Berawal Di Paris

Berawal Di Paris
Pria Berjas Cream


__ADS_3

Selepas subuh pria itu berniat pergi ke pasar bersama istrinya untuk membeli bahan pokok pembuatan bakso. Usaha bakso yang telah dirintisnya selama puluhan tahun perlahan-lahan mulai berkembang, walaupun hanya sepetak tanah di depan rumah mereka yang menjadi tempat singgah warung bakso, atas kemurahan Yang Kuasa rezeki telah dilimpahkan kepada mereka.


Perlahan luasnya bertambah, hingga suatu ketika terbesit pikiran untuk menambah cabang warung bakso di sekitar kota, akan tetapi entah apa yang ada di pikiran pria paruh baya itu, sehingga ia menunda penambahan cabang warung bakso yang akan dibangun.


Langit masih belum sepenuhnya cerah, semburat matahari yang seolah cipratan air mewarnai langit yang sebagian masih pekat. Ayam pun masih bersahutan, mencoba menggabungkan suara-suara mereka berniat membangunkan mata yang masih terlelap.


"Pak tolong ini nanti ditaruh di depan rumah saya saja ya! Bapak duluan kesana, saya dan istri saya akan menyusul, masih ada yang harus dibeli."


"Oh iya pak siap." Seru tukang becak sambil menunjukkan jari jempolnya.


Saat ingin melangkahkan kaki, terdengar ada suara berat memanggil pria berpeci itu. Sontak ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat orang memakai jas berwarna cream dengan celana berwarna senada berjalan agak cepat menghampiri pria berpeci itu.


"Permisi pak!" Ucapnya ketika berada tepat di depan pria itu.


"Ya? Ada keperluan apa?"

__ADS_1


"Saya ingin bicara dengan bapak!"


****


Sebenarnya malam ini ada rencana untuk makan malam bersama Tuan dan Nyonya Bill. Untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka katanya. Karena ada satu dan lain hal jadi aku harus segera pulang. Sempat terlintas pemikiran untuk last flight saja, tetapi tadi sewaktu akan memasuki gate keberangkatan ponsel ku berdering. Ada suara lembut yang berbicara dari seberang sana.


Kalimatnya seolah meyakinkan aku untuk tidak berat meninggalkan Negri ini, karena memang aku belum menyelesaikan semuanya disini. Sedari tadi pikiran ku semrawut, aku bingung bagaimana aku menuntaskan urusan ku terlebih dahulu disini sedangkan disana ada orang yang sedang menunggu kepulangan ku. Belum lagi sosok pria itu yang entah berapa lama tidak berkabar dengan ku.


Sekiranya sebentar lagi akan landing. Dengan kabut awan yang menutupi wajah bandara mataku serasa gatal seolah ingin sedikit menyingkap kabut itu. Karena memang sedang mendung, mungkin akan hujan lebat setelah ini.


Segera aku mengambil koper ku meletakkannya di atas troli lalu berjalan sambil mendorong troli yang berat itu. Tak lama aku menunggu, ada sebuah taksi yang bersedia mengantarku pulang ke rumah. Aku ingin cepat-cepat sampai, energi tubuhku terkuras untuk hari ini. Bayang-bayang tempat tidur dan selimut seketika menghantuiku seolah melambai ke arahku.


Sampai di depan rumah, aku melihat pintu rumah ku terbuka tanpa ada sesuatu yang menyandinginya. Sekiranya Abah yang mungkin duduk di kursi depan pintu namun pandanganku yang ini tidak. Mungkin di dalam ada tamu.


Dibantu pak supir aku menurunkan kedua koper ku lalu berjalan dengan menyeret koper-koper yang besar itu. Serasa menyeret sebuah lemari pakaian.

__ADS_1


"Assalammu'alaikum, Abah Ummi, Zulfa pulang..."


"Waalaikumsalam. MasyaAllah Nduk akhirnya pulang juga." Seru Ummi seraya datang memeluk ku.


Aku sangat merindukan pelukan hangat dari Ummi, seolah seisi dunia ini hanya milik ku. Aku mencium tangannya. Bau khas tubuhnya yang membuatku seolah terhipnotis, Ummi mengelus kepalaku dengan lembut, aku merasakan kasih sayang disana.


Abah berjalan lalu mengelus kepalaku, aku mencium tangannya. Kulit yang keriput ini mengingatkan ku akan kewajiban ku sebagai anaknya. Waktu yang aku miliki sudah tak lama lagi, bagaimanapun aku harus segera melihatnya menangis bahagia karena bangga padaku.


Pandangan ku beralih ke sosok pria berjas cream yang tengah berdiri dari tempat duduk. Wajah itu aku tak pernah melihatnya sama sekali sebelumnya, tapi entah mengapa seolah aku mengenalnya. Aku menundukkan kepalaku sembari tersenyum, mengucapkan salam dari jauh padanya.


"Kamu mandi dulu Nduk, bersihkan badan mu!"


Aku mengangguk. Memang tubuhku sudah sangat lelah hari ini. Jet lah membuat mataku sayu, sangat ingin menutupnya walau sebentar.


Aku melangkahkan kaki menuju kamar, dengan masih menyeret kedua koper ku. Langkahku terhenti ketika suara serak basah menyapaku dengan nada agak tinggi.

__ADS_1


"Maaf, tunggu dulu. Saya ingin berbicara"


Aku sangat ingin tau sebenarnya siapa orang ini.


__ADS_2