Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Dia


__ADS_3

"Ummi Zulfa berangkat dulu" kataku sambil mencium punggung tangan Ummi.


Setelah memgucap salam, aku segera pergi menuju tempat tujuanku, takut terlambat, karena ini merupakan hal yang sangat berarti bagiku.


Aku melangkahkan kakiku di jalanan desa ini, tak butuh waktu lama untuk sampai di jalan raya, hanya beberapa ratus meter saja jaraknya.


Sebenarnya Abah ingin membelikan aku sepedah motor, supaya aku bisa pergi kemanapun tanpa harus berjalan kaki, namun aku menolaknya, tapi itu beralasan, lagipula aku juga memiliki sepedah gayuh, tapi saat ini rantainya putus dan belum diperbaiki, mungkin karena sejak SMA sepedah itu sudah ada dan sering kupakai.


Sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa aku ini bukan anak kandung Abah dan Ummi, aku mengetahuinya saat aku kelas 1 SD, saat itu aku tidak tau apa-apa, akan tetapi seiring berjalannya waktu aku perlahan mulai memahami bahwa mereka lah orang tuaku yang sebenarnya, walau tidak kandung, tapi aku tau pengorbanan mereka dalam mengasuhku, terkadang aku merasa malu terhadap diriku sendiri, mereka begitu menyayangiku, walau aku bukan anak kandung mereka.


Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya siapa aku ini? Anak siapa aku ini? Pantaskah aku dirawat oleh sepasang suami istri yang memiliki hati seperti malaikat?


Namun, pertanyaan itu aku tepis, aku menyadari bahwa mereka memang tulus menyayangiku. Mereka orang tuaku. Orang tuaku selamanya, di dunia dan di akhirat.


Sampai di bibir jalan raya, aku menunggu angkot. Selang beberapa saat, angkot itu datang, aku masuk ke dalamnya, sejurus kemudian angkutan kota itu membawaku ke tempat tujuanku.


Suasana jalan saat pagi seperti ini sangat menawan, banyak kendaraan lalu lalang di jalan raya, memang jam segini waktu jam kerja, jadi tak heran jika banyak kendaraan yang sekaligus penyebar polusi udara akibat asap knalpot di setiap kendaraan.


Hampir setengah jam aku di dalam angkot, akhirnya aku sampai kentemoat tujuan. Setelah membayar ongkos aku kemudian turun, menyebrang jalan lalu masuk ke dalam suatu gedung.


"Assalammu'alaikum" ucapku saat membuka pintu utama gedung.


Aku mendengar ada seseorang yang menjawab salamku, masih sepi.


Mataku menggerayangi setiap jengkal ruangan, kudapati seorang wanita berambut ikal duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, mendengar salamku wanita itu menjawabnya kemudian menghampiriku.


Wajahnya cantik, rambutnya ikal panjang, pakaiannya sopan sekaligus elegan, dibandingkan denganku, aku kalah.


"Kamu Zulfa kan?" Tanyanya ramah.


Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Ia mempersilahkan aku duduk di sofa yang sempat ia duduki tadi, ia menyuruh seseorang untuk mengambilkan minum untukku, aku sempat menolak, namun ia memaksa, aku tak bisa berbuat apa-apa.


"Setelah baca proposal kamu dan memahaminya, saya yakin bahwa kamu lah orang yang saya cari saat ini" katanya.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum, memang beberapa hari lalu aku mengajukan proposal pada perusahaan ini, aku berfikir bahwa ini lah kesempatan ku untuk memulai karirku.


Saat itu seorang pegawai disini berkata bahwa akan menghubungiku jika aku diterima, dan kemarin malam aku di beritahu jika aku di terima di perusahaan ini, sungguh saat itu aku sangat senang.


"Hari ini kamu coba tes dulu, saya yang awasi langsung" melihat pipiku yang memanas ia berkata, "nggak papa, nggak usah grogi, saya juga pernah di posisi kamu" lanjutnya. Aku tersenyum.


Setelah itu ia mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan, dinyalakannya lampu, terlihat ruangan yang isinya tertata rapi. Mataku menelisik di setiap sudut ruangan, di lemari kaca ada berbagai jenis kamera yang berjajar rapi di sana, tak lupa perlengkapan fotografi lainnya yang tersusun tapi di tempatnya masing-masing.


Kamera di sana terlihat bagus dan canggih, berbeda dengan milikku, aku hanya memilki kamera yng berkapasitas 1200 D. Itu pun kudapat setelah menabung sejak SMP hingga lulus kuliah, yah apalah daya orang tuaku hanya penjual bakso, aku tak mungkin meminta apapun yang aku inginkan kepada mereka.


"Eh Zulfa! Ngapain bengong? Sini duduk!" Perkataan wanita itu membuyarkan lamunanku, aku segera menuruti perintahnya, kududukan diriku di sampingnya.


"Coba kamu foto sesuatu yang ada di sini, sesuka hatimu, lalu tunjukkan padaku!" Titahnya sambil menyodorkan sebuah kamera padaku.


