
"Zulfa, mari duduk disana! Aku lelah" gerutunya saat kami tiba di sebuah taman. Aku menyanggupi permintaannya, lalu kami berjalan menuju ke sebuah pohon Flamboyan dengan bunga merahnya yang khas.
Aku dan Abiel duduk di bawah naungan pohon itu, rasanya sejuk. Udara segar berhembus, walau sedang terik seperti ini, tetapi angin yang entah sejak kapan menjelajah kota ini sangatlah segar. Rasanya jadi ingin berlama-lama di sini.
Ku lihat Abiel sangat kelelahan, berulang kali ia mengibaskan telapak tangannya, hembusan angin mungkin tak mempan baginya. Sempat juga ia melepas syal yang melingkar di lehernya, lalu melepas mantel yang ia kenakan.
Gadis berkulit putih ini menjulurkan kedua kakinya di atas rumput yang hijau, serta kedua tangannya menopang tubuhnya yang kelelahan. Aku yang melihatnya merasa kasian, aku berniat melakukan sesuatu untuknya.
Kepala ku menoleh kesana kemari, hanya terlihat lingkungan taman dan sekitarnya saja.
"Kamu tunggu di sini dulu ya! Aku akan cari minum" kataku sambil berdiri. Tapi, sebuah tangan menahanku dengan menarik ujung mantelku.
"Dimana?" Tanyanya.
"Akan aku cari minimarket di sekitar sini, kamu disini saja, tunggu, aku akan segera kembali" tuturku. Segera aku melangkah keluar lingkungan taman. Aku mempercepat langkah kaki ku, tak ingin Abiel menunggu terlalu lama.
Sepanjang aku melangkah, belum ada satupun minimarket yang aku jumpai. Langkah ku tak patah semangat. Hingga akhirnya aku menjumpai sebuah minimarket di pinggir jalan. Aku segera masuk ke dalamnya.
Aku langsung menuju ke lemari es, mengambil satu buah botol jus jeruk dan sebotol air mineral. Sebenarnya aku ingin jus juga, tapi karena uang yang aku bawa terbatas jadi aku memilih meminum air putih.
Setelah itu aku membalikkan tubuh, namun sebuah dinding penghalang menghentikan ku. Sempat tubuhku terpental karena menubruknya, aku tersentak.
Seorang laki-laki jangkung berdiri tegak di hadapanku, tinggiku hanya sebatas dagunya, hingga aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Aku terpaku saat kedua mataku tak sengaja bertemu dengan mata elangnya.
Seketika aliran listrik menyengat otot dan sendi-sendi ku, hingga sangat susah untuk digerakkan. Namun, keterpakuan ku juga membuat jantungku berdebar tak karuan. Seolah ada kupu-kupu terbang di dalam perutku lalu hinggap di jantung dan menggelitik. Rasanya ingin memberontak dari keadaan, tetapi mata elangnya sukses membuat ku membeku.
"Zulfa!"
"Zulfaa!"
Tegurnya hingga membuyarkan lamunanku, serta berhasil membuat jantungku semakin ingin lari. Ia menyadarkan ku dari mimpi sekian detik.
"Ah.. oh.. iya.. maaf!" Kataku tergagap. Aku terjebak dalam keadaan hati dan pikiran yang kalang kabut. Ya Allah kenapa engkau membuatku seperti ini di depan makhluk mu yang bukanlah mahramku. Aku segera menundukkan pandangan. Aku merasakan pipiku memanas, duh mengapa pula aku harus bertemu orang ini?
Aku sedikit bergeser dari posisiku, dia maju dua langkah, tangannya mengambil minuman dari lemari es. Seketika pikiranku langsung tertuju pada Abiel, gadis itu pasti sudah menunggu ku, menahan haus yang meradang. Segera ku langkahkan kaki ku menjauh dari sana. Setelah membayar tagihan segera ku keluar dari sana.
__ADS_1
Namun, baru beberapa langkah dari pintu, aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang.
"Zulfa!"
Aku menoleh ke arahnya, kudapati Reynard sedang berdiri di sana, tangannya menggenggam sebuah botol yang ia minum tadi. Sorot mata elangnya begitu tajam, aku jadi kik-kuk untuk menatapnya langsung, ku tundukan pandanganku.
"Apa kamu sibuk?" Tanyanya.
"Tidak, aku harus segera pergi, temanku menungguku di taman" kataku lalu membalikkan badan.
"Lalu apakah aku boleh bergabung bersama kalian?" Lagi-lagi ia menghentikan langkahku. Aku memejamkan mata, belum menjawab. Apa yang harus aku katakan? Haruskah aku berkata tidak? Sungguh pilihan yang sangat sulit.
Ku balikkan tubuh lagi, kini berhadapan telat di depannya. Aku berusaha menganggukkan kepala, walau sebenarnya itu berat, namun aku tak ingin memberi kesan buruk pada seseorang yang baru aku kenal. Ku lihat ia tersenyum lebar, lalu ia mempersilahkan aku berjalan duluan. Dengan segala kecanggungan ku aku berjalan sambil menundukkan kepala.
