
"Iya-iya Van, ini aku sudah di jalan, sebentar lagi sampai. Tidak perlu, iya, oke"
Aku berjalan menyusuri bibir jalan. Baru saja Vani telfon, katanya nyonya Bill mencariku, padahal tadi aku sudah izin. Sempat ia berisikeras akan menjemputku, namun aku tolak. Aku merasa beruntung karena keluarga itu sangat peduli padaku.
Hari sudah hampir malam, matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya, meredupkan cahayanya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, begitu juga dengan lampu kendaraan. Suara deruan motor yang sejak tadi berlalu-lalalng di jalan membuat suasana jalan raya menjadi ramai.
Hiruk pikuk kota ini sudah terlihat kesibukannya. Sudah waktunya jam pulang kerja, tak heran jika jalan raya ramai seperti ini.
Sebelum pulang aku sempatkan diriku untuk mampir ke sebuah minimarket. Aku merasa haus setelah berjalan ribuan meter sejak tadi. Setelah pertemuan tadi pagi, sepanjang hari aku berada di masjid mengagumkan itu. Aku melakukan murrotal Alquran, menambah hafalan selama disana. Hingga sore menjelang malam aku baru bangkit dari sana.
Aku mmebuka lemari es, mengambil 4 botol minuman jus dari sana lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Aku berjalan lagi menyisir seluruh bagian minimarket. Setelah membeli semua yang ingin ku beli, aku membawanya ke kasir. Setelah membayar tagihan kasir Aku segera keluar, Vani dan keluarganya pasti sudah menunggu.
Di tangan kiriku, Aku membawa sekantong plastik berisikan empat buah botol jus dan sebuah sosis daging sapi. Rencananya besok aku akan membuat sarapan untuk mereka. Sebenarnya Aku sendiri juga tidak tau ingin memasak apa besok. Sangat konyol memang.
Udara dingin mulai mencekam, ku rapatkan mantelku lagi. Menyesal karena tadi tidak membawa syal, telinga dan leherku sangat kedinginan. Ku percepat langkah kaki, tak tahan dengan udara dingin.
Sampai di depan unit apartemen aku memencet bel di sisi samping pintu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, tampak nyonya Bill dibaliknya. Ia tersenyum puas, mungkin karena melihatku sudah pulang.
Aku segera masuk, lalu duduk di meja makan. Mengeluarkan semua isi dari kantong plastik yang aku bawa.
Setelah memberikan satu per satu sebotol jus kepada keluarga Bill, aku duduk kembali di meja makan bersama nyonya Bill.
"Oh Zulfa, aku minta maaf karena sebenarnya aku tidak punya apa-apa untuk dimakan" kata nyonya Bill. Aku mendongak, usai membuka tutup botol jus ku.
"Sepulang kerja tadi aku sangat lelah dan ingin segera pulang, rasanya tubuhku entah seperti apa, jadi mungkin malam ini kita tidak makan malam seperti kemarin" lanjutnya dengan nada pelan. Aku tersenyum ke arahnya.
"Tidak apa-apa Nyonya, lagipula aku juga tidak merasa lapar" balasku yang seketika membuatnya tersenyum juga. Aku meneguk jus ku, lalu aku teringat sesuatu.
"Oh iya, tadi aku membeli sebungkus sosis daging sapi di minimarket, itu akan sedikit mengganjal perut untuk malam ini" kataku.
"Oh ya?"
Aku mengangguk yakin. "Aku akan memasaknya sekarang" kataku sambil bangkit dari tempat duduk. Aku berjalan menuju kulkas, kemudian mengambil sebungkus sosis yang ku beli tadi.
"Apa kau perlu bantuan?" Tanya nyonya Bill.
"Tidak perlu, Nyonya istirahat saja, Anda terlihat sangat letih, akan kubuatkan teh hijau nanti" balasku sambil tersenyum ke arahnya, yang kemudian juga dibalas senyuman olehnya.