Aku tersenyum, aku mengambil kamera yang di berikannya padaku, kemudian mataku mencari-cari sebuah objek yang menurutku sederhana tapi berkesan. Mataku terhenti di suatu objek, aku mengambilnya, kemudian menaruhnya di meja kosong, memberinya sedikit aksesoris pelengkap, aku merasakan tindak tanduk ku diawasi oleh wanita itu.


Satu jepretan sempurna, kemudian ku serahkan hasil fotoku padanya. Tanganku sudah dingin sejak tadi, keringat dingin mengucur dibalik kerudungku, padahal ruangan ini ber-AC, entahlah mungkin karena gugup.


Aku melihat wanita itu tersenyum, setelah melihat gambar yang kuambil barusan ia menatapku, "aku tau kamu sebenarnya sudah memiliki bakat ini sejak dulu, jadi kamu harus mengembangkannya, agar tak hilang di telan masa" ucapnya.


"Selamat mulai besok kamu sudah bisa bekerja disini, yang betah ya!" Lanjutnya sambil tersenyum.


"Alhamdullillah, terimakasih Bu" ucapku. Senyumku seketika layu saat melihat wanita yang ada di depanku menatap heran ke arahku, apa yang salah?


"Kamu ini, nggak ush panggil Aku Bu, panggil kakak saja" ucapnya.


Oh ternyata itu sebabnya, aku tersenyum menunduk.


"Oh gawat, aku sudah hampir terlambat, maaf ya! Aku tinggal dulu, kamu boleh pulang" ucapnya seraya bangkit, dan segera pergi keluar ruangan. Belum sempat aku mengucapkan terimakasih namun ia melesat pergi.


Astaghfirullah, aku juga belum tau nama wanita itu siapa, bagaimana aku memanggilnya nanti?


**** 


Brrukk....

__ADS_1


"Astaghfirullah" ucapku spontan, aku menubruk seseorang, namun aku sendiri juga terjatuh, aku segera bangkit, kemudian membersihkan bajuku yang sedikit kotor.


Mataku menangkap sebuah bayangan seseorang yang sangat aku kenal, ia menunduk, masih membersihkan bajunya, oh apakah itu dia?


Setelah ia mendongakkan kepalanya, aku


terkejut bukan main, mataku terbelalak, jantungku berdetak tak beraturan. Dia datang lagi.


"Maaf saya tidak seng..." Ia menggantung kata-katanya. Tatapannya menyelidik, "Zulfa kan?" Ujarnya dengan ekspresi terkejut pula. Aku memang mengenalinya, namun aku tak mau mengenalnya lagi.


Oh Allah mengapa engkau datangkan lagi orang ini?


Aku tersenyum getir, kemudian mengangguk pelan. Wajahnya tetap sama, tak banyak berubah, alisnya yang tebal, di dominasi dengan hidung yang mancung, bibirnya yang selalu tersenyum pada siapa saja, sorot mata elangnya yang tajam, wajahnya itu hampir sempurna. Kaum hawa mana yang tak jatuh hati karenanya.


"Sudah lama kita tidak bertemu, luangkan waktumu, mari kita berbincang sebentar, tidak sibuk kan?" Perkataannya membuyarkan lamunanku.


Aku dan dia Memnag tidak pernah bertemu sejak lulus SMA, ia tidak satu kampus dengannya semasa kuliah dulu.


Di ajaknya aku ke sebuah cafe pinggir jalan, kami duduk di sebuah meja dengan 4 kursi. Setelah memesan minuman ia berbicara banyak hal, namun aku yang berusaha mengontrol degup jantungku sedari tadi hanya sekedar menjawab singkat pertanyaannya saja.


"Kamu tidak banyak berubah" katanya sambil sesekali menengguk jus buahnya,


"sebenarnya aku rindu dengan bakso Abahmu" perkataannya sukses membuatku terkejut, rupanya rasa Bakso Abah masihmelekat di lidahnya.


Setelah beberapa saat bertukar cerita di cafe, aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, ini sudah hampir zhuhur, aku harus segera pulang.


"Maaf Abi, tapi aku harus segera pulang" ucapku seraya berdiri, dia juga ikut berdiri.


"Kalau begitu pulang bersamaku saja, akan ku antar!" Titahnya sambil menuju ke kasir, aku masih memandangnya heran, antar aku pulang?


Setelah keluar cafe, aku mengentikan langkah kakiku, berniat untuk mengatakan padanya untuk tidak usah mengantar aku pulang, aku sudah berusaha menunjukkan berbagai spoiler, tapi itu sepertinya sia-sia. Dasar tidak peka.


"Aku bisa pulang sendiri, tidak usah mengantarku" ucapku.


"Tidak papa, itu tidak merepotkan" balasnya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa pulang denganmu, sudah kamu pulanglah, aku bisa sendiri" ucapku masih tetap dengan pendirianku.


Setelah itu aku langsung pergi meninggalkannya yang tetap mematung di sana, mungkin itu terlihat tidak sopan, namun ini lah satu-satunya cara agar jantungku bisa kembali di kontrol.


__ADS_2