
Setelah memberi uang kepada supir taksi, ia berjalan dengan antusias menuju rumah gadis impiannya. Sebuah hati yang lama terbungkus oleh pelepah tebal, kini terbuka secara keseluruhan dengan waktu yang amat singkat.
Ya. Gadis itu penyebabnya. Gadis yang selalu menundukan pandangan itu telah memikat hatinya, matanya seindah permata, lesung pipit yang manisnya tak terhingga. Terkadang ia lupa, siapa dia sebenarnya, berani jatuh hati kepada gadis dari negeri seribu candi.
Bukan otak yang memberi perintah pada kaki untuk berjalan, namun hati. Sepanjang langkah kakinya pria jangkung ini tak pernah mengendurkan senyumnya, menyapa orang-orang yang ada di sekitarnya, suasana hatinya sedang baik sekarang.
Dari kejauhan sudah nampak nuansa beranda apartemen itu, langkahnya semakin cepat, hatinya berdebar tak karuan, jantungnya memompa lebih kencang, entah mengapa tubuhnya seolah di bekukan oleh waktu jika bertemu gadis ini.
Namun, bagai sambaran petir di siang hari yang menyambar sebuah pohon hingga batangnya terbelah menjadi dua, langkah kakinya seketika terhenti di satu titik terdalam. Tubuhnya kaku bak usai di sengat listrik, jantungnya seolah terhenti, tatapan matanya dengan sekejap menjadi layu, senyumnya mengendur bak ikatan yang perlahan mulai lepas.
Matanya menangkap dua sosok bayangan yang tengah berdiri di dekat bangku putih depan apartemen. Salah satunya seorang lelaki yang postur tubuhnya tak terlalu tinggi, menghadap lurus pada gadis berjilbab merah muda dengan mantel berwarna biru di depannya.
Ia tak sanggup berkutik, diam dalam posisinya. Diamatinya dua sosok makhluk itu, tak ada keanehan diantaranya, namun tatapan sang pria pada gadis berjilbab merah muda itu sanggup membuat celah pada hatinya.
"Dia siapa?"
Tanyanya entah pada siapa. Tak ada yang bisa mendengarnya, ia mengojakan diri, perlahan kakinya mulai melangkah mendekat ke arah mereka. Dengan napas yang sebenarnya sedari tadi berusaha untuk di kontrol, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku mantelnya.
****
"Kamu ada waktu?"
Aku terkejut ketika ia bertanya demikian. Sebenarnya ada apa ini? Mengapa ia datang kembali? Setelah sekian lama perjuangan ku untuk melupakannya.
Sedari tadi ia hanya basa-basi saja, membuatku seolah berada di penjara. Bertanya ini itu yang menurutku tidak penting, tapi mau bagaimana lagi. Semenjengkelkan apapun dia, jujur demi apapun aku memang pernah membuat ruang di hatiku untuknya, namun ruang itu tak kunjung terisi, hingga sekarang kembali tertutup. Akupun tak tau apakah akan terbuka lagi utnuknya atau mungkin utnuk orang lain.
__ADS_1
"Maaf, akhir-akhir aku sangat sibuk" kataku dengan mengalihkan pandangan ke arah lain, aku tak sanggup menatap matanya. "Jadi mungkin tak ada waktu" lanjutku.
Aku tau dia kecewa dengan perkataan ku, namun sebisa mungkin aku berusaha untuk tak peduli, walaupun hatiku sangat terenyuh saat mengatakan hal yang seharusnya tak pantas dikatakan. Namun, aku tak peduli. Dia pernah entah sengaja atau tidak disengaja memberitahuku bahwa dia akan menikah, putri mana yang tidak sakit hati ketika pangeran pujaan hatinya dikabarkan akan menikah dengan putri lain? Mungkin hanya sekali ini aku mencoba untuk menjadi orang jahat.
"Tapi..."
"Zulfa!" Sahut seseorang dari arah samping. Yang juga mengentikan kalimat yang akan di ucapkan oleh Abi. Ku lihat Reynard sudah berada di sampingku, dengan mantel hitam yang membalut tubuh jangkungnya.
Sukses. Telah sukses aku berada di tengah-tengah orang yang membuat pikiranku kalang kabut. Ada Abi yang sedari tadi mencoba mengungkapkan sesuatu, ada juga Reynard dengan mata elangnya yang menyimpan seribu kata-kata untuk di uatarakan entah untuk siapa.
Ku lihat mata elang dari kedua pria ini saling bertemu, saling menghunus sama tajamnya, membuat suasana hatiku semakin mencekam, seolah ada dua naga yang siap bertarung demi sesuatu yang mereka inginkan.