Dia berjalan di sampingku, tidak terlalu dekat, juga tak terlalu jauh. Hanya ada kesunyian diantara aku dan dia, tak saling menyapa. Karena mungkin aku dan dia sama-sama canggung.
Aku malah semakin merasa seolah di dalam penjara yang sunyi tanpa suara, ingin ku katakan sesuatu, tapi,...
Aku menghela napas, daripada tegang seperti ini, mungkin akan lebih cair jika aku yang bicara duluan.
"Zulfa!"
Kataku dan dia hampir bersamaan. Oh sial, suasana malah tak karuan rasanya, canggung, kik-kuk, malu, semuanya campur aduk.
"Ah maaf!"
"Maaf!"
Oh tidak. Keadaan seperti apa lagi ini? Aku semakin malu, kurasakan pipiku memanas, mungkin saat ini memerah.
"Kamu duluan!"
"Kamu duluan!"
Sekali lagi. Mata kami saling bertemu, langkah kaki kami terhenti. Waktu seolah berhenti, dunia seolah mengerti kapan dan dimana seharusnya ia berhenti.
__ADS_1
Tak mau canggung lagi, aku segera angkat bicara, tak sanggup lagi.
"Ah maaf, kamu saja duluan yang bicara!" Kataku sambil membuang muka.
Ku dengan ia tertawa kecil, ia mulai memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Lalu tersenyum ke arahku. Aku berusaha membalas senyumannya, namun tak sanggup lagi. Sorot mata elangnya begitu menusuk, aku tak berani menatap mata coklatnya.
"Oke, baiklah mari lanjutkan berjalan, teman mu pasti sudah menunggu" katanya mencairkan suasana. Aku mengangguk pelan. Lalu kembali melanjutkan jalan kaki. Seperti tadi, sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian, di antara kami tak ada yang saling memulai, keduanya diam bagai seekor burung yang kedinginan.
Sampai di taman, ku melihat kedua kelopak mata Abiel melebar, memandang ke arah Reynard. Aku sendiri tak tau apa yang terjadi dengannya, apa dia terkejut?
Begitu melihat kami datang ia langsung berdiri. Suasana yang hening menguasai, aku berusaha mencairkan suasana dengan memulai pembicaraan.
"Eh Abiel, ini minuman untuk mu" kataku sambil menyodorkan sebotol minuman.
"Eh iya makasih" katanya. Namun, pandangannya masih tertuju pada Reynard.
"Ah maaf, ini Reynard" kataku mencoba peka dengan keadaan. Abiel lalu memandangku.
"Hai!" Reynard tidak mengulurkan tangannya, ia hanya mengucapkan sepatah kata untuk menyapa Abiel.
"Ini temanmu?" Tanya Abiel padaku. Sebenarnya aku juga tidak tau ingin menjawab seperti apa. Aku dan Reynard bertemu di suatu tempat, jika dikatakan aku dan dia berteman, boleh saja. Tapi apakah ia pernah mengatakan padaku bahwa aku ini temannya?
"Iya, aku temannya" baru saja aku ingin angkat bicara, tapi dia terlebih dahulu menjawabnya. Mendengar jawaban dari Reynard, seketika Abiel mengatupkan kedua telapak tangannya di mulutnya.
"Kalian nggak pacaran kan?" Tanyanya yang sontak mengejutkanku. Pertanyaan macam apa itu? Aku dan Reynard saling pandang, kami bingung dengan keadaan.
"Oh no" kataku spontan sambil menggeleng gusar. Kulihat Abiel menghembuskan napas lega.
Astaghfirullah, sepertinya aku kurang menutup aurat, sehingga orang lain menyangkal aku berpacaran dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal.
Kami bertiga lalu duduk di sekitar pohon Cemara kipas yang berjejer di bagian samping taman. Reynard dan Abiel begitu cepat menjadi teman akrab. Mereka banyak berbincang tentang ini itu, sesekali mereka tertawa entah karena apa.
Dan aku. Aku hanya diam mendengar dan menyaksikan obrolan mereka. Aku tak tau harus bagaimana, mood ku tiba-tiba berubah entah karena apa. Satu dua kali aku tersenyum ketika mereka memandang ke arahku. Mungkin karena mereka sama-sama orang Prancis jadi mereka berbicara dengan lantang menggunakan bahasa Prancis yang sama sekali tidak ku mengerti.
Ku lihat wajah Reynard, pria ini benar-benar ramah, menghargai wanita, dan humoris juga. Aku segera mengalihkan pandanganku, walau ku tau diayak akan melihat ku. Bukan karena apa-apa, sebagai muslim aku harus menjaga pandanganku, terutama bagi orang yang tidak menjadi mahramku.
__ADS_1