matanya begitu berbinar, seolah anak kecil yang memenangkan hadiah.


"Ok.. ok.. aku segera urus semuanya.. kamu tinggal siapin koper dan yang lainnya.. minta izin sama orang tuamu.. Minggu depan kamu berangkat" katanya sambil mengatur nafas.


Sebenarnya aku sedikit terkejut, aku akan berangkat Minggu depan. Secepat itukah?


Aku berusaha tersenyum, setelah itu aku kembali ke ruangan ku. Dalam perjalanan kembali, tak sedikit orang yang menyapaku dan memberi selamat padaku.


Aku sedikit terheran, memangnya aku akan apa? Hanya pergi ke luar negeri saja, itu pun untuk mengikuti event. Mengapa semua orang disini begitu senang? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi?


Aku menyingkirkan pikiran anehku itu. Sampai di ruangan aku kembali ke temoat duduk ku. Bahkan Dian masih sempat menggodaku di tengah kesibukannya. Ada apa sih?


****


Istirahat aku dan Dian pergi mencari makan. Kami memutuskan untuk makan di warung barokah dekat tempat kerja. Di sana ada banyak menu, aku memesan soto ayam, sedangkan Dian memesan rawon.


Sambil menunggu pesanan siap, kami berdua bercengkrama. Aku sempat bertanya pada Dian tentang sesuatu yang aku sangat dibuat penasaran olehnya.


"Eh an, kenapa sih semua orang kok kayak seneng banget, padahal kan aku cuma mengikuti event di luar negeri?" Tanyaku dengan ekspresi tak tau apa-apa.


Dian tersenyum, kemudian ia sedikit menarik kerudungku.


"Kamu ini, nggak tau ya?" Katanya seolah mengejek.


"Apasih?"


Dia menghela napas panjang.


"Gini yaa... Asal kamu tau.. selama perusahaan fotografer itu berdiri hanya ada dua orang yang beruntung buat pergi ke luar negeri untuk mengikuti event itu, yang pertama dulu orangnya cowok, sekarang beliau menjadi CEO salah satu perusahaan fotografer juga, tapi bukan di kota ini, dan yang kedua itu kamu Zulfa... KAMU!!" katanya panjang lebar dengan nada agak nyolot di akhir kalimat.


"Dengar ya.. kamu itu salah satu orang beruntung di perusahaan itu, karena Kak Aneeta sendiri juga tahun lalu nggak lolos seleksi di event itu, naaah tahun sekarang malah kamu yang lolos.. jadi ya nggak heran dong kalo semua orang kayak gitu" lanjutnya tak kalah jelasnya.


Aku baru paham sekarang. Ternyata seperti itu. Alhamdullillah deh kalo gitu. Aku mengangguk mengerti. Tak lama setelahnya pesanan datang. Kami menikmati makanan yang sudah di pesan.


Selesai makan, aku dan Dian kembali ke temoat kerja lagi. Biasanya setelah makan siang, sudah tidak ada pekerjaan, jadi sebagian pekerja akan berleha-leha dan bercanda di ruangan masing-masing. Begitu juga dengan Dian, sejak kembali dari warung, dia terlihat sangat asik memainkan ponselnya.

__ADS_1


Berbeda denganku, karena tadi sempat berbicara dengan Kak Aneeta, segelintir pekerjaanku ada yang belum ku kerjakan. Segeralah aku mengerjakannya, agar dapat pulang lebih awal dan bisa membantu Abah.


Entah mengapa hari ini aku begitu merindukan lelaki itu. Beruntung sekali aku telah di asuh oleh orang tua yang berhati seperti malaikat.


__ADS_2