Aku tak sanggup berkata-kata, lidahku kelu, mataku layu tak sanggup melihat semua ini. Sebisa mungkin aku berusaha mengeluarkan diri sendiri dari penjara labirin yang sangat membingungkan ini.
"A.. Abi perkenalkan ini temanku Reynard" ucapku mencoba memecah keheningan setelah kesekian menit mengumpulkan keberanian.
Tak lama Abi kemudian menyapa ukuran tangan Reynard, mereka saling berjabat tangan. Denyut jantungku berangsur normal ketika melihat ini. Mereka lalu bertukar nama, berbicara dengan bahasa Inggris yang sebagian besar dapat ku mengerti.
Tak lama mereka bicara, Abi lalu berpamitan padaku juga Reynard, katanya ia harus kembali ke hotelnya. Setelah ia pergi, aku dan Reynard berjalan menuju tempat tujuan, namun aku tak tau dimana itu.
Kami berjalan beriringan di sisi jalan. Hari ini tak begitu dingin, cahaya matahari juga sudah menyengat menambah kesan hangat. Gumpalan-gumpalan es yang berserakan di sisi jalan juga sudah mencair membentuk genangan air yang juga tak bertahan lama.
"Sebenarnya kita mau pergi kemana?" Tanyaku memecah keheningan.
Ku lihat ia tersenyum, pandangannya masih tetap lurus kedepan.
__ADS_1
"Wall of Love" jawabnya santai.
"Apa?" Kataku spontan.
Ia menghentikan langkah kakinya, aku juga ikut berhenti.
"Wall of Love" dia mengulang kalimatnya lagi. Namun, aku masih tak mengerti apa sebenarnya maksud yang ia katakan. "Sudahlah, nanti juga tau" lanjutnya sambil berjalan mendahuluiku.
Ia lalu berhenti di sisi jalan, aku mengikutinya. Sudah dapat ku pastikan, ia sedang menunggu taksi lewat. Apakah tempatnya jauh? Sehingga mengharuskan naik taksi?
"Jauh?" Tanyaku padanya.
Ia lalu menatapku sambil tersenyum. "Nggak kok" jawabnya singkat.
"Lalu mengapa naik taksi? Biasanya kita jalan kaki?" Tanyaku lagi.
"Bukankah waktu itu berharga?" Seketika aku dibuat terdiam olehnya. Dari sini aku suda mengertibaoa yang ia maksud. Aku sadar diri, aku ini memang tidak peka. Lalu emath datang darimana, tiba-tiba saja ada satu tarikan dinhati yang membuatku mengulurkan senyum walau itu samar. Sebisa mungkin aku berusaha menyembunyikannya.
Setelah sekian menit menunggu, akhirnya kendaraan yang kami tunggu itu berhenti di depan kami. Dengan sigap Reynard membukakan pintu temlat duduk belakang untuk ku, aku lalu masuk diikuti olehnya.
Mobil taksi ini lalu melaju di atas jalanan yang agak licin, karena bekas-bekas turun salju kemarin malam masih menempel disana. Hari ini jalanan sangat ramai, bahkan ketika lampu merah menyala mungkin ada ratusan orang yang menyebrang dari sisi jalan ke sisi yang lain. Tadi juga sempat mengalami kemacetan, namun tak lama semua kembali normal. Reynard bilang, mulai hari ini memang semua pekerja kantor sudah aktif, setelah sekian hari libur karena masuk musim dingin.
Sekitar 25 menit menempuh perjalanan dari apartemen, akhirnya kami sampai pada tempat tujuan. Setelah turun dari taksi sebenarnya aku masih bingun, tantau yang mana tempatnya. Karena begitu banyak orang Yanga da di sekitar sini, di tambah lagi bangunan-bangunan klasik yang bagi mataku sudah tak asing lagi, sangat sulit membedakan mana yang tempat kunjungan dengan mana yang hanya sebuah penginapan atau apapun itu.
Aku berjalan di belakang Reynard, mengikuti langkah kakinya yang panjang. Apalah daya, aku yang sedari tadi berusaha untuk mengikutinya walau dengan lari-lari kecil karena jujur, menurutku ia berjalan terlalu cepat dengan kaki panjangnya itu.
__ADS_1
Setelah kesekian kaki menapak di bumi, akhirnya kami berhenti di satu titik. Aku dan Reynard berdiri tepat di depannya, aku tak mengedipkan mata sama sekali, mulutku terbuka ketika melihat ini, kepalaku mendongak ke atas seolah tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Sesuatu yang sederhana namun sanggup membuat siapapun terpukau oleh kesederhanaannya.