
"Sudah semua kan?"
"Sudah Bah"
"Ya sudah ayo masuk!"
Hari ini, ya hari ini adalah hari dimana aku akan berangkat ke luar negeri. Meninggalkan kota tua bersejarah ini, meninggalkan Abah dan Ummi. Aku masuk ke dalam mobil yang disewa Abah, diikuti Abah dan Ummi.
Ku kira Abah dan Ummi akan mengantarku sampai gang dan menungguku sampai aku naik bus sendiri saja, namun ternyata Abah dan Ummi mengantarku langsung ke bandara. Aku semakin terharu, ingin rasanya aku menangis, tapi tidak pantas rasanya jika aku menangis di depan mereka.
Sepanjang perjalanan ke bandara, kedua tanganku terus saja menggenggam tangan Abah dan Ummi, rasanya begitu berat ketika akan meninggalkan mereka. Hatiku bergemuruh ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan, sejenak air mataku mengambang di pelupuk mata, namun aku menahan sekuat tenaga supaya tak menumpahkannya.
Oh, Allah, tolong jagalah kedua orang tuaku selama aku berada jauh dari mereka, dekatkanlah hati mereka kepadaku Ya Rab.
"Zulfa!"
Sapa Abah membuyarkan lamunanku, aku melihat mata lelaki itu begitu teduh, terdapat banyak kasih sayang di dalamnya.
"Eh iya Bah?" Sahutku.
"Ngapain ngelamun?"
"Ng.. nggak kok"
Aku mendengar Abah tertawa kecil, aku memalingkan wajah. Tak sanggup menatap wajahnya. Nanti aku nangis lagi.
Sebenarnya bukan hanya Abah dan Ummi yang mengantarku, ada Kak Aneeta dan sekertarisnya, Luluk, dan Dian juga. Tapi mereka tidak satu mobil denganku, mereka berada di mobilnya Kak Aneeta.
Aku melihat ke belakang, Daris ana aku melihat mobilnya Kak Aneeta mengikuti mobil yang ku tumpangi dari belakang. Duh rasanya aku ingin perjalanannya lebih lama lagi, namun jarak dari rumah untuk sampai ke bandara internasional hanya memakan waktu kurang dari satu jam saja, rasanya aku ingin berlama-lama hanya untuk bersama Abah dan Ummi.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, kini mobil sudah terparkir di parkiran. Kami satu per satu keluar, Abah dibantu pak supir mobil mengeluarkan beberapa koper dan tasku dari bagasi. Kami mulai berjalan menuju bandara.
Sebenarnya jam penerbangan ku masih 2 jam lagi, tetapi Kak Aneeta bilang akan lebih baik jika menunggu lebih awal, supaya tidak ketinggalan check-in atau bahkan pesawat.
Sambil menunggu waktu check-in kami sempat mengobrol di salah satu bangku yang tersedia di sekitar bandara. Abah memberiku pesan-pesan berkesan, karena sejatinya ini penerbangan pertamaku. Tapi aku sedikit risau.
"Nggak perlu khawatir Fa! Aku tau bahasa Inggris mu lancar, jadi itu memudahkanmu untuk berkomunikasi" sahut Luluk yang duduk di sebelah Ummi. Aku tersenyum getir. Setengah jam kami berbincang, akhirnya datang waktunya ketika aku harus berpisah dengan mereka.
"Sudah ada panggilan untuk check-in" kata Abah dengan wajah teduhnya. Senyumku seketika memudar, rasa ini kembali hadir.
Aku memeluk Abah dan mencium tangannya, begitu juga dengan Ummi, aku memeluknya dengan erat.
"Jaga diri, jaga kesehatan, jangan lupa selalu memberi kabar ya!" Amanah Ummi padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Walau senyumku palsu.
"Hati-hati ya, kabari aku jika ada masalah, maaf aku tidak bisa ikut" ucap Kak Aneeta sambil memegang kedua pundak ku.
"Fa! Jangan lupa oleh-olehnya, hihihi" kata Luluk sambil cengengesan. Aku memeluknya. Baru seminggu yang lalu ia mengatakan hal yang mengejutkan bagiku. Rasanya tak percaya jika temanku yang kekanak-kanakan ini akan segera menikah dengan pilihan hidupnya. Aku akan selalu mendukungnya.