Aku mendengar suara langkah kaki nyonya Bill menjauh, mungkin ia pergi ke kamarnya. Aku memberi irisan di tengah-tengah sosis kecil-kecil itu, kemudian menaruhnya di piring. Setelah itu aku memotong bawang bombai, cabai merah dan hijau, serta bawang putih yang ku iris halus.
Aku mengambil teflon memberi sedikit minyak di atasnya kemudian menaruhnya di atas kompor. Kunyalakan kompornya kemudian aku memasukkan dua buah telur yang sudah di kocok ke dalamnya lalu mengacaknya sehingga telur hancur, diikuti irisan bawang bombai, cabai dan lain-lain.
Baunya sudah tercium, lalu aku memasukkan sosisnya lalu mengaduknya rata. Setelah beberapa saat, aku menambahkan saus di dalamnya, ku aduk lagi sampai rata.
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak tau apa yang aku masak. Aku juga tidak tau apa nama dari masakanku ini. Selama tinggal bersama Abah dan Ummi aku tidak pernah memasak jenis masakan seperti ini. Huh, aku khawatir rasanya akan berantakan, karena jujur baru kali ini aku masak masakan seperti ini. Dasar bodoh kamu Zulfa.
Aku mencicipi rasanya di ujung lidahku, menurutku ini tidak terlalu parah. Ah sudahlah.
Setelah matang, aku menaruhnya di mangkuk. Lalu aku beralih untuk membuatkan teh hijau untuk nyonya Bill. Wanita itu terlihat sangat kelelahan, matanya sampai memiliki kantung mata tebal. Aku berpikir, betapa pekerja kerasnya orang luar negeri. Gaya hidup yang tinggi membuat setiap warganya harus bekerja keras untuk membeli kebutuhan yang tak murah.
Apalagi Nyonya Bill dan suaminya harus membayar tagihan apartemen sebagus ini, serta harus merawat Vani yang masih kuliah, yang juga masih butuh biaya.
Dan Aku?
Apa yang aku lakukan di sini?
Hanya ikut menumpang di rumah orang, mungkin mereka tidak keberatan jika harus menampungku juga, belum lagi aku menikmati fasilitas yang lengkap di unit ini. Makan juga gratis, AC, Mesin cuci, Aku sangat terbebani oleh kebaikan mereka.
Mungkin nanti aku akan ikut membayar tagihan apartemen ini, hanya sekedar untuk berterimakasih kepada mereka.
Kusesuh teh hijau dalam cangkir yang mungil. Kemudian aku berjalan menuju kamar Vani, mengetuk pintunya.
"Iya kak, sebentar aku panggil Paman sama Bibi dulu" katanya seraya menutup pintu kamarnya.
Tuan dan Nyonya Bill kini sudah susuk di meja makan, aku merasa gugup bukan main. Aku membawa masakan yang baru saja aku masak tadi, di susul dengan secangkir teh hijau yang khusus kubuatkan untuk Nyonya Bill.
Aku duduk di bangku yang kosong. Tanganku panas dingin, keringatku mengucur, padahal suhunya rendah, aku menggenggam kuat ujung jilbabku, menggigit bibir bawahku.
Mereka mulai makan, satu suapan tidak ada reaksi apapun, bahkan wajah mereka terlihat biasa saja. Tuan Bill tampak acuh tak acuh. Seketika aku meringkuk dalam lamunanku, rasanya pasti berantakan, karena jelas-jelas aku tidak tau apa yang aku masak.
"Oh my God" sergah Nyonya Bill sambil membanting sendok yang di pegangnya. Lalu ia memegang kepalanya. Aku terkejut sekaligus khawatir.
"It is very delicious" ungkapnya dengan ekspresi yang menurutku sangat terkejut. Lalu ia memasukan kembali irisan sosis yang ada di piringnya ke dalam mulutnya.
"Iya kak ini enak banget" tambah Vani.
Oh astaga, aku tidak percaya ini.
