Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Pulang


__ADS_3

Dua koper besar telah siap di balik pintu kabin apartemen. Menunggu pemiliknya keluar untuk membawanya bersamanya. Sore ini adalah jadwal keberangkatan maskapai Prancis, yang sebelumnya ia telah merencanakan bahwa ini adalah jalan satu-satunya.


Beberapa jam yang lalu ia mendapat kabar dari negeri kelahirannya bahwa pelindungnya tengah dirawat di rumah sakit saat ini. Beberapa kali ia mengernyit, menyangkal bahwa kabar itu bohong belaka. Namun, naas dia harus buru-buru karena ternyata itu nyata adanya.


Ia bingung, sedari tadi hanya mondar-mandir tanpa ia tau apa yang harus ia lakukan. Dalam keadaan genting seperti ini pikirannya buntu, tak menemukan jalan keluar. Pagi yang seharusnya menyenangkan, tiba-tiba saja berubah karena merpati yang telah membawa kabar buruk menghampiri.


"Kak, ayo kita ke bandara sekarang, jadwal terbangnya bisa saja maju karena info cuaca hari ini!" Ujar Vani sambil merapikan syal yang melingkar di lehernya.


Gadis itu menatap layar ponselnya, sebenarnya ia menunggu jawaban dari seseorang, namun orang itu tak kunjung menjawab pesannya. Ia harus pergi sekarang, tidak ada waktu lagi.


Hanya sekali. Dia ingin sekali saja bertemu untuk yang terakhir kalinya dengan seseorang itu, namun keadaan memaksanya untuk segera pergi dari apartemen bernuansa Eropa itu. Tak ada jalan keluar lain kah?


Ah sudahlah. Dia harus pergi.


\*\*\*\*


"Kak, ini paspor dan visanya, Jagan sampai ketinggalan, masukkan ditas kakak yang ini saja, agar tidak dibawa ke bagasi." Oceh Vani sambil membuka resleting tas kecil yang menggantung di bahu kanan Zulfa.


Satu troli besar berisi dua koper siap untuk di dorong menuju bagasi. Ia tidak menghiraukan Vani, pandangannya menjelajah ke semua bagian yang ada di bandara ini. Ditatapnya orang yang lalu lalang satu per satu, otaknya mencoba mencerna dan mengenali adakah orang yang ia cari.

__ADS_1


Terlalu lama ia bergelut dengan masalahnya sendiri hingga ia tak sadar jika Vani yang sedari tadi berdiri didepannya mulai memanyunkan bibir merahnya. Ia menatapnya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya Vani lakukan.


"Kamu kenapa Van?" Tanyanya.


"Hih, harusnya aku yang tanya kak Zulfa kenapa!"


Memang benar, entah sejak kapan ia terjebak dalam lamunannya sendiri. Satu keanehan juga yang ada pada dirinya, mengapa ia tiba-tiba begitu menginginkan seseorang untuk datang padanya?


Padahal sejauh ini jika di logika ia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada lelaki itu. Kali terakhir ia bertemu mereka sedang diselimuti gelak tawa, senja yang menemani menjadi saksi bisu cinta diam-diam dari lelaki itu. Entah kapan gadis ini sadar bahwa lelaki itu tulus mencintainya.


"Ah iya Van maaf, aku sangat bingung dengan pikiranku sendiri."


"Hem ngomong-ngomong dugaanku benar, jadwal penerbangannya dimajukan." Lanjutnya.


Menurut prakiraan cuaca, hari ini akan ada hujan badai, untuk meminalisir keadaan akibatnya jadwal penerbangannya dimajukan. Semoga ia selamat sampai tujuan.


"Mending kakak chek in sekarang deh!"


"Iyasudah Van, kamu ke apartemennya baik-baik ya, titip salam untuk Tuan dan Nyonya Bill."

__ADS_1


"Okay" serunya sembari menunjukkan jempol tangan kanannya.


Rania mulai mendorong troli, berjalan menjauhi Vani. Bayang-bayang kenangan ketika pertama kali ia menginjakan kaki di bandara besar ini terbesit dalam benaknya, berbulan-bulan ia berada di negeri orang dan kini harus kembali karena keadaan genting yang ia hadapi.


Hanya satu yang kurang, sudah beberapa Minggu terakhir ia tidak bertemu dengan Reynard. Pria berkebangsaan Prancis itu entah kemana perginya, sudah beberapa kali Ia menghubunginya namun tidak ada jawaban sama sekali, terkadang ia terlilit dengan masalahnya sendiri karena tidak tau harus melakukan apa dan bagaimana.


Tiba-tiba ia berhenti di tengah kerumunan orang, membalikkan tubuhnya, kepalanya mendongak mencari sosok gadis yang baru saja berpisah dengannya. Kelopak matanya kini berhenti di satu titik, ia mendapati bayangan gadis itu yang masih berdiri sambil maminkan ponselnya.


Ia berlaru membelah kerumunan, troli yang semula ia pegang ditinggalkan begitu saja.


"Vani tunggu!" Teriaknya.


Gadis yang rambutnya kini mulai memanjang langsung mendongakkan kepalanya, mendapati Zulfa yang sedang berlari ke arahnya.


"Vani aku nitip ini, berikan kepada orang yang sudah ku tulis nama dan alamat rumahnya disini, aku minta tolong ya! Terimakasih!" Cerocosnya lalu pergi begitu saja.


Vani yang kapasitas otaknya sedikit terganggu, ia dengan wajah polosnya masih menatap punggung Zulfa yang kini mulai ditelan kerumunan. Ditangannya terdapat sesuatu entah apa itu terbungkus kertas berwarna coklat dengan sebuah nama dan alamat rumah yang tertulis di atas kertas berwarna biru muda yang menempel di atasnya.


Beberapa kali ia membolak-balik kan bingkisan itu.

__ADS_1


"Okee aja" gerutunya lalu berjalan keluar bandara.


__ADS_2