"Sudah sana pergi, bawa kebanggaan untuk Abah dan Ummimu ini" ucap Ummi sambil mengelus kepalaku.
"Abah hanya pesan, dimana pun kamu berada jangan lupa arah kiblatmu Nduk!" Lagi-lagi Abah membuatku seolah tertohok. Kata-kata Abah terlalu berbobot untuk ku dengar. Aku mencium tangan mereka sekali lagi, lalu aku pergi ke tampat check-in.
Berat rasanya langkah kakiku. Namun, ini harus ku lakukan. Oh, Allah, kuatkanlah aku.
Aku mulai menyambung antrian untuk check-in, sesekali aku melihat ke belakang, masih kudapati kedua orang tuaku disana. Mereka sama sekali tak pernah mengendurkan senyumnya ke arahku. Sampai tiba waktunya aku melakukan check-in.
Setelah selesai, aku melambaikan tangan kananku ke arah mereka, Abah dan Ummi membalasnya dengan lambaian pula. Sampai aku tenggelam di balik pintu. Tak lagi melihat mereka.
Sambil menunggu keberangkatan pesawat, aku menunggu di waiiting room dengan menikmati sebotol cappuccino. Mataku menggerayangi seluruh bagian bandara. Baru kali ini aku masuk bandara, dan akan naimoesawat untuk keluar negeri.
__ADS_1
Disini saja sudah deg-degan, apalagi apabila nanti sudah sampai di negara pusat mode dunia itu. Waah, imajinasiku sudah kemana-mana.
Tujuanku di sana hanyalah melaksanakan tugasku, jika diizinkan Allah aku akan membawa kejutan dari sana, Insyallah. Allah telah mengizinkanku menginjakkan kaki di bandara ini, sebentar lagi aku akan berada di negeri orang, aku berdoa semoga Allah menjagaku ketika berada di sana.
Tak terasa panggilan untuk maskapai yang aku tumpangi menggema, orang-orang dia sekitarku mulai berdiri, aku pun ikut berdiri.
Bismillah.
Aku mulai berjalan menuju gate, di sekitarku ada banyak orang, hanya sedikit yang memakai jilbab sepertiku, penumpang wanita yang lain tidak. Aku menarik merapatkan jaket tebal ku untuk membungkus tubuhku.
Satu per satu penumpang mulai masukkabin pesawat, begitu juga denganku. Aku mengingat-ingat nomor tempat duduk ku, kepala dan mataku menjelajah seluruh kabin. Akhirnya ketemu. Aku mendapat tempat duduk di window seat, tepat di samping jendela.
Aku bisa melihat lukisan Sang Maha Kuasa dari sini. Setelah sekian lama, akhirnya pesawat bersiap untuk terbang. Inagtanku masih sempat kembali pada Abah dan Ummi, tanpa restu mereka aku tak akan pernah berada di sini.
Jadi ingat selepas aku check-in, salah satu koperku terjatuh saat akan di bawa ke bagasi, ada seorang petugas bandara yang membantuku, dia baik sekali, sampai-sampai berniat untuk membantuku meletakkan koperku.
aku duduk di samping seorang nenek yang memakai kacamata, sempat kita berbicara sebelum pesawat lepas landas.
"Dari kota mana nak?" tanya nenek itu.
"Oh dari Jakarta Selatan nek, kalau nenek?"
"Saya dari Depok, mau ke Prancis jenguk anak saya, dia baru saja melahirkan kemarin" jelas nenek itu sambil tersenyum. Aku sedikit terkejut dengan pernyataan Nenek yang ada di sampingku ini, kasih sayang seorang ibu memang tiada Tara, sampai-sampai rela pergi ke luar negeri di usia rentan hanya demi menjenguk anaknya. Subhanallah.
Aku mulai tak berani bicara ketika Nenek itu mengalihkan perhatiannya terhadap sebah majalah yang ada di tangannya. aku menyenderkan kepalaku ke sisi kananku, menatap ke luar jendela.
hah, jadi rindu dengan Abah dan Ummi.
Aku tersenyum samar, lamunanku buyar ketika seorang pramugari menegurku untuk memasang seatbelt, aku terlalu kik kuk. Tak alam setelahnya pesawat meluncur.
__ADS_1
Bismillah, semoga Allah melindungiku.