"Dimana kamu belajar hak seperti ini?" Tanya Tuan Bill padaku, seolah menggoda. Aku tersipu malu, canggung bukan main.
Aku mengambil beberapa sendok sosis yang kubuat tadi, lalu aku memakannya. Memang rasanya tidak terlalu parah, syukurlah mereka suka.
Setelah makan dan mencuci piring aku tidak melakukan apapun. Hanya berdiam diri dikamar sambil memainkan ponsel. Sebenarnya ingin seklai menghubungi Abah dan Ummi, tapi Luluk mungkin sedang tidak di rumah ku, lagipula Abah dan Ummi pasti sibuk melayani pembeli.
Aku mendengus kesal, membanting ponselku di kasur. Aku sangat bosan.
Aku menatap ke luar jendela, langit tampak gelap, suara deruan motor masih mndengung. Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela.
__ADS_1
Ku tatap langit yang gelap, tak ada rembulan di sana, bintang pun hanya satu dua yang muncul.
Aku memincungkan mataku ke bawah, di luar tampak ramai, banyak orang berjalan kaki di trotoar.
"Kak Zulfa!" Tegur seseorang dari arah pintu.
Aku menoleh, terlihat Vani yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Mau jalan-jalan? Kudengar di taman ramai" katanya.
Ah boleh juga. Lagipula aku sangat bosan di dalam sini, hanya menatap langit-langit kamar yang polos, rasanya mataku sangat gatal. Aku mengangguk mantap, ia tersenyum kemudian pergi, mungkin mengambil mantel.
Segera ku sambar mantel yang menggantung di lemari, memakai sepatu, mengambil ponsel dan beberapa lembar uang dan segera ku masukan ke dalam saku mantel. Aku berjalan keluar kamar.
Di luar sangat dingin, aku berjalan beriringan dengan Vani. Mantel berwarna cream yang kugunakan cukup membantu menahan dingin dari luar. Sedari tadi Vani melihat ke arah ponselnya, sampai-sampai ia hampir menubruk tempat sampah di jalan, kutegur dia, ia terkekeh polos.
Sampai di taman, aku dan Vani duduk di bangku putih dekat tiang lampu. Taman snagat ramai, padahal udara sangat dingin seperti ini, tak jarang anak kecil juga, mereka berlarian kesana kemari, teriakan mereka melengking bagai tikus terjepit pintu.
"Kak, aku cari makanan hangat dulu ya, Kakak tunggu sini, Kakak mau pesan apa? Biar kubelikan" cerocosnya sambil berdiri.
Aku berpikir sejenak.
"Stik kentang ya, sama teh hangat. Sudah itu aja, nanti aku ganti uangmu" balasku.
Ia mengangguk, kemudian pergi meninggalkanku sendirian di bangku taman.
"Jangan lupa sausnya!" Teriak ku padanya yang sudah berjarak bermeter-meter dariku. Kulihat ia mengacungkan jempol kanannya tanpa menoleh, artinya ia mendengarku. Aku menghela napas.
Aku menyenderkan tubuhku ke sandaran bangku, menatap kosong ke arah langit yang gelap.
Tampak wajah Abah dan Ummi di sana, tersenyum ke arahku. Aku begitu merindukan mereka sampai-sampai aku melihat mereka di atas langit. Masyallah.
Mereka apa kabar ya?
Sudah makan belum?
Pasti sepi?
Tak terasa tiba-tiba air mataku jatuh, menetes dari pelupuk mataku, aku segera mengusapnya, takut dilihat orang. Tetapi Allah tau semua yang ada dalam hatiku, semoga rinduku tersampaikan kepada kedua malaikatku.
"Excuse me!"
Suara bariton milik seseorang mengejutkanku, aku terperanjat. Ku tatap lamat-lamat wajah orang itu, tidak asing. Aku mencoba mengingat-ingat dimana aku pernah melihatnya.
__ADS_1
Aku terkejut. Oh, ternyata orang ini lagi.